Thursday, 17 September 2015

Tenyata Cewek Itu ...



            “Hai guys liburan sudah tiba. Apa rencana kalian?” sapa Rizky pada dua sobatnya.
            “Tau ah, paling-paling gue Cuma tidur di rumah doang, sambil refresing gitu.” Sahut Helmi yang bertubuh gembul.
            “Ye yang loe pikirin kalo nggak makan ya tidur. Itukan kerjaan loe tiap hari.” Ejek Andri.
            “Ih sirik aja loe sama gue.”
            “Udah-udah, gue kesini cuma bahas liburan kita. Otak gue udah penuh dijejali semua mata pelajaran. Lama-lama bisa strees gue.”
            “Bener juga kata loe.” Helmi menggaruk kepalanya yang kelihatannya tidak gatal.
            “Terus liburan kemana donk?”
            “Makanya dengerin gue ngomong. Gue tadi kesini cuma mau ngajak kalian berlibur di villa bokap gue. Bukan mau dengerin kalian bertengkar.”
            “Gue sich mau-mau aja. Kalau loe gimana Hel?”
            “Gue sich mau banget. Tapi ...” sesaat Helmi terdiam. Tentu saja Rizky dan Andri heran.
            “Tapi kenapa?”
            “Tapi kalian bisa masak nggak? Soalnya kita-kita ini kan cowok. So aku nggak mau donk makan, masakan yang nggak enak karena kita nggak bisa masak.”
            “Dasar gembul yang dipikirin cuma makanan melulu. Kita nggak perlu masak karena pak Ujang yang menjaga villa itu sama bi’ Sum istrinya. Lagian masakan bi’ Sum senak kok.”
            “Oke deh aku setuju.”
****

            “Loh ini mas rizky kan? Udah lama mas Rizky nggak kesini. Mari silahkan masuk mas!” sambut perempuan 40 tahun saat mereka sampai di Villa Rizky.
            “Iya nich. Abis Rizky sibuk sama sekolah. Oiya bi’, kenalin ini Andri dan Helmi temen Rizky yang akan menemani rizky saat liburan disini selama 5 hari. Mana pak Ujang kok nggak kelihatan?”
            “Bapak ada dibelakang.”
            “Pak mas Rizky udah datang nich.” Datanglah pak Ujang dengan tergopoh-gopoh.
            “Oh, mas udah datang rupanya. Sini bapak bawain barang-barangnya.”
            “Makasih, pak.”
            “Oh iya pak , rumah di depan kok sepi banget emangnya nggak ada penghuninya yah?” tanya Andri sambil menunjuk ke rumah yang terlihat sepi.
            “Rumah itu memang kosong. Memangnya kenapa?”
            “Ah, enggak. Cuma heran aja rumah bagus begitu kok nggak ditempati.”
            “Namanya aja rumah kosong.”

            Malam terasa lengang. Entah kenapa Andri tidak bisa tidur. Dia hanya memandangi langit yang bertaburan bintang-bintang dari jendela kamar atasnya. “Indah kelihatannya,” Andri mengarahkan pandangannya ke dalam rumah kosong itu. Masak cewek malem-malem ada di rumah kosong itu sendirian, batin Andri.
            “Mas Andri! Lagi ngapain disitu?”
            “Eh pak Ujang. Saya nggak bisa tidur, pak. Pak mau tanya, siapa sih cewek itu?” tunjuk Andri.
            “Cewek yang mana sih mas?”
            “loh tadi ada cewek disitu tapi sekarang kok nggak ada yah?”
            “Pasti mas Andri berkhayal dech. Sekarang lebih baik mas Andri tidur aja.” Kata pak Ujang seperti menyembunyikan sesuatu.
            “Tadi pagi?”
            Pak Ujang keluar dari kamar itu.
            “Ugh percuma deh, pak Ujang pasti nggak akan percaya.” Batin Andri.
Dengan kesal ditutupnya jendela kamarnya. Sementara itu sepasang mata melihat kamar Andri dari balik rumah kosong itu sambil tersenyum. Perlahan-lahan sesosok tubuh itu hilang.
            “Ups, sorry.” Keluh Andri ketika tubuhnya menabrak seorang cewek hingga jatuh. Andri membantu cewek itu bangun. Yaa ampun!! Cewek ini cantik banget. Sepasang bola mata yang biru dan rambutnya yang panjang terurai. Pasti deh cewek ini anak Indo, Andri berkata-kata dalam hati.
            “Udah nggak apa-apa,” cewek itu berkata sambil berdiri.
            “Sorry aku nggak sengaja, kenalin aku Andri.” Sambil mengulurkan tangannya.
            “Caroline.”
            “Kamu biasa lari pagi yach?” tanya Andri ketika mereka memutuskan untuk lari pagi bersama.
            “Yup, aku suka banget lari pagi selain dapat menyehatkan tubuh, aku juga senang melihat pemandangan di pagi hari. Oiya kamu temannya Rizky yach?”
            “Kok kamu tau sich?” jawab Andri heran.
            “Kamu juga kan yang kemarin malam memandang bintang-bintang dari lantai atas?”
            “Jadi cewek yang ada di teras rumah kosong itu kamu, Caroline?!. Gila kamu!! Ngapain kamu disitu? Apa kamu nggak takut itu kan rumah kosong?”
            “Ich siapa bilang itu rumah kosong. Emang sich rumah itu kelihatan kosong. Tapi aku yakin pasti ada penghuninya disitu.”
Andri bergidik ngeri. Sedangkan Caroline tertawa terbahak-bahak.

