Thursday, 17 September 2015

Disaat Semuanya Telah Menghilang


“Ao ... ci ... ci ... cuit ...!”
“Iih ... namaku itu Cika ... C.I.K.A, Cika.”
“He ... he .. he ... Ci ... ci ... cuit marah!”
Sahabatku ini memang sering membuat aku jengkel  karena dia selalu memanggil aku ‘ci ... ci ... cuit.”
Waktu itu aku begitu heran dengannya, dia kelihatan begitu bahagia dan begitu ceria.
“Kamu baru dapat arisan ya?”
“Bukan dapat arisan Cika, tapi aku udah dapet nomor HP nya.” Kata dia sambil berjingkrak-jingkrak.
“Dia siapa sich?” tanyaku.
“Cewek itu loh cik, yang kemarin itu.” Katanya menjelaskan.
“Oh Risti maksudnya?”
“Yups ... You’re right!”
Cowok keren yang mempunyai nama Agung ini benar-benar tak seperti biasanya. Semenjak dia mengenal cewek bernama Risti, dia menjadi anak yang banyak bicara dan selalu ceria. Semenjak itupun dia tak pernah absen SMS dan telephon. Selama ini perhatian orangtuanya sangat kurang sehingga membuat dia terpuruk dan tertutup. Kepadaku saja, dia nggak mau cerita, dia Cuma bilang kalau setiap hari dia selalu kesepian.
Masih teringat dibenakku, waktu itu saat Agung hendak mau pergi dia terkejut dan senang saat ayahnya menanyakan kemana dia mau pergi. Karena baru kali ini ayahnya peduli dengannya.
“Mau ke rumamh temen, yah, memangnya ada apa?”
“Awas... sepedahnya, sekarang banyak rampok.” Jawab ayah.
Jawaban ayahnya membuat raut muka Agung berubah menjadi kusut karena kecewa, kalau ternyata sepedah yang lebih penting dari pada anak kandungnya sendiri.
“Ya sudah yah, Agung berangkat dulu. Assalamualaikum!” dengan begitu hormat dia berpamitan.
Aku memang beruntung mempunyai sahabat sesabar itu, setulus dan sebaik dia.
Hari demi hari telah berlalu, class meetingpun tiba. Waktu itu tepatnya hari Sabtu. Agung mengajak kabur teman-temannya pagi-pagi. Karena pagi itu juga dia mau ke sekolah Risti dan mau nembak Risti. Agung yakin kalau ini kejutan buat teman-temannya, karena selama ini mereka selalu menyuruhnya mencari pacar. Setelah lima jam dia menunggu, akhirnya pagar sekolah Risti dibuka. Dengan senyum manis dia menyambut kedatangan Risti. Setelah itu mereka ngobrol, tapi belum sempet dia melakukan penembakan, salah satu sahabat Agung malah minta kenalan dan dia bilang kalau dia suka Risti. Agung begitu terkejut setelah mendengar pernyataan Didik. Seketika membuat Agung terdiam membisu, dia menjadi bingung siapa yang harus dipilih ‘sahabat atau cewek?’. Dan semenjak itu Agung berubah seperti dulu lagi yang pendiam dan suka murung. Pagi itu, dia bermaksud akan mengatakan yang sejujurnya kalau Risti adalah cewek yang selama ini dia suka. Tapi baru saja sampai di kelas “Gung, kemarin aku telpon Risti. Dia anaknya baik ya?” kata Didik senang sekali. disaat itupun Agung tambah bingung, tapi bagaimana dia berani untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Dik, kamu tau nggak, siapa yang selama ini aku suka? Siapa yang selama ini aku banggain, dia itu Risti. Aku suka dia mulai dari dulu!” dengan hati-hati Agung mengatakan.
“APA ....???” kata Didik dengan nada tinggi.
“Dus ....” tiba-tiba tangan Didik mendarat di muka Agung.
Agung jatuh tersungkur di lantai sambil bertanya “Apa salahku?”
“Kamu itu sahabat apa Gung, aku kan sahabatmu. Kenapa sih kamu tega mau ngrebut Risti dari aku. Kamu itu egois Gung.” Didik terus mencaci maki Agung tanpa henti.
Keributan pun terjadi, tidak ada satupun yang bisa menghentikan emosi Didik, Agung terus dipukuli, tapi dia tak pernah membalas pukulan Didik. Kejadian tersebut diketahui oleh salah satu guru dan membuat mereka diskors selama satu minggu. Setelah mendengar keputusan itu, Agung begitu takut untuk pulang karena dia yakin ayahnya pasti marah besar. Tapi, hari semakin sore Agung bingung kemana tujuannya, karena semua sahabatnya benci padanya, membuat dia terpaksa harus pulang kerumah.

