“Ecca...cepetan sayang, Ivan udah
nunggu tuh...!”
“Iyaaa ma bentar lagi!”
Seperti
itulah setiap pagi, bengun kesiangan selalu membuat ku selalu tergesa-gesa dan
terlambat sekolah. Begitu juga aku tak asing lagi dengan teriakan mamaku.
Ecca,
kedengarannya seperti jam alarm yang berbunyi setiap pagi, satu lagi kebiasaan
mamaku yang paling buat ku nggak suka di pagi hari, mama selalu nyiapin aku
sampai depan rumah ... itu membuat ku malu.
Setelah
beberapa menit kemudian, aku turun dari kamarku yang ada dilantai atas, aku
berlari sekencang-kencangnya ke teras depan rumah.
“Yuk, Van berangkat!”
Oiya, Ivan
sahabatku sejak dari kecil, rumahnya tepat di depan rumahku karena itu dia
selalu jemput aku. Dan satu lagi dia
ketua OSIS.
“Waduh Van ada yang ketinggalan
nich!” aku merasa kacamataku ...
Aku berlari
kembali ke kamarku di lantai atas.
“Mama ... mama ... tau kacamataku
nggak aku lupa naruhnya?”
Aku
kebingungan mencari, mama malah tersenyum memandangiku.
“Mama ini gimana sich kok senyum
senyum, mama buruan bantuin cari aku keburu telat ma?!”
“Ilang ya kacamatanya? Trus yang
kamu pake itu kacamata siapa.”
“Oh iya” aku meraba mataku. Ya
seperti itulah aku sifat pelupa sering kelewatan.
“Aduh Van sorry ya lama, yuk kita
berangkat!”
“Berangkat ya? Emang mau
berangkat kemana neng?!”
“Kamu ini gimana sih, ya sekolah
lah.”
“Oh ke sekolah? Pinter ya kamu ke
sekolah nggak bawa tas.” Ivan seolah menyindirku.
“Eh .. hehehe oiya ya aku lupa,
sebentar ya aku ambil dulu.”
Sekali lagi
aku selalu menang lomba lari di sekolah karena kebiasaanku lari setiap pagi
hanya untuk mengambil barang-barangku yang selalu ketinggalan.
“Nich udah aku ambil, sekarang
ayuk kita berangkat!”
“Udah nggak ada yang ketinggalan
lagi, hidung kamu nggak ketinggalan?” goda Ivan agak sinis.
“Ah Ivan resek deh.”
Setelah lima
belas menit kemudian akhirnya sampai di sekolah. Seperti biasa, kita lomba lari
menuju kelas yang kalah harus traktir.
“Pagi Manda?” dengan ngos-ngosan
aku menyapa sahabatku yang duduk sebangku denganku.
“Siapa yang menang? Loe apa
Ivan?” tanya Manda
“Ya pasti aku dong! Gimana nggak
menang terus, waktu Ivan parkir motor aku lari duluan. Hehehe.”
“By the way, ada apaan ini kok
semuanya pada serius belajar?” tanyaku penasaran.
“Loe inget nggak hari ini hari
apa?”
“Kalau aku pake baju ini, berarti
hari ini hari Rabu kan?”
“Trus hari Rabu jam pertama itu
pelajaran apa?”
“Matematika.”
“Loe masih inget guru matematika
siapa?”
“Pak Broto.”
“Dan loe inget gimana pak Broto
itu?”
“Orangnya tinggi, item dan
berkumis!”
“Bukan itu maksudnya, maksunya
itu gimana cara ngajarnya pak Broto dan apa yang menjadi ciri khas beliau
mengajar?!”
“Setiap hari Rabu, kita ulangan
ya. Setiap kita ulangan! Aku benerkan??!! Tuh kan aku inget. He he he.”
“Terserah loe mau ngomong apa?”
“Iya aku tau tapi aku lupa nggak
belajar kemarin.”
Waktu tlah
berlalu jam pun bergulir pergi, bel pulang berbunyi ... kring ... kring...
“Yeeeeee....” teriak teman-teman
sekelas, seperti anak TK yang senangnya minta ampun kalau denger bel pulang
berbunyi.
