Thursday, 17 September 2015

True Love



Tak pernah aku percaya,
dalam setiap sentuhannya,
yang tak bisa aku baca,
aku selalu merasa dia ada,
ada dalam setiap tatapan pelupuk mata,
tapi aku tak pernah sadar,
ia pergi tinggalkan sepi.

          Terdengar nada indah itu jelas diantara mimpiku, ku coba meraba lantunan indah nan merdu itu. Bermimpikah aku? Tidak kini aku jelas terbangun, mataku tlah terbuka lebar menatap cahaya pagi.
          “Salsa ayo bangun!cepetan ntar aku tinggal?!”
Suara itu begitu berisik di telingaku, ya ... aku rasa ini yang disebut polusi suara, benar-benar menggangguku.
          “Salsa ... jadi nggak sih?”
Aku belum juga hiraukan suara itu.
          “Jadi ikut nggak sih...?”
Kakakku membuka pintu kamarku dengan kerasnya, seolah tak ada kelembutan di hatinya.
          “Oky, kakak sungguh berisik, tunggu aku di luar 5 menit lagi aku turun you know?!”.
          “Baik... hanya 5 menitttt.”
Beranjak aku dari tempat tidurku meneguk segelas air putih yang disiapkan bi’ Ijah di kamarku dan sepotong roti selai sebagai makanan pembuka sebelum aku berangkat olahraga.
          “Kak, kita ke taman kota aja pasti ramai!”. Ajakku spontan pada kakak yang menantiku setengah jam yang lalu.
          “Oky, tapi kamu harus beliin aku bubur ayam, energiku habis untuk nunggu orang yang tak penting seperti kamu”.
Kini aku semakin kesal, kenapa dia harus jadi kakakku padahal aku berharap punya kakak yang lembut dan selalu menyayangi aku. Aku terus berlari mengikutinya, dengan disk man yang terpasang di telinganya seolah tak menghiraukan langkahku yang dari tadi mengikutinya.
          “Bang Jon... bubur ayam satu mangkuk nggak pake’ seledri ya, cepet!”
Gayanya yang sok perintah membuat aku semakin muak melihatnya.
          “Aku juga satu bang!”
          “Baik non”.
Aku duduk di sampingnya tapi tetep saja tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Tiba-tiba dia berdiri dan mengambilkan aku meja untuk tempat makan kami. Kalau kakak seperti ini terus betapa bahagianya aku.
          “Kak ... kakak sebenarnya sayang nggak sih sama aku?”,
Hanya belaian tangannya yang membelai rambutku dengan sedikit senyum manis di hadapanku.
          “Makan buburnya ntar keburu dingin!”
Aku mulai melahap bubur ayam lezat itu, dan kamu pulang karena mentari semakin berdiri tegak menyinari kami. Sesampai di rumah, Bi’ Ijah sudah menyiapkan sarapan untuk kami berdua karena hari ini Ayah dan Bunda pergi ke luar kota untuk mengurus perpindahan kakakku yang akan menetap di Kalimantan. Kadang aku berharap kakak segera pergi dari rumah agar tidak ada lagi yang mengganggu ketenanganku, tapi kadang aku merasa bahagia mempunyai kakak yang begitu menyayangiku.
          “Sal... nanti teman kakak dan adiknya akan kesini ngambil file-file yang kakak taruh di meja computer, kamu jangan lupa, awas sampai lupa!”
          “Ya...ya file di meja kerja!”
Bergegas kak Rahmat menuju kamarnya membereskan sisa baju yang sudah aku taruh di travel bagnya. Aku rasa kak Rahmat perginya akan lama karena dia membawa sebagian baju-bajunya.
          “Kak...emangnya kakak lama ya...?”
          “Enggak cuman 3 hari, kenapa sedih...?” sambil menatapku kak Rahmat menunggu jawabanku. Tapi aku berusaha mengelak dengan berkata “Tidak”.
Sebenarnya aku merasa sedih, walau dia bukan kakak kandungku tapi aku bisa merasakan hari-hariku bersamanya.
          “Bik...aku pergi, jaga rumah dan Salsa, jangan boleh dia keluar rumah sebelum ayah dan bunda datang nanti malam, dan kamu Salsa jangan lupa pesan kakak tadi. Kakak berangkat dulu jangan nakal.”
          “Iya ... iya udah sana pergi!”
Aku mengantarkannya sampai depan pintu gerbang rumah, setelah aku masuk rumah, bik Ijah memanggilku katanya ada yang mencari kakak.
          “Suruh tunggu ys bik, aku masih mandi”. Teriak ku dalam kamar mandi.
          “Iya non”.
Aku tenggok dari kamarku, siapa sebenarnya yang datang, wau dua cowok cakep yang satu kelihatan seusiaku, mungkin itu adik kak Teguh yang diceritakan kak Rahmat tadi.
          “Kak Teguh...”
Aku mencoba mnyapa teman kakak ku dengan ramah.
          “Hai Salsa, kamu udah gedhe ya...”. Sapa kak Teguh dengan ramah.
          “Mau ambil file ya ...”
          “Iya, kak Rahmatnya ada?”
          “Udah berangkat.”
          “Baru aja”
          “aduh...”
          “Tenang filenya ada di aku kok.”
