Thursday, 17 September 2015

Pelabuhan Nurani



Angin yang berhembus menambah dinginnya malam itu. Sasa melangkahkan kakinya menuju teras depan rumah. Di pandangnya langit malam itu penuh makna, lamunan yang mengingatkan akan masalalunya. Hingga akhirnya sebuah tepukan keras yang mendarat dipundaknya, menyadarkan gadis bermata biru ini dari lamunan panjangnya.
“Ada paket nich dari mamanya kak Lalita!” kata Roman yang menyodorkan paket berwarna coklat.
“Tadi, mamanya Lalita telephon gak?” tanya sasa pada Roman yang masih berdiri disampingnya.
“Gak”! jawab Roman terus mendekati Sasa yang sedang menyeka air mata.

Dengan tegar sasa mencoba membuka paket itu. Betapa kagetnya Sasa setelah melihat paket itu. Air mata Sasa seolah tak dapat dibendung lagi. Bagaikan hujan membasahi seluruh pipinya. Sasa pun lari masuk kedalam kamar, ia baringkan tubuhnya yang lemas dan memejamkan matanya. Akhirnya ia lelap dalam tidur. Keesokan harinya ketika sang surya bersinar begitu indahnya, kesedihan tak nampak lagi diwajah Sasa tapi ...
“Aduh mama, Sasa kok gak dibangunin sih ... Sasa kan telat, apalagi hari ini hari pertama Sasa masuk sekolah...!” rengek Sasa sambil menenteng tasnya.
“Maaf ya, abis mama dah gedor-gedor pintu kamu tapi gak dibuka mama takut kamu marah ...”
Belum habis kata-kata mama, tiba-tiba Roman mendekati mama sambil berkata
 “Orang laksana burung siapa yang bangun duluan dia dapat makan ..” kemudian digenggam dan diciumi tangan halus sang mama tanda ia ingin berangkat sekolah.
“Eh kamu sok dewasa emang aku ini siapa, disama-samain ama burung, eh ... itu rotiku!” teriak Sasa segera turun dari tangga dan mengejar Roman yang lari.

Hari itu memang hari yang mengesalkan bagi Sasa selain jatah rotinya diambil Roman ia harus jalan kaki, belum lagi sewaktu digerbang ia harus bertengkar dengan seorang cowok yang juga telat masuk sekolah.
“Eh gue duluan ... minggir ... !! seru Sasa
“Gue yang duluan, lu yang minggir!” jawab cowok itu yang kemudian menyerobot masuk. Mungkin karena kesal akhirnya Sasa menginjak kaki cowok itu dan pergi mendahuluinya.
“Wekk ... gue duluan !!” kata Sasa sambil menoleh kebelakang, mengejek cowok itu.
“Eh awas lo ...” jawab cowok itu mencoba mempertingatkan Sasa.
“Sorry ya gue nggak bisa ditipu!” jawab Sasa

Selang beberapa waktu kemudian terdengar bunyi yang amat keras “BRUUKK !!” uups ... Semua terjadi begitu singkat Sasa tak pernah tau apa yang terjadi tapi ia mendapati beberapa orang mengerubunginya dan ada seorang cowok mengulurkan tangannya. Ternyata Sasa menabrak papan pengumuman sekolah.
“Hei lo gak pa pa, ayo bangun ! kata cowok itu.
“Gue nggak butuh simpati dari lu ...” jawab Sasa pergi meninggalkan cowok itu.
“Ya udah ... dasar cewek muna lo !!” seru cowok itu.