Dengan perasaan takut dia memberanikan diri. Baru saja sampai di depan rumahnya, dia melihat banyak orang.
“Ada apa ini dirumah kok ada bendera kematian?” tanya dia dalam hati
Semua itu membuat Agung tak mengerti apa yang terjadi dalam hidupnya. Berjalan pelan-pelan dia masuk rumah, didalam rumah dilihatnya seseorang berbaring diatas sebuah dipan yang seluruh tubuhnya ditutup kain putih.
“Siapakah dia?” dengan penasaran dia bertanya dalam hatinya.
Semakin dia mendekat dan dengan perlahan dia membuka kain putih itu untuk mengusir rasa penasarannya.
“Ibuuuuuu.” Dengan suara sangat keras dibarengi dengan air mata yang mengalir sambil memeluk orang dibalik kain putih itu. Ternyata itu adalah ibu Agung yang selama ini menderita kanker Rahim yang tak pernah diceritakan pada putranya itu.
“Ibu ... ibu ... ibu ... kenapa ibu harus ninggalin Agung secepat ini. Disaat Agung masih belum bisa buat ibu bangga. Agung tau kalau ibu memang jarang perhatiin Agung tapi Agung tau kalau ibu sayang sama Agung, begitu juga Agung bu.” Dengan terus menangis dia terus memeluk ibunya erat-erat seakan tak ingin melepaskan pelukannya.
“Kenapa orang yang aku sayang ninggalin aku?”
Dia merasa hidupnya nggak adil dan dia juga merasa kalau hidupnya tak berarti lagi.
“Aku ingin bahagia, walaupun itu hanya satu sekejab


Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Desember 2007

MAMPUKAH DIA BERTAHAN



          Randy adalah cowok malang yang sedang berjuang melawan penyakit dalam tubuhnya. Setiap hari hanya berdoa yang bisa dia lakukan. Cowok angkuh dan pemarah yang sering di  panggil “macan” oleh teman-temannya ini, sebenarnya dia mempunyai hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Hanya saja ke adaan yang membuat dia cepat naik darah. Dia marah pada dirinya sendiri.
          “Kenapa aku sakit seperti ini Tuhan? Mengapa tak seperti yang lain.” Hanya pertanyaan seperti ini yang selalu ada dibenaknya.
          “Aku tau mungkin ini hukuman dari mu Tuhan! Aku sadar sekarang aku sudah memetik buah yang aku tanam sendiri! Aku menyesal!”
          Cowok pemalu dan pendiam ini sudah mengenal minuman keras dan rokok sejak kelas 1 SMP. Menurut dia, hanya mereka yang bisa menemani apabila dia kesepian, mereka yang membuat dia tenang, dan bisa melupakan semua masalah.  Itu semua diakibatkan karena kurangnya perhatian dari orangtuanya.
          “Bu, Randy sekarang sakit dan mungkin Randy nggak akan sembuh. Bila besuk atau lusa, ibu jangan menangis ya! Kalau ibu nangis, Randy nggak akan bisa tenang perginya.” Dengan tersenyum dia mengatakan pada ibunya.
          “Maafin ibu ya Ran? Ibu janji mulai sekarang ibu akan selalu menemani kamu!” sambil memeluk anak bungsunya itu.
Randy yang sudah benar-benar pasrah dengan keadaannya ini, sebenarnya suka pada seseorang. Tapi karena sakit yang menggerogoti tubuhnya membuat dia minder dan nggak PeDe. Rika si cewek itu. Usianya memang lebih tua dari Randy. Tapi, Randy merasa cocok sama cewek itu, meskipun kenal baru satu bulan. Mereka memang sangat dekat, bahkan terkadang Rika menemaninya seharian.
Pada waktu itu, tiba-tiba Randy jadi sulit banget diajak check up ke dokter. Bahkan minum obatpun dia harus dipaksa dulu, membuat kedua orang tuanya mengkhawatirkan Randy.
          “Rand, tadi ayah ditelphon dokter. Beliau bilang kalau Randy harus rajin check up agar kamu cepat sembuh.” Bujuk ayah.
          “Percuma yah kalau randy check up, Cuma buang-buang uang aja. Lebih baik uangnya dibuat biaya kuliah kakak. Lagian Randy nggak akan sembuh.”
          “Hidup dan mati itu sudah di tentukan sama yang di atas jadi kita nggak boleh mendahului kuasanya, yang penting usaha. Allah membenci umatnya yang putus asa. Allah selalu menolong orang-orang yang mau berusaha.” Hibur sang ayah.
          Karena malam itu penyakit Randy kambuh, terpaksa orang tua Randy membawanya ke Rumah Sakit Soetomo. Setelah dua hari dia dirujuk di rumah sakit tersebut yang terletak di kota Surabaya untuk perawatan intensif. Randy mengidap kanker darah atau Leukimia, penyakit yang diprediksi selalu mematikan.
Randy selalu minta pulang walau baru satu minggu dirawat. Dia merasa sangat kesepian. Nggak ada satupun sahabat yang menemaninya.
          “Yah, ibu. Randy mau pulang. Randy kangen sama temen-temen.”
Karena Randy terus memaksa akhirnya mereka cek out dari rumah sakit. Sesampai di rumah teman-teman Randy berkumpul untuk memberikan semangat. Semenjak itu Randy nggak bisa apa-apa. Dia hanya bisa terbaring di tempat tidur, kondisinya semakin lemah. Pada suatu malam, “Rika, Rika, Rika ...” Randy mengigau memanggil nama Rika dan tak sengaja ibu mendengarnya.
          “Siapa Rika?” tanya ibu dalam hati.
          Keesokan harinya beliau bertanya pada salah satu sahabat Randy, Andi. Setelah itu di ajaknya Rika ke rumah Randy.
          “Ini yang namanya Rika?” tanya ibu Randy.
          “Iya ...” jawab Rika.
          “Saya minta tolong ya, support Randy! Agar dia punya semangat lagi.”
Semenjak ucapan dari ibu, setiap hari Rika menjenguk Randy. Dia selalu menemani Randy dan semua itu membuat Randy semakin berharap.
          “Rika boleh nggak aku ngomong sesuatu?”
          “Ngomong aja!”
          “Kamu mau nggak jadi pacarku?!”
Rika bingung setelah mendengar permintaan Randy, disatu sisi Rika menganggap Randy hanya sebatas adik sendiri. Sedangkan disisi lain, dia sudah punya pacar.
          “Aku butuh waktu Rand.”
Tiga hari tlah berlalu, akhirnya Rika berani mengambil keputusan untuk menerima Randy.          “Dengan kondisi seperti itu. Aku tak bisa menolak. Takut kondisi Randy semakin parah.” Ucap Rika dalam hati yang siap menerima resiko. Karena menurutnya, membuat orang sempurna orang yang kekurangan merupakan perbuatan mulia.
Mulai hari ini Randy mulai mempunyai semangat hidup lagi, meskipun dia hanya terbaring ditempat tidur, setidaknya dia punya keinginan untuk sembuh. Semua itu membuat keluarganya senang dan lebih yakin kalau Randy bisa sembuh, tapi “Mampukah Dia Bertahan?” hanya itu yang bisa dikatakan semua orang.

Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Desember 2007

Cinta yg Tertunda



       Begitu bahagia aku yang mengenalnya, begitu beruntung aku yang telah dampingi hidupnya, begitu beruntungnya aku yang telah dampingin hidupnya, begitu beruntung aku yang telah mendapatkan cintanya. Aku selalu berharap aku selalu ada disisinya. Genap sudah satu tahun aku menjadi pacarnya, waktu yang tak singkat untuk mengenal seseorang secara jelas dan gamblang. Mungkin hari ini aku tak pulang ke rumah, aku ingin menghabiskan waktu bersamanya menikmati indahnya hari-hariku bersamanya. Begitu semangat aku berlari menuju gerbang sekolah menanti bus sekolah tiba. Tersenyum aku membopong tas sekolahku. Aku begitu terburu-buru sampai aku lupa berpamitan dengan teman-teman kesayanganku. Dari belakang aku dengar teriakan Nensi dengan kencang, ya aku lupa kalau pulang sekolah aku selalu bersamanya.
          “Kak, tunggu aku! Aku mau bareng sama kamu!”
          “Cerewet, ayo cepet aku udah keburu-buru!”
          “Emang mau kemana sih!!”
          “Ya biasa aku mau ngapel, sekarang kan tanggal jadianku dengan Amel.”
          “Huuuuu.”
Akhirnya kami melanjutkan langkah kami menuju gerbang sekolah. Dan tak lama ada bus yang lewat kamipun pulang. Sesampainya dirumah aku langsung meletakkan tasku, ganti baju serta tak lupa untuk sholat.
          “Mau kemana Ka’?”
          “Aku mau maen bu’!”
          “Sama siapa? Maen melulu seperti ngga’ betah dirumah!”
Aku tak hiraukan kata-kata ibu, aku terus melahap rujak yang dibelikan ibu di warung mbah Jah.
          “Bapak mana bu? Kok belum pulang?”
          “Belum toh, emang ini jam berapa?”
Syukur bapak belum pulang, aku bisa keluar sma Amel. Setelah berpamitan aku langsung pergi ke rumah mas Jaka untuk pinjam sepedah. Di depan pintu mas Jaka meletakkan motor kesayangannya, meski nggak bagus tapi lumayan buat jalan-jalan. Mungkin mas Jaka udah tau motornya mau tak pake jalan-jalan sama Amel, mas Jaka begitu baik sama aku meski dia Cuma kakak ipar tapi dia udah kayak kakak kandungku. Dengan tersenyum mas Jaka menyambutku dan memberikan kunci motornya. Tak banyak waktu, aku langsung berangkat ke rumah Amel yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah mas Jaka. Sesampai di rumah Amel, aku beri tanda dengan menekan klakson motor sambil berhenti di depan pintu rumahnya. Tak lama ibu Amel keluar karena adat istiadat jadi terpaksa aku masuk ke rumahnya.
          “Amel masih di dalam, di suruh bikin teh manis buat bapaknya, mas Kakanya tunggu dulu aja bentar lagi juga selesai.”
          “Iya bu makasih.”
Aduh mati aku kenapa aku begitu grogi, nggak biasanya begini. Aduh, Amel mana sih kok lama banget. Aku udah nggak sabar pengen ketemu dan ngucapin.
          “Mas, kita berangkat sekarang?”
          “Iya, aku pamitan dulu.”
Setelah aku berpamitan dengan ibunya Amel, kami langsung berangkat.
Sambil tersenyum aku berjalan menuju motorku yang aku parkir di depan rumah Amel. Walau tak tau tujuan mungkin hanya sekedar putar-putar hanya sekedar menghabiskan bensin yang penting aku senang bersama Amel. Dan akhirnya kita ke kolam renang, aku harap tempatnya romantis agar aku bisa ngomong sesuatu dengan Amel.
          “Mel, aku mau ngasih kamu sesuatu!”
          “Sesuatu apa? Kan kadonya udah mas titipin kemarin.”
Walau sulit untuk mengungkapkannya yang penting aku berusaha dulu masalah ditolak atau diterima itu urusan belakang.
          “Kamu dengar baik-baik ya!.
          Mata itu berikan aku jawaban
          Mata itu berikan aku kepercayaan
          Karena mata itu aku terpikat
          Karena mata itu aku terpesona
          Tapi ...
          Karena kemurnian cintamu
          Karena ketulusan hatimu.”
Puisi itu aku belajar dari Nensi di sekolah tadi.
          “Mas Kaka ini orangnya nggak romantis tapi pinter ngambil hatinya cewek.”
          “Termasuk kamu kan.”
Amel hanya tersenyum menanggapi semua kata-kataku. Kamipun berbincang-bincang hingga kami tak sadar hari begitu cepat berlalu hingga mulai kelam. Kamipun pulang karena aku tak ingin mengecewakan ibu Amel, tetap jaga kepercayaan maklum calon mertua, amin. Dalam perjalanan pulang aku selalu berharap agar aku tetap bisa bersamanya.
