Thursday, 17 September 2015

Si Pikun Jatuh Cinta



               “Ecca...cepetan sayang, Ivan udah nunggu tuh...!”
               “Iyaaa ma bentar lagi!”
Seperti itulah setiap pagi, bengun kesiangan selalu membuat ku selalu tergesa-gesa dan terlambat sekolah. Begitu juga aku tak asing lagi dengan teriakan mamaku.
Ecca, kedengarannya seperti jam alarm yang berbunyi setiap pagi, satu lagi kebiasaan mamaku yang paling buat ku nggak suka di pagi hari, mama selalu nyiapin aku sampai depan rumah ... itu membuat ku malu.
Setelah beberapa menit kemudian, aku turun dari kamarku yang ada dilantai atas, aku berlari sekencang-kencangnya ke teras depan rumah.
               “Yuk, Van berangkat!”
Oiya, Ivan sahabatku sejak dari kecil, rumahnya tepat di depan rumahku karena itu dia selalu jemput aku.  Dan satu lagi dia ketua OSIS.
               “Waduh Van ada yang ketinggalan nich!” aku merasa kacamataku ...
Aku berlari kembali ke kamarku di lantai atas.
               “Mama ... mama ... tau kacamataku nggak aku lupa naruhnya?”
Aku kebingungan mencari, mama malah tersenyum memandangiku.
               “Mama ini gimana sich kok senyum senyum, mama buruan bantuin cari aku keburu telat ma?!”
               “Ilang ya kacamatanya? Trus yang kamu pake itu kacamata siapa.”
               “Oh iya” aku meraba mataku. Ya seperti itulah aku sifat pelupa sering kelewatan.
               “Aduh Van sorry ya lama, yuk kita berangkat!”
               “Berangkat ya? Emang mau berangkat kemana neng?!”
               “Kamu ini gimana sih, ya sekolah lah.”
               “Oh ke sekolah? Pinter ya kamu ke sekolah nggak bawa tas.” Ivan seolah menyindirku.
               “Eh .. hehehe oiya ya aku lupa, sebentar ya aku ambil dulu.”
Sekali lagi aku selalu menang lomba lari di sekolah karena kebiasaanku lari setiap pagi hanya untuk mengambil barang-barangku yang selalu ketinggalan.
               “Nich udah aku ambil, sekarang ayuk kita berangkat!”
               “Udah nggak ada yang ketinggalan lagi, hidung kamu nggak ketinggalan?” goda Ivan agak sinis.
               “Ah Ivan resek deh.”
Setelah lima belas menit kemudian akhirnya sampai di sekolah. Seperti biasa, kita lomba lari menuju kelas yang kalah harus traktir.
               “Pagi Manda?” dengan ngos-ngosan aku menyapa sahabatku yang duduk sebangku denganku.
               “Siapa yang menang? Loe apa Ivan?” tanya Manda
               “Ya pasti aku dong! Gimana nggak menang terus, waktu Ivan parkir motor aku lari duluan. Hehehe.”
               “By the way, ada apaan ini kok semuanya pada serius belajar?” tanyaku penasaran.
               “Loe inget nggak hari ini hari apa?”
               “Kalau aku pake baju ini, berarti hari ini hari Rabu kan?”  
               “Trus hari Rabu jam pertama itu pelajaran apa?”
               “Matematika.”
               “Loe masih inget guru matematika siapa?”
               “Pak Broto.”
               “Dan loe inget gimana pak Broto itu?”
               “Orangnya tinggi, item dan berkumis!”
               “Bukan itu maksudnya, maksunya itu gimana cara ngajarnya pak Broto dan apa yang menjadi ciri khas beliau mengajar?!”
               “Setiap hari Rabu, kita ulangan ya. Setiap kita ulangan! Aku benerkan??!! Tuh kan aku inget. He he he.”
               “Terserah loe mau ngomong apa?”
               “Iya aku tau tapi aku lupa nggak belajar kemarin.”
Waktu tlah berlalu jam pun bergulir pergi, bel pulang berbunyi ... kring ... kring...
               “Yeeeeee....” teriak teman-teman sekelas, seperti anak TK yang senangnya minta ampun kalau denger bel pulang berbunyi.
***
               Kukuruyuk ... kukuruyuk .... kokopethok ... heek...
               Waduh ayamnya bersendawa. Pagipun tiba, seperti biasa aku bangun kesiangan, tergesa-gesa dan terlambat! Tapi satu hal yang nggak biasa entah apa yang aku rasakan, jantungku mau copot waktu aku boncengan sama Ivan. Tau tuch sebabnya apa!!
               “Apa aku suka sama Iven? Hi amit amit deh. Cowok cuek, jutek kayak dia. Bisa jantungan kalau setiap hari denger dia marah-marah.”
Pagi itu aku kaget melihat sepucuk surat ada di bangkuku. Isinnya sebuah puisi ...