Dengan mata membara penuh dendam ia pun berjalan menuju kelas barunya yaitu kelas XI IPS 3. Sasa merasa ada yang risih pada dirinya ketika semua mata tertuju pada cewek yang punya tinggi 170 cm itu. Bukan bermaksud tuk GR tapi sebenarnya muka Sasa biasa-biasa saja bahkan bisa dibilang sama sekali gak menarik. Apalagi kacamata tapal kuda melekat diantara dua matanya. Sasa semakin merasa aneh. Ia merasa teman-temannya melihatnya bukan tertatik karena cantik, tetapi ada sesuatu yang membuat mereka tertarik untuk tertawa. Ternyata dugaan Sasa benar, ada orang yang dengan sengaja menempelkan kertas bertuliskan “CEWEK BARU JANGAN DISENTUH” orang tersebut tak lain adalah Dion. Cowok yang baru saja bertengkar dengannya digerbang sekolah. Ternyata Dion adalah teman sekelas Sasa. Terang saja Sasa semakin kesal karena hampir tiap hari dia dikerjain Dion dari hal yang kecil sampai hal yang besar seperti tempat duduk dikasih permen karet sampai menyembunyikan PR Matematika Sasa. 26 Januari 2000, hari itu Sasa benar-benar senang sudah seminggu Dion sijail itu tidak masuk sekolah. Tapi neraka tetap neraka, kejailan takkan pernah berakhir. Dion siJail bisa saja membuatnya menangis. Kali itu ia sukses membuat Sasa menangis.
“eh lo telat lagi ya ... ! tanya Dion
“loe dah sembuh !! jawab Sasa sambil memalingkan wajahnya.
“kita jalan-jalan aja, pelajaran hari ini membosankan apalagi udah 30 menit gak bakalan Sasa masuk sudah gak bakalan dibukain gerbangnya.
“kata siapa, ya loncat !” jawab Sasa sambil menaiki gerbang.
“gila lu ya, ntar jatuh!” kata-kata Dion yang menjadi kenyataan Sasa jatuh dari atas gerbang. Dion segera menyusul meloncati gerbang dan membopong Sasa. Sasa yang tak pernah menduga Dion yang terkenal Cuek dan suka menjahilinya, menampakan raut wajah penuh kekawatiran.
“Makasih ya udah nolongin tadi, gak biasanya kamu seperti itu?” kata Sasa.
“sebenarnya aku kawatir, sudah lama aku suka sama kamu, mata kamu itu yang membuat ku jatuh hati!”
“Pada pandangan pertama? Tanya Sasa malu-malu.
Dion hanya menanggukkan kepalanya.
“ Sebenarnya mata ini sangat berarti bagiku, temanku yang memberikannya padaku”. Jawan Sasa.
“apa maksudnya?” tanya Dion semakin tak mengerti.
“2 tahun yang lalu mobil kami mengalami kecelakaan sewaktu pulang dari berekreasi. Ayah meninggal di tempat kejadian sedangkan temanku meninggal di perjalanan saat itu kami, berada pada mobil ambulance, yang sama. Sebelum dia meninggal ia berpesan pada ibunya yang hanya luka ringan tuk mendonorkan matanya karena pada saat itu aku kehilangan dua kornea mataku. Mungkin tanpa dia aku tak bisa melihat indahnya dunia dan indahnya masa-masa kita!” Cerita Sasa yang sebenarnya tak ingin menceritakan kejadian itu.
“kamu beruntung ... sebenarnya sebelum aku menyukaimu, aku juga pernah menyukai seseorang tapi itu dulu, sebelum dia pergi untuk pindah dan gak ada kabar, aku nggak tau sekarang dia dimana”.
“sudah ku duga aku pernah melihat sebuah puisi dan gambar seorang wanita dimejamu. Apa itu dia, boleh ku lihat gambarnya?”

               Dion menyerahkan gambar seorang perempuan berambut panjang dengan lesung pipit. Sontak Sasa terkejut melihatnya yang ternyata adalah Lalita. Sasa berlari pergi meninggalkan Dion begitu saja. Hampir sepekan ini Sasa tak masuk sekolah. Dion mencoba menghubungi Sasa tapi Sasa tak pernah menggubrisnya. Sasa merasa bersalah pada Lalita, ia merasa telah mengkhianati sahabat yang dicintainya. Berkali-kali ia melihat rekaman video kiriman mama Lalita.
“Kak telephon dari Dion. Kakak jangan pernah menghindar dari kenyataan. Lakukanlah apa yang seharusnya kakak lakukan sesuai hati kakak dan cintailah apa yang seharusnya kakak cintai sebelum penyesalan datang ...!” Roman menampar Sasa yang sedari tadi hanya duduk terdiam. Tamparan keras Roman seolah-olah menyadarkan betapa besar cinta Dion padanya.
“kak, telephonnya bunyi lagi. Ayo diangkat donk, sebelum kakak menyesal!” bujuk Roman.
Sasapun menerima telepon dari Dion.
               “Halo Sasa ... lo disana kan?” Tanya Dion.
               “Ya gue masih disini ... Ada apa?” Tanya balik Sasa
“Sa ... aku sungguh menyayangimu ... aku sudah tau semua dari Roman. Mungkin memang benar gue pernah suka sama Lalita, tapi itu dulu. Memang mata kamu, mata pemberian dari Lalita tapi hati kamu ... ?” Dion terdiam dan menangis terisak tak dapat meneruskan kata-katanya.
“tapi cinta itu datang dari mata turun ke hati kan?” Tanya kembali Sasa.
“Aku mohon kembali padaku kalau kamu tak yakin pejamkan matamu sekarang, mungkin lo bisa bedain yang mana cinta lo ... !” Jawab Dion.
“Udah ... sekarang gue minta lo percaya sama sang waktu kalau suatu saat nanti kita dipertemukan kembali, kalau memamng kita diciptakan untuk terikat dalam nurani, gue yakin gue akan sandarkan hati gue dipelabuhanmu ... gue harus ke Ausie, gue nggak betah di Jakarta ! jawab Sasa yang kemudian menutup telephon.

6 tahun tlah berlalu Sasa kini berhasil menjadi penulis sukses setelah lima tahun menuntaskan kuliah di Australia. Kini dia Konferensi Pers tuk meluncurkan buku baru yang berjudul “PELABUHAN NURANI” pada saat Konferensi Pers berlangsung ada kejadian aneh yang tak akan pernah dilupakan ada salah satu wartawan bertanya “Apakah Pelabuhan Nurani itu kini telah ketemu, saya Dion dari Majalah Go Girl?” mendengar pertanyaan itu sontak saja Sasa terkejut. Dia mencari dari mana suara itu berasal, ternyata itu benar Dion yang dikenalnya.
“Bu Marsha apa jawaban anda?” tanya Dion.
“ya ... saya sudah menemukannya dan kisah itu berakhir dengan indah” jawab Sasa.


Sumber : Majalah wisanggeni SMA Negeri Tempeh-Lumajang
Edisi Maret 2006

No comments:

Post a Comment