Angin yang
berhembus menambah dinginnya malam itu. Sasa melangkahkan kakinya menuju teras
depan rumah. Di pandangnya langit malam itu penuh makna, lamunan yang
mengingatkan akan masalalunya. Hingga akhirnya sebuah tepukan keras yang mendarat
dipundaknya, menyadarkan gadis bermata biru ini dari lamunan panjangnya.
“Ada paket
nich dari mamanya kak Lalita!” kata Roman yang menyodorkan paket berwarna
coklat.
“Tadi,
mamanya Lalita telephon gak?” tanya sasa pada Roman yang masih berdiri disampingnya.
“Gak”! jawab
Roman terus mendekati Sasa yang sedang menyeka air mata.
Dengan tegar
sasa mencoba membuka paket itu. Betapa kagetnya Sasa setelah melihat paket itu.
Air mata Sasa seolah tak dapat dibendung lagi. Bagaikan hujan membasahi seluruh
pipinya. Sasa pun lari masuk kedalam kamar, ia baringkan tubuhnya yang lemas
dan memejamkan matanya. Akhirnya ia lelap dalam tidur. Keesokan harinya ketika
sang surya bersinar begitu indahnya, kesedihan tak nampak lagi diwajah Sasa
tapi ...
“Aduh mama,
Sasa kok gak dibangunin sih ... Sasa kan telat, apalagi hari ini hari pertama
Sasa masuk sekolah...!” rengek Sasa sambil menenteng tasnya.
“Maaf ya,
abis mama dah gedor-gedor pintu kamu tapi gak dibuka mama takut kamu marah ...”
Belum habis kata-kata mama, tiba-tiba
Roman mendekati mama sambil berkata
“Orang laksana burung siapa yang bangun duluan
dia dapat makan ..” kemudian digenggam dan diciumi tangan halus sang mama tanda
ia ingin berangkat sekolah.
“Eh kamu sok
dewasa emang aku ini siapa, disama-samain ama burung, eh ... itu rotiku!”
teriak Sasa segera turun dari tangga dan mengejar Roman yang lari.
Hari itu
memang hari yang mengesalkan bagi Sasa selain jatah rotinya diambil Roman ia
harus jalan kaki, belum lagi sewaktu digerbang ia harus bertengkar dengan
seorang cowok yang juga telat masuk sekolah.
“Eh gue
duluan ... minggir ... !! seru Sasa
“Gue yang
duluan, lu yang minggir!” jawab cowok itu yang kemudian menyerobot masuk.
Mungkin karena kesal akhirnya Sasa menginjak kaki cowok itu dan pergi mendahuluinya.
“Wekk ...
gue duluan !!” kata Sasa sambil menoleh kebelakang, mengejek cowok itu.
“Eh awas lo
...” jawab cowok itu mencoba mempertingatkan Sasa.
“Sorry ya
gue nggak bisa ditipu!” jawab Sasa
Selang
beberapa waktu kemudian terdengar bunyi yang amat keras “BRUUKK !!” uups ...
Semua terjadi begitu singkat Sasa tak pernah tau apa yang terjadi tapi ia
mendapati beberapa orang mengerubunginya dan ada seorang cowok mengulurkan
tangannya. Ternyata Sasa menabrak papan pengumuman sekolah.
“Hei lo gak
pa pa, ayo bangun ! kata cowok itu.
“Gue nggak
butuh simpati dari lu ...” jawab Sasa pergi meninggalkan cowok itu.
“Ya udah ...
dasar cewek muna lo !!” seru cowok itu.
Dengan mata
membara penuh dendam ia pun berjalan menuju kelas barunya yaitu kelas XI IPS 3.
Sasa merasa ada yang risih pada dirinya ketika semua mata tertuju pada cewek
yang punya tinggi 170 cm itu. Bukan bermaksud tuk GR tapi sebenarnya muka Sasa
biasa-biasa saja bahkan bisa dibilang sama sekali gak menarik. Apalagi kacamata
tapal kuda melekat diantara dua matanya. Sasa semakin merasa aneh. Ia merasa
teman-temannya melihatnya bukan tertatik karena cantik, tetapi ada sesuatu yang
membuat mereka tertarik untuk tertawa. Ternyata dugaan Sasa benar, ada orang
yang dengan sengaja menempelkan kertas bertuliskan “CEWEK BARU JANGAN DISENTUH”
orang tersebut tak lain adalah Dion. Cowok yang baru saja bertengkar dengannya
digerbang sekolah. Ternyata Dion adalah teman sekelas Sasa. Terang saja Sasa
semakin kesal karena hampir tiap hari dia dikerjain Dion dari hal yang kecil
sampai hal yang besar seperti tempat duduk dikasih permen karet sampai
menyembunyikan PR Matematika Sasa. 26 Januari 2000, hari itu Sasa benar-benar senang
sudah seminggu Dion sijail itu tidak masuk sekolah. Tapi neraka tetap neraka,
kejailan takkan pernah berakhir. Dion siJail bisa saja membuatnya menangis.
Kali itu ia sukses membuat Sasa menangis.
“eh lo telat
lagi ya ... ! tanya Dion
“loe dah
sembuh !! jawab Sasa sambil memalingkan wajahnya.
“kita
jalan-jalan aja, pelajaran hari ini membosankan apalagi udah 30 menit gak
bakalan Sasa masuk sudah gak bakalan dibukain gerbangnya.