Wao ... aku begitu terkesima membacanya dan tanpa berpikir panjang aku langsung mendatangi Ivan, aku yakin dia yang menulis ini. Apalagi beberapa hari ini meskipun hanya perasaanku, perhatiaanya besar banget sama aku.
               “Ivan aku boleh tanya sesuatu nggak?”
               “Ya udah nanya aja, nggak pake basa-basi.”
               “Kalau misalnya kamu suka sama cewek, tapi kamu nggak berani ngungkapinnya, apa yang bakal kamu lakukan?”
               “Nulis surat.”
               “Apa? Nulis surat? Terus isi suratnya apaan?”
               “Ya puisilah, aku bakalan nulis puisi ke dia setiap hari!”

KEPADA CINTA

Kubuat kau tersenyum
Tapi jangan pilukan hatiku
Kuhias taman dengan aroma
Untuk kau petik bila saatnya

Kita berada sekarang
Untuk kita pikirkan
Menyambut harapan
Diatas setumpuk tulisan
Dengan peluit cinta setiaku
Kepada buku bermadu
Menimba ilmu untuk anak cucu

Kubuat kau bahagia
Tapi jangan kau buat aku sengsara
Bila saatnya tiba
Kau kan pasti ku jaga
Selamanya ...

Setelah itu, aku semakin yakin kalau yang nulis surat adalah Ivan, soalnya setiap pagi surat itu ada di bangkuku dan isinya itu adalah puisi.