***
Kukuruyuk ... kukuruyuk ....
kokopethok ... heek...
Waduh ayamnya bersendawa. Pagipun
tiba, seperti biasa aku bangun kesiangan, tergesa-gesa dan terlambat! Tapi satu
hal yang nggak biasa entah apa yang aku rasakan, jantungku mau copot waktu aku
boncengan sama Ivan. Tau tuch sebabnya apa!!
“Apa aku suka sama Iven? Hi amit
amit deh. Cowok cuek, jutek kayak dia. Bisa jantungan kalau setiap hari denger
dia marah-marah.”
Pagi itu aku
kaget melihat sepucuk surat ada di bangkuku. Isinnya sebuah puisi ...
Wao ... aku
begitu terkesima membacanya dan tanpa berpikir panjang aku langsung mendatangi
Ivan, aku yakin dia yang menulis ini. Apalagi beberapa hari ini meskipun hanya
perasaanku, perhatiaanya besar banget sama aku.
“Ivan aku boleh tanya sesuatu
nggak?”
“Ya udah nanya aja, nggak pake
basa-basi.”
“Kalau misalnya kamu suka sama
cewek, tapi kamu nggak berani ngungkapinnya, apa yang bakal kamu lakukan?”
“Nulis surat.”
“Apa? Nulis surat? Terus isi
suratnya apaan?”
“Ya puisilah, aku bakalan nulis
puisi ke dia setiap hari!”
KEPADA CINTA
Kubuat kau tersenyum
Tapi jangan pilukan hatiku
Kuhias taman dengan aroma
Untuk kau petik bila
saatnya
Kita berada sekarang
Untuk kita pikirkan
Menyambut harapan
Diatas setumpuk tulisan
Dengan peluit cinta
setiaku
Kepada buku bermadu
Menimba ilmu untuk anak
cucu
Kubuat kau bahagia
Tapi jangan kau buat aku
sengsara
Bila saatnya tiba
Kau kan pasti ku jaga
Selamanya ...
Setelah itu,
aku semakin yakin kalau yang nulis surat adalah Ivan, soalnya setiap pagi surat
itu ada di bangkuku dan isinya itu adalah puisi.
Sore itu aku
beranikan diri mendatangi Ivan yang sedang latihan basket di lapangan basket
komplek rumahku.
“Ini Van minumnya.” Aku kasih
satu botol minuman mineral pada Ivan yang sedang duduk kecapekan.
“Makasih ya.”
“Capek ya?”
“Udahlah nggak usah basa-basi.
Ada apa datang kesini?” tanyanya ketus banget.
“Besok kita rapat OSIS ya?”
“Iya”
“Berarti kita rapat di ruang OSIS
dong?!”
“Ya iyalah, masak kita rapat
diruang kepala sekolah? Dasar lola!!”
“Lola apaan sich?”
“Udah deh mending ngomong sama
tembok sana. Capek tau ngomong sama kamu!”
“Emang tembok rumah kamu bisa
bicara ya. Hebat donk...”
“Kalau nggak ada kepentingan,
mending sekarang kamu pergi.” Usir Ivan.
“Aku masih berkepentingan kok.
Sebenarnya gini, kamu suka ya sama aku?” dengan terbata-bata aku menanyainya.
“Hah?! Suka sama kamu? Suka sama
cewek pelupa, teledor dan nggak nyambung kayak kamu? Kamu lagi mimpi ya, Lola?”
“Tapi surat-surat ini?!”
“Udah deh mending sekarang kamu
pulang sana. Ganggu saja dan satu lagi aku nggak pernah nulis surat-surat ini.”
Usir Ivan sekali lagi sambil setengah menghardik.
Mendengar
kata-kata itu aku langsung kecewa. Ternyata selama ini dia nggak pernah suka
sama aku. Tapi akunya yang ke Ge-Er an.
***
“Ecca!”
“Eh, Iqbal ada apa?!”
Iqbal adalah
salah satu temanku dan sahabatnya Ivan.
“Gimana puisi-puisi ku? Bagus
nggak?”
“Maksudnya puisi di amplop itu?
Ow ternyata itu kamu yang naruh?”
