“Aku sayang sama kamu dan aku
pingin kamu sayang aku seperti aku sayang kamu...!!!”
Hemmm itu adalah kata andalanku
untuk nembak cewek. Sejak kelas 1 SMP “Playboy Cap Kampret” adalah julukan yang
spektakuler untukku. Aku sendiri juga nggak tau, kenapa aku sering nyakitin
perasaan cewek, aku sering nembak dan mutusin cewek kapanpun aku mau. Membuat
cewek nangispun itu sudah biasa bagiku.
Waktu
kelas 2 SMA... gelarku semakin terkenal aja, Revo Aditya Pratama itulah namaku
si “Pemecah Rekor” karena sudah 36 kali aku pacaran. Pacaran paling lama hanya
satu bulan. Selama 1,5 tahun aku sekolah di SMA, kenakalanku emang terkenal
banget. Aku sering di skors, bahkan aku pernah ditampar guru. Selama di SMA aku
punya sahabat baik banget dia juga satu kelas denganku. Tapi aku Cuma bisa
nyakitin dia. Venita Indira namanya. Dia cewek berambut panjang yang manis
banget. Masih teringat dibenakku, perhatian dan nasihat-nasihatnya yang
diberikan padaku.
“Revo...kenapa sih kamu nggak
pernah mau berubah?? Bagaimana kamu bisa menjadi anak yang di banggakan orang
tua, kalau nilai-nilai kamu jeblok semua!!!”
Begitu
besar perhatian Veni padaku, tapi aku tak pernah mendengarkan dia.
“Kamu kok cerewet banget sih
kayak nenek-nenek?? Ortuku aja nggak pernah tau gimana tersiksanya aku setelah
perceraian mereka!” kataku sambil marah-marah.
“Aku ngerti perasaan kamu, ngerti
banget. Tapi emosi nggak bakalan bisa menyelesaikan masalah. Paling tidak kamu
berubah lah lebih baik untuk kebahagian diri kamu sendiri. Aku janji aku akan
bantu kamu dalam hal apapun selagi aku mampu!” jawabannya begitu lemah lembut
membuat aku menjadi tenang.
“Udahlah, pusing tau nggak
dengerin ocehan kamu!” jawabku seolah olah aku ini cowok yang tegar padahal
aslinya aku rapuh banget.
“Ya udah...ini catetannya, udah
aku catetin tadi malam, biar kamu bisa belajar buat ulangan besok.”
Aku
hanya bisa diam melihat catetan sejarah dari Veni. Dia selalu nyatetin mata
pelajaran buat ku karena aku nggak pernah nyatet. Dia selalu memberiku
semangat.
Semakin hari dia semakin baik
sama aku dan aku merasa dia semakin berarti buat aku. Tapi aku selalu bersikap
sok angkuh dan sok nggak butuhin dia. Aku merasa hanya dia cewek baik yang
selalu perhatian sama aku walaupun sikapku begini. Jujur aku begitu bangga mempunyai
sahabat sepintar dia. Dia selalu mendapatkan rangking pertama dikelas dan masuk
5 besar paralel waktu kelas 1 dulu. Dia benar-benar memberi aku motivasi karena
ingin aku terus maju. Masih teringat dibenakku, waktu pertengahan semester
kelas 2 aku mulai berubah, aku mulai bisa ninggalin kebiasaanku yang sering
gonta-ganti pacar, karena jujur aku mulai suka sama Veni dan alhamdulillah
nilaiku meningkat, aku akhirnya masuk 10 besar di kelasku.
Malam
itu aku merasa udah nggak bisa menahan perasaanku dan akhirnya aku sms Veni.
“Mungkin ini nggak bisa dipercaya,
aku berubah karena kamu, karena aku sayang sama kamu. Kalau kamu punya perasaan
sama denganku temuin aku di ultahnya Rini besok malam...aku tunggu!!!”
Aku
begitu lega setelah sms itu terkirim dan aku berharap dia punya perasaan yang
sama.
Pagipun tiba aku begitu semangat
berangkat sekolah, tapi pas didepan koridor sekolah temen-temen menghadang aku.
