Thursday, 17 September 2015

Disaat Semuanya Telah Menghilang


“Ao ... ci ... ci ... cuit ...!”
“Iih ... namaku itu Cika ... C.I.K.A, Cika.”
“He ... he .. he ... Ci ... ci ... cuit marah!”
Sahabatku ini memang sering membuat aku jengkel  karena dia selalu memanggil aku ‘ci ... ci ... cuit.”
Waktu itu aku begitu heran dengannya, dia kelihatan begitu bahagia dan begitu ceria.
“Kamu baru dapat arisan ya?”
“Bukan dapat arisan Cika, tapi aku udah dapet nomor HP nya.” Kata dia sambil berjingkrak-jingkrak.
“Dia siapa sich?” tanyaku.
“Cewek itu loh cik, yang kemarin itu.” Katanya menjelaskan.
“Oh Risti maksudnya?”
“Yups ... You’re right!”
Cowok keren yang mempunyai nama Agung ini benar-benar tak seperti biasanya. Semenjak dia mengenal cewek bernama Risti, dia menjadi anak yang banyak bicara dan selalu ceria. Semenjak itupun dia tak pernah absen SMS dan telephon. Selama ini perhatian orangtuanya sangat kurang sehingga membuat dia terpuruk dan tertutup. Kepadaku saja, dia nggak mau cerita, dia Cuma bilang kalau setiap hari dia selalu kesepian.
Masih teringat dibenakku, waktu itu saat Agung hendak mau pergi dia terkejut dan senang saat ayahnya menanyakan kemana dia mau pergi. Karena baru kali ini ayahnya peduli dengannya.
“Mau ke rumamh temen, yah, memangnya ada apa?”
“Awas... sepedahnya, sekarang banyak rampok.” Jawab ayah.
Jawaban ayahnya membuat raut muka Agung berubah menjadi kusut karena kecewa, kalau ternyata sepedah yang lebih penting dari pada anak kandungnya sendiri.
“Ya sudah yah, Agung berangkat dulu. Assalamualaikum!” dengan begitu hormat dia berpamitan.
Aku memang beruntung mempunyai sahabat sesabar itu, setulus dan sebaik dia.
Hari demi hari telah berlalu, class meetingpun tiba. Waktu itu tepatnya hari Sabtu. Agung mengajak kabur teman-temannya pagi-pagi. Karena pagi itu juga dia mau ke sekolah Risti dan mau nembak Risti. Agung yakin kalau ini kejutan buat teman-temannya, karena selama ini mereka selalu menyuruhnya mencari pacar. Setelah lima jam dia menunggu, akhirnya pagar sekolah Risti dibuka. Dengan senyum manis dia menyambut kedatangan Risti. Setelah itu mereka ngobrol, tapi belum sempet dia melakukan penembakan, salah satu sahabat Agung malah minta kenalan dan dia bilang kalau dia suka Risti. Agung begitu terkejut setelah mendengar pernyataan Didik. Seketika membuat Agung terdiam membisu, dia menjadi bingung siapa yang harus dipilih ‘sahabat atau cewek?’. Dan semenjak itu Agung berubah seperti dulu lagi yang pendiam dan suka murung. Pagi itu, dia bermaksud akan mengatakan yang sejujurnya kalau Risti adalah cewek yang selama ini dia suka. Tapi baru saja sampai di kelas “Gung, kemarin aku telpon Risti. Dia anaknya baik ya?” kata Didik senang sekali. disaat itupun Agung tambah bingung, tapi bagaimana dia berani untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Dik, kamu tau nggak, siapa yang selama ini aku suka? Siapa yang selama ini aku banggain, dia itu Risti. Aku suka dia mulai dari dulu!” dengan hati-hati Agung mengatakan.
“APA ....???” kata Didik dengan nada tinggi.
“Dus ....” tiba-tiba tangan Didik mendarat di muka Agung.
Agung jatuh tersungkur di lantai sambil bertanya “Apa salahku?”
“Kamu itu sahabat apa Gung, aku kan sahabatmu. Kenapa sih kamu tega mau ngrebut Risti dari aku. Kamu itu egois Gung.” Didik terus mencaci maki Agung tanpa henti.
Keributan pun terjadi, tidak ada satupun yang bisa menghentikan emosi Didik, Agung terus dipukuli, tapi dia tak pernah membalas pukulan Didik. Kejadian tersebut diketahui oleh salah satu guru dan membuat mereka diskors selama satu minggu. Setelah mendengar keputusan itu, Agung begitu takut untuk pulang karena dia yakin ayahnya pasti marah besar. Tapi, hari semakin sore Agung bingung kemana tujuannya, karena semua sahabatnya benci padanya, membuat dia terpaksa harus pulang kerumah.

Dengan perasaan takut dia memberanikan diri. Baru saja sampai di depan rumahnya, dia melihat banyak orang.
“Ada apa ini dirumah kok ada bendera kematian?” tanya dia dalam hati
Semua itu membuat Agung tak mengerti apa yang terjadi dalam hidupnya. Berjalan pelan-pelan dia masuk rumah, didalam rumah dilihatnya seseorang berbaring diatas sebuah dipan yang seluruh tubuhnya ditutup kain putih.
“Siapakah dia?” dengan penasaran dia bertanya dalam hatinya.
Semakin dia mendekat dan dengan perlahan dia membuka kain putih itu untuk mengusir rasa penasarannya.
“Ibuuuuuu.” Dengan suara sangat keras dibarengi dengan air mata yang mengalir sambil memeluk orang dibalik kain putih itu. Ternyata itu adalah ibu Agung yang selama ini menderita kanker Rahim yang tak pernah diceritakan pada putranya itu.
“Ibu ... ibu ... ibu ... kenapa ibu harus ninggalin Agung secepat ini. Disaat Agung masih belum bisa buat ibu bangga. Agung tau kalau ibu memang jarang perhatiin Agung tapi Agung tau kalau ibu sayang sama Agung, begitu juga Agung bu.” Dengan terus menangis dia terus memeluk ibunya erat-erat seakan tak ingin melepaskan pelukannya.
“Kenapa orang yang aku sayang ninggalin aku?”
Dia merasa hidupnya nggak adil dan dia juga merasa kalau hidupnya tak berarti lagi.
“Aku ingin bahagia, walaupun itu hanya satu sekejab


Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Desember 2007

No comments:

Post a Comment