“Iya aku suka sama kamu tapi aku
nggak berani ngungkapin, makanya aku minta tolong Ivan dan aku dapat saran dari
Ivan.”
“Maaf ya, selama ini aku hanya anggap kamu sebagai
sahabat saja.” Ucapku lirih
Ternyata
memang benar kalau aku hanya ke Ge-Er an. Selama ini aku pikir Ivan yang suka
sama aku.
Siang itu
deringan dari Hp ku membangunkanku dari take a nap ku ...
“Halo ... Assalamualaikum!”
“Halo ... Ecca kamu itu dimana
sih?” teriak sahabatku, Manda. Membuat gendang telingaku sakit.
“Ada apa sih? Jangan
teriak-teriak dong, orang bicara saja suara kamu fals apalagi teriak kayak
gini. Aku nggak budeg tau!!”
“Kamu itu kemana aja sih? Udah
tau ada rapat, eh malah ngilang. Kita semua nungguin kamu sampai karatan tau’.
“Waduh, iya aku lupa! Ya udah aku
berangkat sekarang.”
Tanpa
berpikir apa-apa aku langsung berangkat naik angkutan umum, sampai akupun lupa
baju tidur ku masih aku pake. Setelah beberapa menit akhirnya aku sampai.
“waduh baju model baru nich.”
Ledek salah satu temanku.
“Mana proposalnya?” tanya Ivan
sedikit ketus.
“iya bentar aku cari!” aku terus
mencari proposal itu dalam tas. Tapi proposalnya tidak ada. Aku takut banget
waktu itu.
“Jangan bilang proposalnya
ketinggalan.” Bentak Ivan.
“Iya kayaknya ketinggalan.”
Katakku.
“Ayo cepetan ambil.” Tarik Ivan
padaku.
“Ta ... tapi proposalnya
ketinggalan di angkotan umum.”
“Apa kamu bilang? Kamu itu gimana
sih Lola, pikun, nyebelin, nggak nyambung, ceroboh lagi, lengkap banget sih
kamu jadi orang. Proposal itu diminta kepala sekolah terakhir besok. Akh batal
semuanya, batal study tour yang udah kita rencanain setahun ini!” bentak Ivan.
Ivan begitu
marah, marah banget karena program yang diimpikan di rencakan setahun ini
terancam batal.
“Dasar nggak berguna!! Nggak
penting!! Bubar semuanya.”
“Cukup, cukup Van kamu bilang aku
pikun, nggak berguna, lola. Tapi aku bakal buktiin kalau aku nggak seburuk yang
kamu kira, aku janji besok pagi proposal itu selesai!
Aku begitu
kesal mendengar Ivan yang terus mengolok-ngolok aku. Tanpa berkata-kata lagi
aku langsung pergi.
Semalaman
aku nggak tidur, sku berusaha menyelesaikan proposal yang tebalnya 70 lembar
itu dan alhamdulillah akhirnya selesai juga.
“Ini proposalnya! Dan aku harap
setelah ini kamu bisa mandang aku lebih baik lagi.”
“Ecca.” Aku begitu terkejut,
soalnya tiba-tiba Ivan memelukku, didepan teman-teman sekelas lagi.”
“Aku minta maaf, selama ini aku
jahat sama kamu. Sebenarnya selama ini aku suka sama kamu, tapi karena Iqbal
juga suka sama kamu akhirnya aku mundur. Dan soal puisi-puisi itu emang aku
yang nulis tapi aku berikan ke Iqbal”
“Ivan.”
Aku
benara-benar nggak nyangka kalau cowok jutek dan keras kepala sepertinya dia
bisa romantis juga. Aku benar-benar menjadi wanita paling bersyukur pagi itu.
Kalau ternyata cowok yang aku suka juga suka sama aku.
“Terima, terima, terima” teriak
teman-temanku satu kelas dan setelah itu akhirnya kita jadian deh, kita bahagia
banget. Memang sih kita masih sering bertengkar tapi sekarang dia nggak sekeras
dulu dan aku nggak sepikun dulu lagi.
Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif,
kreatif dan mandiri
Edisi : Maret 2008
No comments:
Post a Comment