“Ada apa ini...kok nggak
biasa-biasanya kalian ada disini??” tanya sedikit penasaran, emang nggak biasa-biasanya
mereka nunggu aku disitu.
“Eh Bro!! Kamu suka sama Veni???”
tanya salah satu temanku.
“Ka...ka...ka...kata siapa???
Kataku gugup.
“Yeee...seluruh isi sekolah juga
tau lagi. Emangnya nggak ada cewek lain ya?? Emang sich Venita manis, tipe kamu
banget.”
“Itu Cuma gosip kok, mana mungkin
aku suka sama Veni, nggak mungkinlah!”
Aku
emang cowok yang gengsinya gedhe banget. Di depan teman-temanku sendiri aja aku
nggak berani bilang kalau aku suka sama Venita. Malampun tiba di pesta yang
rame banget Venita bener datang nemuin aku.
“Aku juga sayang banget sama
kamu!!” kata Veni begitu tulus dan lugunya. Tapi kata-katanya membuat perhatian
seisi ruangan terpusat padanya. Aku begitu bingung harus bicara apa malam itu
karena semua orang pada perhatikan aku dan Veni.
“Kamu ngomong apan si Ven, kamu
udah gila ya???” kataku sok nggak tau apa-apa.
“Yang sms aku kemarin malem kamu
kan??”
“Yeee kamu GR banget sich jadi
cewek, aku Cuma bercanda kaleee... mana mungkin aku suka sama cewek nggak modis
kayak kamu!” setelah aku bicara seperti itu semua orang tertawain dia, aku
begitu mengerti bagaimana malunya dia saat itu, tapi aku nglakuin itu emang aku
nggak pantas buat cewek sebaik dan sepintar dia.
“Kamu jahat Revo... aku benci
sama kamu!!” dia sambil nangis dan sekejab ninggalin tempat dia berdiri, waktu
itu aku hanya bisa terdiam ngeliat dia pergi.
“Kamu emang cowok nggak punya
perasaan, apa sih yang ada diotak kamu. Selama ini Veni baik banget karena dia
suka sama kamu sejak kelas 1 SMP. Harapan terbesar dia udah kamu hancurin
begitu saja, puas kamu sekarang. Puas!!!” berontak salah satu sahabat Veni
membuat aku begitu menyesal telah permalukan dia di depan banyak orang.
Tiga hari pun berlalu dan sampai
waktu itu Veni masih belum masuk sekolah. Aku selalu menunggu dan ingin banget
minta maaf lalu ngungkapin perasaanku sekali lagi. Di hari keempat pun aku
terus berharap agar hari itu Veni masuk sekolah. Tapi baru aja aku menginjak
lantai di kelasku, aku melihat semuanya menangis begitu sedih.
“Ada apa ini??” tanyaku begitu
penasaran.
“Venita, Rev ... Venita udah
pergi!!!” jawab salah satu temanku.
“Pergi, pergi kemana???” tanyaku
semakin nggak ngerti.
“Venita meninggal Rev, dia
kecelakaan tadi malam, waktu pulang dari rumah tantenya di Malang. Katanya bus
yang ia tumpangi mengalami kecelakaan!!” jelas salah satu temanku.
“Ka...ka...kamu bercanda kan???”
Aku
begitu syok mendengar hal itu, tanpa berpikir panjang aku berlari ke parkiran,
ngambil motor ku langsung tancap gas aku kencengin karena aku ingin cepat
sampai di rumahnya Venita.
Setelah
sepeninggal Venita, penyesalan itu selalu menghantui aku. Sekarang aku
benar-benar merasa kehilangan separuh jiwaku yang membuat aku terpukul sekali.
Sekarang aku lebih sering berdiam diri di kamar, bicarapun jarang. Aku
benar-benar seperti orang gila. Tapi aku inget nasihat Veni, kalau aku nggak
boleh patah semangat, karena itu aku putuskan pindah ke Bogor, tinggal di rumah
nenekku.
Sumber : majalah wisanggeni SMAN
Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif,
kreatif dan mandiri
Edisi : Maret 2008
No comments:
Post a Comment