Sore itu aku beranikan diri mendatangi Ivan yang sedang latihan basket di lapangan basket komplek rumahku.
               “Ini Van minumnya.” Aku kasih satu botol minuman mineral pada Ivan yang sedang duduk kecapekan.
               “Makasih ya.”
               “Capek ya?”
               “Udahlah nggak usah basa-basi. Ada apa datang kesini?” tanyanya ketus banget.
               “Besok kita rapat OSIS ya?”
               “Iya”
               “Berarti kita rapat di ruang OSIS dong?!”
               “Ya iyalah, masak kita rapat diruang kepala sekolah? Dasar lola!!”
               “Lola apaan sich?”
               “Udah deh mending ngomong sama tembok sana. Capek tau ngomong sama kamu!”
               “Emang tembok rumah kamu bisa bicara ya. Hebat donk...”
               “Kalau nggak ada kepentingan, mending sekarang kamu pergi.” Usir Ivan.
               “Aku masih berkepentingan kok. Sebenarnya gini, kamu suka ya sama aku?” dengan terbata-bata aku menanyainya.
               “Hah?! Suka sama kamu? Suka sama cewek pelupa, teledor dan nggak nyambung kayak kamu? Kamu lagi mimpi ya, Lola?”
               “Tapi surat-surat ini?!”
               “Udah deh mending sekarang kamu pulang sana. Ganggu saja dan satu lagi aku nggak pernah nulis surat-surat ini.” Usir Ivan sekali lagi sambil setengah menghardik.
Mendengar kata-kata itu aku langsung kecewa. Ternyata selama ini dia nggak pernah suka sama aku. Tapi akunya yang ke Ge-Er an.
***
               “Ecca!”
               “Eh, Iqbal ada apa?!”
Iqbal adalah salah satu temanku dan sahabatnya Ivan.
               “Gimana puisi-puisi ku? Bagus nggak?”
               “Maksudnya puisi di amplop itu? Ow ternyata itu kamu yang naruh?”
               “Iya aku suka sama kamu tapi aku nggak berani ngungkapin, makanya aku minta tolong Ivan dan aku dapat saran dari Ivan.”
               “Maaf  ya, selama ini aku hanya anggap kamu sebagai sahabat saja.” Ucapku lirih
Ternyata memang benar kalau aku hanya ke Ge-Er an. Selama ini aku pikir Ivan yang suka sama aku.
Siang itu deringan dari Hp ku membangunkanku dari take a nap ku ...
               “Halo ... Assalamualaikum!”
               “Halo ... Ecca kamu itu dimana sih?” teriak sahabatku, Manda. Membuat gendang telingaku sakit.
               “Ada apa sih? Jangan teriak-teriak dong, orang bicara saja suara kamu fals apalagi teriak kayak gini. Aku nggak budeg tau!!”
               “Kamu itu kemana aja sih? Udah tau ada rapat, eh malah ngilang. Kita semua nungguin kamu sampai karatan tau’.
               “Waduh, iya aku lupa! Ya udah aku berangkat sekarang.”
Tanpa berpikir apa-apa aku langsung berangkat naik angkutan umum, sampai akupun lupa baju tidur ku masih aku pake. Setelah beberapa menit akhirnya aku sampai.
               “waduh baju model baru nich.” Ledek salah satu temanku.
               “Mana proposalnya?” tanya Ivan sedikit ketus.
               “iya bentar aku cari!” aku terus mencari proposal itu dalam tas. Tapi proposalnya tidak ada. Aku takut banget waktu itu.
               “Jangan bilang proposalnya ketinggalan.” Bentak Ivan.
               “Iya kayaknya ketinggalan.” Katakku.
               “Ayo cepetan ambil.” Tarik Ivan padaku.
               “Ta ... tapi proposalnya ketinggalan di angkotan umum.”
               “Apa kamu bilang? Kamu itu gimana sih Lola, pikun, nyebelin, nggak nyambung, ceroboh lagi, lengkap banget sih kamu jadi orang. Proposal itu diminta kepala sekolah terakhir besok. Akh batal semuanya, batal study tour yang udah kita rencanain setahun ini!” bentak Ivan.
Ivan begitu marah, marah banget karena program yang diimpikan di rencakan setahun ini terancam batal.
               “Dasar nggak berguna!! Nggak penting!! Bubar semuanya.”
               “Cukup, cukup Van kamu bilang aku pikun, nggak berguna, lola. Tapi aku bakal buktiin kalau aku nggak seburuk yang kamu kira, aku janji besok pagi proposal itu selesai!
Aku begitu kesal mendengar Ivan yang terus mengolok-ngolok aku. Tanpa berkata-kata lagi aku langsung pergi.
Semalaman aku nggak tidur, sku berusaha menyelesaikan proposal yang tebalnya 70 lembar itu dan alhamdulillah akhirnya selesai juga.
               “Ini proposalnya! Dan aku harap setelah ini kamu bisa mandang aku lebih baik lagi.”
               “Ecca.” Aku begitu terkejut, soalnya tiba-tiba Ivan memelukku, didepan teman-teman sekelas lagi.”
               “Aku minta maaf, selama ini aku jahat sama kamu. Sebenarnya selama ini aku suka sama kamu, tapi karena Iqbal juga suka sama kamu akhirnya aku mundur. Dan soal puisi-puisi itu emang aku yang nulis tapi aku berikan ke Iqbal”
               “Ivan.”
Aku benara-benar nggak nyangka kalau cowok jutek dan keras kepala sepertinya dia bisa romantis juga. Aku benar-benar menjadi wanita paling bersyukur pagi itu. Kalau ternyata cowok yang aku suka juga suka sama aku.
               “Terima, terima, terima” teriak teman-temanku satu kelas dan setelah itu akhirnya kita jadian deh, kita bahagia banget. Memang sih kita masih sering bertengkar tapi sekarang dia nggak sekeras dulu dan aku nggak sepikun dulu lagi.

Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Maret 2008

No comments:

Post a Comment