****

            “Hei, mau kemana kamu malam-malam gini?” Helmi heran melihat melihat Andri sudah rapi.
            “Pasti dech mau janjian sama cewek yang kamu kenal waktu lari pagi itukan? Siapa sich namanya kok nggak kasih tau kita-kita?” Rizky menimpali.
            “Iya nich Ndri.”
            “Nama dia Caroline.”
            “Apa ... ? Caroline?”
            “Kenapa Riz, kok kaget banget?”
            “Engg ... Enggak.” Jawab Rizky dengan gugup.
            “Oke dech. Aku cabut dulu yach.”
            “Hei... kenapa kamu kaget dan gugup waktu denger kata Caroline.” Tanya Helmi ketika Andri sudah pergi.
            “Kalau nggak salah diakan temen gue waktu kecil.”
            “Terus apa masalahnya?”
            “Di ... di ... a udah lama meninggal dalam kecelakaan mobil!!”
            “Apa?”
Sementara itu Andri sudah kesal menunggu seorang yang dinanti-nantikan di sepan rumah kosong itu.
            “Hai...” seseorang mengagetkannya dari belakang.
            “Kamu kok lama banget sich, sampai kesal nich aku nunggu kamu.” Sungut Andri kesal setelah tau siapa yang datang.
            “Sorry dech. Kamu jangan marah lagi ya, soalnya aku mau cerita sesuatu sama kamu. Tapi tidak di sini. Tapi di rumah kosongi itu.”
            “Ich nggak ada tempat yang lebih baik lagi apa?”
            “Karena tempat ity ada hubungannya dengan ceritaku ini, makanya aku ajak kamu kesana. Kamu mau kan? Please donk.”
            “Ya udah dech aku mau.”
            Pertama masuk ke dalam rumah itu kesannya kotor dan pengap banget karena sedikit sekali udara yang masuk. Agak seram dan gelap ditangkap oleh Andri. Disudut-sudut rumah ada banyak sarang laba-laba. Tangga yang menuju ke ruang atas sudah hampir rusak karena tak lagi terawat. Heran rumah bagus, mengapa nggak ada pemiliknya, pikir Andri.
            “Rumah ini milik keluarga James, warga negara Belanda. Dia dulu tinggal disini bersama Cindy istrinya warga negara Indonesia dan dua orang putrinya.” Cerita Caroline.