Setelah mengantar Amel sekarang giliran aku untuk pulang. Sembari ku kemudikan motorku, mengingat kenangan bersama Amel tadi membuatku tersenyum sendiri. Menuju rumah mas Jaka. Aku lihat mbak dan mas sedang duduk di depan rumah bersama anak mereka, sungguh indah kebahagiaan mereka. Membuatku berkhayal tentang masa depan kelak saat aku sudah berumah tangga.
Hari itu adalah hari yang paling membuat aku bahagia, 9 September. Ternyata ibu dan bapak sudah menungguku dirumah, sepertinya ada hal penting yang ingin mereka katakan padaku membuatku sedikit was-was dan takut ketahuan kalau aku berpacaran dengan Amel.
          “Kaka, habis sholat bapak sama ibu mau bicara.”
          “Iya pak.”
Tak seperti biasanya bapak dan ibu begini. Aku bingung dan sholat ku nggak khusuk. Keluar nggak ya...? kalau aku keluar takut dimarahi. Dengan terpaksa akupun keluar kamar.
          “Apa pak?”
          “Dari mana kamu.”
          “Maen, pak.”
          “Ka, bapak pingin kamu seperti anak pak dhe mu, yang bisa sukses! Kamu tau kenapa? Karena dia di sekolahnya rajin, niat dan nggak pacaran dulu.”
          “Iya pak”
          “Ya wis tidur sana. Biar besuk ndak capek!”
Aku merasa bapak dan ibu tau tentang aku dan Amel. Dalam kamar aku terus berfikir, apa yang harus aku perbuat jika orang tuaku tidak menyetujui hubunganku dengan Amel, aku mencintai Amel karena itu aku ingin bersamanya. Tak lama ibu masuk ke kamarku dan menanyakan tentang hubunganku dengan Amel, aku terkejut ketika ibu bercerita tentang silsilah keluarga Amel dan yang paling membuat aku terkejut saat itu bilang menyetujui hubunganku dengan Amel.
          “Lain kali sering-seringlah ajak Amel ke rumah asalkan tidak ketahuan bapak.”
Persetujuan ibu membuatku lega. Sejak saat itu aku sering cerita tentang Amel. Saran dari ibuku boleh pacaran asalkan jangan lupa kan kewajiban terutama jangan sampai menganggu pelajaran sekolah.
Satu hari tlah berlalu setelah hari indah itu bersama Amel. Tak biasanya Amel memintaku untuk ke rumahnya, aku bersama Aan teman sekolahku.
          “Motor siapa itu yang parkir di depan rumah Amel, sepertinya motor seorang cewek.”
Tak lama setelah aku berhenti di depan rumah Amel, ia keluar bersama temannya dan dia adalah pemilik motor itu. Hari itu aku sedang bad mood dan aku menolak ajakan Amel untuk jalan-jalan, hari sudah sore rumah Aan pun jauh. Dua hari setelah kejadian itu aku dan Amel bertengkar hebat. Di sekolah aku tidak bisa berkonsentrasi karena memikirkan hubunganku dengan Amel yang mengambang tanpa kejelasan,
          “Sebaiknya kamu putus saja dengan Amel.” Saran Aan.
Aku berpikir juga mungkin itu ada benarnya karena selama ini aku selalu sedih. Sore harinya tanpa ku pikir panjang aku menemuinya dan memutuskan hubungan ku dengannya. Amel terkejut dengan kata-kataku dan ia bersikeras untuk mempertahankan hubungan kami ini, meski pertengkaran hebat selalu menerpa. Sehabis Adzan maghrib aku membawanya ke rumah mas Jaka dengan bermaksud menjelaskan semuanya. Aku ajak dia masuk ke dalam dan mengajaknya sholat dengan harapan agar emosinya cepat reda. Setelah kami sholat aku menunggunya selesai berdoa. Aku terkejut setelah aku lihat bapak ada di ruang tamu.
          “Sepedah siapa ini Ka?”
          “Punya Amel pak.”
          “Dimana dia sekarang.”
          “Masih sholat.”
Aku begitu ketakutan saat melihat wajah bapak sudah ingin marah. Tak lama Amel keluar dari kamar selesai sholat.
          “Amel, duduk sini aku mau bicara!”
Sambil tersenyum menyembunyikan wajahnya yang merah karena habis nangis.”
          “Mel,, bukan bapak tidak suka dengan kamu, tapi saya mohon jangan ganggu Kaka karena bapak pingin Kaka berhasil, fokus dulu dengan sekolahnya. Kamu sendiri tau kan bagaimana kondisi bapak sekarang, susah, jadi bapak ingin kamu jauhi Kaka!”
Suasana menjadi sunyi seketika dengan kata-kata bapak tadi. Sepertinya Amel ingin menangis lagi.
          “Pak, aku dan Amel sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi bapak nggak usah khawatir lagi.”
Setelah kejadian itu Amel nggak pernah ganggu aku dan justru aku sekarang yang sering gangguin Amel.

Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Oktober 2006

Tenyata Cewek Itu ...



            “Hai guys liburan sudah tiba. Apa rencana kalian?” sapa Rizky pada dua sobatnya.
            “Tau ah, paling-paling gue Cuma tidur di rumah doang, sambil refresing gitu.” Sahut Helmi yang bertubuh gembul.
            “Ye yang loe pikirin kalo nggak makan ya tidur. Itukan kerjaan loe tiap hari.” Ejek Andri.
            “Ih sirik aja loe sama gue.”
            “Udah-udah, gue kesini cuma bahas liburan kita. Otak gue udah penuh dijejali semua mata pelajaran. Lama-lama bisa strees gue.”
            “Bener juga kata loe.” Helmi menggaruk kepalanya yang kelihatannya tidak gatal.
            “Terus liburan kemana donk?”
            “Makanya dengerin gue ngomong. Gue tadi kesini cuma mau ngajak kalian berlibur di villa bokap gue. Bukan mau dengerin kalian bertengkar.”
            “Gue sich mau-mau aja. Kalau loe gimana Hel?”
            “Gue sich mau banget. Tapi ...” sesaat Helmi terdiam. Tentu saja Rizky dan Andri heran.
            “Tapi kenapa?”
            “Tapi kalian bisa masak nggak? Soalnya kita-kita ini kan cowok. So aku nggak mau donk makan, masakan yang nggak enak karena kita nggak bisa masak.”
            “Dasar gembul yang dipikirin cuma makanan melulu. Kita nggak perlu masak karena pak Ujang yang menjaga villa itu sama bi’ Sum istrinya. Lagian masakan bi’ Sum senak kok.”
            “Oke deh aku setuju.”
****

            “Loh ini mas rizky kan? Udah lama mas Rizky nggak kesini. Mari silahkan masuk mas!” sambut perempuan 40 tahun saat mereka sampai di Villa Rizky.
            “Iya nich. Abis Rizky sibuk sama sekolah. Oiya bi’, kenalin ini Andri dan Helmi temen Rizky yang akan menemani rizky saat liburan disini selama 5 hari. Mana pak Ujang kok nggak kelihatan?”
            “Bapak ada dibelakang.”
            “Pak mas Rizky udah datang nich.” Datanglah pak Ujang dengan tergopoh-gopoh.
            “Oh, mas udah datang rupanya. Sini bapak bawain barang-barangnya.”
            “Makasih, pak.”
            “Oh iya pak , rumah di depan kok sepi banget emangnya nggak ada penghuninya yah?” tanya Andri sambil menunjuk ke rumah yang terlihat sepi.
            “Rumah itu memang kosong. Memangnya kenapa?”
            “Ah, enggak. Cuma heran aja rumah bagus begitu kok nggak ditempati.”
            “Namanya aja rumah kosong.”