“kata siapa,
ya loncat !” jawab Sasa sambil menaiki gerbang.
“gila lu ya,
ntar jatuh!” kata-kata Dion yang menjadi kenyataan Sasa jatuh dari atas
gerbang. Dion segera menyusul meloncati gerbang dan membopong Sasa. Sasa yang
tak pernah menduga Dion yang terkenal Cuek dan suka menjahilinya, menampakan
raut wajah penuh kekawatiran.
“Makasih ya
udah nolongin tadi, gak biasanya kamu seperti itu?” kata Sasa.
“sebenarnya
aku kawatir, sudah lama aku suka sama kamu, mata kamu itu yang membuat ku jatuh
hati!”
“Pada
pandangan pertama? Tanya Sasa malu-malu.
Dion hanya
menanggukkan kepalanya.
“ Sebenarnya
mata ini sangat berarti bagiku, temanku yang memberikannya padaku”. Jawan Sasa.
“apa
maksudnya?” tanya Dion semakin tak mengerti.
“2 tahun
yang lalu mobil kami mengalami kecelakaan sewaktu pulang dari berekreasi. Ayah
meninggal di tempat kejadian sedangkan temanku meninggal di perjalanan saat itu
kami, berada pada mobil ambulance, yang sama. Sebelum dia meninggal ia berpesan
pada ibunya yang hanya luka ringan tuk mendonorkan matanya karena pada saat itu
aku kehilangan dua kornea mataku. Mungkin tanpa dia aku tak bisa melihat
indahnya dunia dan indahnya masa-masa kita!” Cerita Sasa yang sebenarnya tak
ingin menceritakan kejadian itu.
“kamu
beruntung ... sebenarnya sebelum aku menyukaimu, aku juga pernah menyukai
seseorang tapi itu dulu, sebelum dia pergi untuk pindah dan gak ada kabar, aku
nggak tau sekarang dia dimana”.
“sudah ku
duga aku pernah melihat sebuah puisi dan gambar seorang wanita dimejamu. Apa itu
dia, boleh ku lihat gambarnya?”
Dion
menyerahkan gambar seorang perempuan berambut panjang dengan lesung pipit.
Sontak Sasa terkejut melihatnya yang ternyata adalah Lalita. Sasa berlari pergi
meninggalkan Dion begitu saja. Hampir sepekan ini Sasa tak masuk sekolah. Dion
mencoba menghubungi Sasa tapi Sasa tak pernah menggubrisnya. Sasa merasa
bersalah pada Lalita, ia merasa telah mengkhianati sahabat yang dicintainya.
Berkali-kali ia melihat rekaman video kiriman mama Lalita.
“Kak telephon dari Dion. Kakak jangan pernah
menghindar dari kenyataan. Lakukanlah apa yang seharusnya kakak lakukan sesuai
hati kakak dan cintailah apa yang seharusnya kakak cintai sebelum penyesalan
datang ...!” Roman menampar Sasa yang sedari tadi hanya duduk terdiam. Tamparan
keras Roman seolah-olah menyadarkan betapa besar cinta Dion padanya.
“kak, telephonnya bunyi lagi. Ayo diangkat
donk, sebelum kakak menyesal!” bujuk Roman.
Sasapun menerima telepon dari
Dion.
“Halo
Sasa ... lo disana kan?” Tanya Dion.
“Ya
gue masih disini ... Ada apa?” Tanya balik Sasa
“Sa ... aku sungguh menyayangimu ... aku
sudah tau semua dari Roman. Mungkin memang benar gue pernah suka sama Lalita,
tapi itu dulu. Memang mata kamu, mata pemberian dari Lalita tapi hati kamu ...
?” Dion terdiam dan menangis terisak tak dapat meneruskan kata-katanya.
“tapi cinta itu datang dari mata turun ke
hati kan?” Tanya kembali Sasa.
“Aku mohon kembali padaku kalau kamu tak
yakin pejamkan matamu sekarang, mungkin lo bisa bedain yang mana cinta lo ...
!” Jawab Dion.
“Udah ... sekarang gue minta lo percaya sama
sang waktu kalau suatu saat nanti kita dipertemukan kembali, kalau memamng kita
diciptakan untuk terikat dalam nurani, gue yakin gue akan sandarkan hati gue
dipelabuhanmu ... gue harus ke Ausie, gue nggak betah di Jakarta ! jawab Sasa
yang kemudian menutup telephon.
6 tahun tlah
berlalu Sasa kini berhasil menjadi penulis sukses setelah lima tahun
menuntaskan kuliah di Australia. Kini dia Konferensi Pers tuk meluncurkan buku
baru yang berjudul “PELABUHAN NURANI” pada saat Konferensi Pers berlangsung ada
kejadian aneh yang tak akan pernah dilupakan ada salah satu wartawan bertanya “Apakah
Pelabuhan Nurani itu kini telah ketemu, saya Dion dari Majalah Go Girl?”
mendengar pertanyaan itu sontak saja Sasa terkejut. Dia mencari dari mana suara
itu berasal, ternyata itu benar Dion yang dikenalnya.
“Bu Marsha
apa jawaban anda?” tanya Dion.
“ya ... saya
sudah menemukannya dan kisah itu berakhir dengan indah” jawab Sasa.
Sumber : Majalah wisanggeni SMA Negeri
Tempeh-Lumajang
Edisi Maret 2006
No comments:
Post a Comment