            Caroline mengajak keatas. Memasuki sebuah kamar. Keadaanya tak jauh berbeda dengan ruang bawah, kotor dan pengap. Disitu terdapat sebuah foto kusam yang di dalamnya terdapat seorang laki-laki dengan seorang wanita serta dua gadis.
            “Ini foto James dan itu istrinya. Dan ini dua orang putrinya. Waktu foto ini dibuat yang kecil berumur 10 tahun dan yang besar berumur 13 tahun. Foto ini dibuat 3 tahun yang lalu.” Tunjuk Caroline pada foto itu.
            “Kayaknya aku pernah liat cewek ini dech, tapi dimana? Batin Andri bertanya-tanya.
            “Kamu kok tau semua tentang keluarga James. Apa hubungannya kamu dengan keluarga itu?”
            “Hubunganku dengan mereka sangat dekat dan erat sekali. keluarga mereka sangat harmonis. Tapi sayang...” Caroline menghentikan ucapannya. Rasa marah terlihat dari wajahnya.
            “Tapi kenapa?”
            “Adanya orang ketiga dalam kehidupan  James.” Suara Caroline meninggi dan terlihat marah sekali. Andri heran kenapa dia terlihat marah sekali.
            “Ketika istrinya tau, mereka bertengkar hebat. James lebih memilih wanita simpananya dibanding istrinya. Kedua putrinya mengetahui kalau ortunya akan bercerai. Dan mereka memutuskan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan ortunya.”
            “Terus!”
            “Kejadian na’as menimpa kedua putrinya. Mereka mengalami kecelakaan saat mobil mereka melewati truk. Beruntung putri bungsunya selamat.” Sesaat terlintas kesedihan di wajah Caroline.
            “Bagaimana nasib kakanya itu?”
            “Dia meninggal karena terlalu banyak mengeluarkan darah.”
            “Astagfirullah!!”
            “Sesaat sebelum putrinya meninggal di hadapan ortunya, dia berkata bahwa dia tak menginingkan ortunya berpisah. Dan saat itu juga ayahnya sadar kalau telah melakukan kesalahan. Dia berjanji tidak akan mengkhianati cinta ibunya lagi. Setelah putrinya meninggal, keluarga James pergi ke negara asalnya di Belanda. Agar James tidak terlalu meratapi kematian putrinya yang dia anggap gara-gara kesalahannya.” Sesaat Caroline diam.
            “Tapi sekarang aku senang karena keluargaku sudah kembali harmonis seperti dulu tanpa ada orang ketiga lagi.”
            “Keluarga ... mu? Maksudnya?”
            “Yach karena...”
            “Karena apa?” Andri penasaran.
            “Karena aku adalah gadis itu, putri sulung James yang meninggal dalam kecelakaan itu.”
            Andri ternganga “Apa?? Nggak mungkin, kamu bohong kan Caroline?”
            Caroline hanya tersenyum. Kemudian tampak darah bercucuran dari kepala dan wajahnya. Luka-luka akibat kecelakaan itu bermunculan dari tubuhnya. Andri hanya mampu menjerit. Dalam hitungan detik Andri telah meninggalkan rumah itu.
****
            “Nona Caroline, dia adalah putri dari tuan James dan nyonya Cindy. Dia sudah meninggal satu tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil. Dia gadis yang baik dan periang. Arwah nona Caroline tidak bermaksud menakut-nakuti orang. Dia hanya ingin orang lain tau betapa sedihnya karena dia tak dapat lagi berkumpul dengan keluarganya.” Pak Ujang menjelaskan pada saat mereka berkumpul diruang keluarga.
            “Pak Ujang kok tau?” sela Andri.
            “Dulu saya pernah bekerja pada tuan James. Tapi setelah tuan James kembali ke negara asalnya jadi saya ikut ayah mas Rizky. Jadi saya tau tentang sifat Nona Caroline.”
            “Pantesan waktu aku liat foto keluarganya, aku seperti kenal dengan putri sulungnya, ternyata Caroline.”
            “Caroline dan Carly, mereka adalah temanku waktu kecil. Waktu itu aku sering berlibur ke sini.” Sahut Rizky.
            “Tapi mas Andri nggak kapok kapok kan berlibur kesini.” Goda bi’ Sum.
            “Ya enggaklah bi’.”
            “Ala bilang aja loe takut. Tapi loe pura-pura berani, iya kan? Iya donk? Benerkan?” ejek Helmi.
            “Ih, enggak tuch.”
            Mereka tertawa serempak tanpa mereka ketahui ada seorang yang kasat mata berada diantara mereka. Pemilik mata biru itu ikut tersenyum melihat mereka. Makhluk itu adalah Caroline.
****
Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Oktober 2006

No comments:

Post a Comment