            Malam terasa lengang. Entah kenapa Andri tidak bisa tidur. Dia hanya memandangi langit yang bertaburan bintang-bintang dari jendela kamar atasnya. “Indah kelihatannya,” Andri mengarahkan pandangannya ke dalam rumah kosong itu. Masak cewek malem-malem ada di rumah kosong itu sendirian, batin Andri.
            “Mas Andri! Lagi ngapain disitu?”
            “Eh pak Ujang. Saya nggak bisa tidur, pak. Pak mau tanya, siapa sih cewek itu?” tunjuk Andri.
            “Cewek yang mana sih mas?”
            “loh tadi ada cewek disitu tapi sekarang kok nggak ada yah?”
            “Pasti mas Andri berkhayal dech. Sekarang lebih baik mas Andri tidur aja.” Kata pak Ujang seperti menyembunyikan sesuatu.
            “Tadi pagi?”
            Pak Ujang keluar dari kamar itu.
            “Ugh percuma deh, pak Ujang pasti nggak akan percaya.” Batin Andri.
Dengan kesal ditutupnya jendela kamarnya. Sementara itu sepasang mata melihat kamar Andri dari balik rumah kosong itu sambil tersenyum. Perlahan-lahan sesosok tubuh itu hilang.
            “Ups, sorry.” Keluh Andri ketika tubuhnya menabrak seorang cewek hingga jatuh. Andri membantu cewek itu bangun. Yaa ampun!! Cewek ini cantik banget. Sepasang bola mata yang biru dan rambutnya yang panjang terurai. Pasti deh cewek ini anak Indo, Andri berkata-kata dalam hati.
            “Udah nggak apa-apa,” cewek itu berkata sambil berdiri.
            “Sorry aku nggak sengaja, kenalin aku Andri.” Sambil mengulurkan tangannya.
            “Caroline.”
            “Kamu biasa lari pagi yach?” tanya Andri ketika mereka memutuskan untuk lari pagi bersama.
            “Yup, aku suka banget lari pagi selain dapat menyehatkan tubuh, aku juga senang melihat pemandangan di pagi hari. Oiya kamu temannya Rizky yach?”
            “Kok kamu tau sich?” jawab Andri heran.
            “Kamu juga kan yang kemarin malam memandang bintang-bintang dari lantai atas?”
            “Jadi cewek yang ada di teras rumah kosong itu kamu, Caroline?!. Gila kamu!! Ngapain kamu disitu? Apa kamu nggak takut itu kan rumah kosong?”
            “Ich siapa bilang itu rumah kosong. Emang sich rumah itu kelihatan kosong. Tapi aku yakin pasti ada penghuninya disitu.”
Andri bergidik ngeri. Sedangkan Caroline tertawa terbahak-bahak.

****

            “Hei, mau kemana kamu malam-malam gini?” Helmi heran melihat melihat Andri sudah rapi.
            “Pasti dech mau janjian sama cewek yang kamu kenal waktu lari pagi itukan? Siapa sich namanya kok nggak kasih tau kita-kita?” Rizky menimpali.
            “Iya nich Ndri.”
            “Nama dia Caroline.”
            “Apa ... ? Caroline?”
            “Kenapa Riz, kok kaget banget?”
            “Engg ... Enggak.” Jawab Rizky dengan gugup.
            “Oke dech. Aku cabut dulu yach.”
            “Hei... kenapa kamu kaget dan gugup waktu denger kata Caroline.” Tanya Helmi ketika Andri sudah pergi.
            “Kalau nggak salah diakan temen gue waktu kecil.”
            “Terus apa masalahnya?”
            “Di ... di ... a udah lama meninggal dalam kecelakaan mobil!!”
            “Apa?”
Sementara itu Andri sudah kesal menunggu seorang yang dinanti-nantikan di sepan rumah kosong itu.
            “Hai...” seseorang mengagetkannya dari belakang.
            “Kamu kok lama banget sich, sampai kesal nich aku nunggu kamu.” Sungut Andri kesal setelah tau siapa yang datang.
            “Sorry dech. Kamu jangan marah lagi ya, soalnya aku mau cerita sesuatu sama kamu. Tapi tidak di sini. Tapi di rumah kosongi itu.”
            “Ich nggak ada tempat yang lebih baik lagi apa?”
            “Karena tempat ity ada hubungannya dengan ceritaku ini, makanya aku ajak kamu kesana. Kamu mau kan? Please donk.”
            “Ya udah dech aku mau.”
            Pertama masuk ke dalam rumah itu kesannya kotor dan pengap banget karena sedikit sekali udara yang masuk. Agak seram dan gelap ditangkap oleh Andri. Disudut-sudut rumah ada banyak sarang laba-laba. Tangga yang menuju ke ruang atas sudah hampir rusak karena tak lagi terawat. Heran rumah bagus, mengapa nggak ada pemiliknya, pikir Andri.
            “Rumah ini milik keluarga James, warga negara Belanda. Dia dulu tinggal disini bersama Cindy istrinya warga negara Indonesia dan dua orang putrinya.” Cerita Caroline.

            Caroline mengajak keatas. Memasuki sebuah kamar. Keadaanya tak jauh berbeda dengan ruang bawah, kotor dan pengap. Disitu terdapat sebuah foto kusam yang di dalamnya terdapat seorang laki-laki dengan seorang wanita serta dua gadis.
            “Ini foto James dan itu istrinya. Dan ini dua orang putrinya. Waktu foto ini dibuat yang kecil berumur 10 tahun dan yang besar berumur 13 tahun. Foto ini dibuat 3 tahun yang lalu.” Tunjuk Caroline pada foto itu.
            “Kayaknya aku pernah liat cewek ini dech, tapi dimana? Batin Andri bertanya-tanya.
            “Kamu kok tau semua tentang keluarga James. Apa hubungannya kamu dengan keluarga itu?”
            “Hubunganku dengan mereka sangat dekat dan erat sekali. keluarga mereka sangat harmonis. Tapi sayang...” Caroline menghentikan ucapannya. Rasa marah terlihat dari wajahnya.
            “Tapi kenapa?”
            “Adanya orang ketiga dalam kehidupan  James.” Suara Caroline meninggi dan terlihat marah sekali. Andri heran kenapa dia terlihat marah sekali.
            “Ketika istrinya tau, mereka bertengkar hebat. James lebih memilih wanita simpananya dibanding istrinya. Kedua putrinya mengetahui kalau ortunya akan bercerai. Dan mereka memutuskan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan ortunya.”
            “Terus!”
            “Kejadian na’as menimpa kedua putrinya. Mereka mengalami kecelakaan saat mobil mereka melewati truk. Beruntung putri bungsunya selamat.” Sesaat terlintas kesedihan di wajah Caroline.
            “Bagaimana nasib kakanya itu?”
            “Dia meninggal karena terlalu banyak mengeluarkan darah.”
            “Astagfirullah!!”
            “Sesaat sebelum putrinya meninggal di hadapan ortunya, dia berkata bahwa dia tak menginingkan ortunya berpisah. Dan saat itu juga ayahnya sadar kalau telah melakukan kesalahan. Dia berjanji tidak akan mengkhianati cinta ibunya lagi. Setelah putrinya meninggal, keluarga James pergi ke negara asalnya di Belanda. Agar James tidak terlalu meratapi kematian putrinya yang dia anggap gara-gara kesalahannya.” Sesaat Caroline diam.
            “Tapi sekarang aku senang karena keluargaku sudah kembali harmonis seperti dulu tanpa ada orang ketiga lagi.”
            “Keluarga ... mu? Maksudnya?”
            “Yach karena...”
            “Karena apa?” Andri penasaran.
            “Karena aku adalah gadis itu, putri sulung James yang meninggal dalam kecelakaan itu.”
            Andri ternganga “Apa?? Nggak mungkin, kamu bohong kan Caroline?”
            Caroline hanya tersenyum. Kemudian tampak darah bercucuran dari kepala dan wajahnya. Luka-luka akibat kecelakaan itu bermunculan dari tubuhnya. Andri hanya mampu menjerit. Dalam hitungan detik Andri telah meninggalkan rumah itu.
****
            “Nona Caroline, dia adalah putri dari tuan James dan nyonya Cindy. Dia sudah meninggal satu tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil. Dia gadis yang baik dan periang. Arwah nona Caroline tidak bermaksud menakut-nakuti orang. Dia hanya ingin orang lain tau betapa sedihnya karena dia tak dapat lagi berkumpul dengan keluarganya.” Pak Ujang menjelaskan pada saat mereka berkumpul diruang keluarga.
            “Pak Ujang kok tau?” sela Andri.
            “Dulu saya pernah bekerja pada tuan James. Tapi setelah tuan James kembali ke negara asalnya jadi saya ikut ayah mas Rizky. Jadi saya tau tentang sifat Nona Caroline.”
            “Pantesan waktu aku liat foto keluarganya, aku seperti kenal dengan putri sulungnya, ternyata Caroline.”
            “Caroline dan Carly, mereka adalah temanku waktu kecil. Waktu itu aku sering berlibur ke sini.” Sahut Rizky.
            “Tapi mas Andri nggak kapok kapok kan berlibur kesini.” Goda bi’ Sum.
            “Ya enggaklah bi’.”
            “Ala bilang aja loe takut. Tapi loe pura-pura berani, iya kan? Iya donk? Benerkan?” ejek Helmi.
            “Ih, enggak tuch.”
            Mereka tertawa serempak tanpa mereka ketahui ada seorang yang kasat mata berada diantara mereka. Pemilik mata biru itu ikut tersenyum melihat mereka. Makhluk itu adalah Caroline.
****
Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Oktober 2006