Aku beranjak untuk mengambil file yang ada di meja komputer, tapi aku bingung yang mana filenya? Aku ambil saja yang berwarna merah... mungkin itu file filenya. Dan ku serahkan ke Kak Teguh.
          “Makasih ya Sal, oiya kenalin ini Vian adik ku.
          “Hai Salsa”
Bermula dari pengenalan itu aku mengenal Vian, selama kak Rahmat pergi, Vianlah yang selalu menemaniku, apalagi jika ayah dan bunda pergi ke Magetan mengunjungi nenek yang sedang sakit. Aku seperti dekat dengan kak Rahmat, ya Vian selalu menciptakan hal-hal yang mirip dengan kak Rahmat. Semakin lama kami semakin dekat dan suatu saat Vian bertanya kepadaku, apakah aku mencintai Vian? Aku tak mau mengingkari bahwa aku juga mencintai Vian. Sembari menunggu pengumuman, Setelah satu tahun kak Rahmat di Kalimantan dia pulang karena studynya telah selesai. Aku mencoba bercerita kepadanya tentang hubunganku dengan Vian.
          “Salsa, Kamu udah gedhe seharusnya kamu udah bisa memutuskan semuanya sendiri. Kakak mengijinkan tapi sekolah kamu nggak boleh keteteran. Dan kamu harus tahu mana yang baik dan mana yang tak baik.” Nasihat kak Rahmat akan selalu aku ingat dalam hatiku.
          Setiap hari Sabtu, aku, kak Rahmat, kak Teguh, dan Vian selalu makan bersama ayah dan bunda di rumah. Ayah dan bunda sudah lama mengenal kak Teguh dan Vian, ya karena kak Teguh adalah teman kak Rahmat sejak SD. Aku dan Vian memang pacaran tapi kami tidak seperti orang pacaran, lebih tepat kami seperti sepasang sahabat. Tak jarang Vian mengajak teman ceweknya ke rumah jika mereka habis jalan-jalan naik motor berdua dan aku selalu bilang ke Vian jika aku kagum ataupun jalan bareng sama cowok yang suka sama aku  dan nggak jarang aku ketemu Vian pas lagi jalan bareng. Tapi kami nggak pernah saling marahan, karena kami saling percaya dan kami saling terbuka. Kak Rahmat selalu mengajari aku untuk memulai suatu hubungan dengan keterbukaan. Aku dan Vian selalu mengingat akan hal itu walau usia kami masih belia, aku yang sekarang masih melalui proses untuk ke SMU, dan Vian yang menghadapi SPMB di Solo karena dia ingin masuk fakultas kedokteran di sana. Selasa 14 Februari 2001, aku dan Vian berencana merayakan hari kasih sayang bersama kak Rahmat dan kak Teguh di sebuah rumah makan sederhana tempat biasa aku dan Vian makan setelah pulang les. Sebenarnya aku ingin memberi kak Rahmat dan Vian sebuah kado yang sama karena menurutku mereka berdua adalah orang yang paling aku sayangi. Aku mencoba menghubungi Andri teman sekaligus sohib aku. Aku ingin meminta dia untuk membantu memilihkan kado untuk mereka berdua. Mungkin sebuah kaos, atau jaket jins yang sama.
          “Sal... kamu nggak ijin dulu ma Vian kalau kamu akan pergi ma aku?” tanya Andri spontan.
          “Nggak usah toh biasanya juga seperti ini kan, pergi berdua tanpa seijin Vian. Lagian dia nggak akan marah kok, dia kan percaya ma aku.” Jawab ku bercanda.
          “Kalian enak ya. Nggak seperti aku. Kalau aja cewek ku tau ini aku jalan sama cewek lain, uhhhh pasti dia marah banget.” Jawab Andri lesu.
          “Mangkanya cinta itu harus saling percaya, itulah yang dinamakan true love.” Kataku sambil menasehati Andri. Sesampainya di toko baju atau bisa dibilang toko khusus for cowok. Aku dan Andri memilih-milih kaos. Dan akhirnya Andri menemukan sepasang jaket warna kelabu yang aku fikir cocok untuk kak Rahmat dan Vian. Malamnya kami berempat jalan berempat, makan bersama dan merayakan hari kasih sayang. Hari itu adalah hari yang indah bagiku, aku bisa merasakan hangatnya cinta kasih mereka ke aku, dan aku berdoa semoga cinta kami abadi dalam hati. Esok lusa kak Rahmat dan kak Teguh akan mengantar Vian ke Solo untuk beberapa hari. Sesaat aku terasa berat untuk melepas kepergian mereka, entah apa yang terjadi dalam hatiku. Setelah berunding akhirnya kak Rahmat memilih menemaniku di rumah.
          “Salsa ... kamu kenapa?” Vian tiba-tiba bertanya kepadaku.
          “Aku takut kehilangan kamu?” jawabku singkat karena aku tak tahu harus berkata apalagi.
          “Heeiii Salsa kamu nggak boleh bicara kayak gitu, Vian nggak akan ninggalin kamu selamannya. Dia pergi hanya 3 hari untuk ikut tes.” Jawab kak Teguh menenangkan aku.
          “Iya ... Teguhkah temani Vian selama di Solo jadi kamu tenang aja.” Kak Rahmat juga menenangkan aku.
          “Salsa... kamu percaya ma aku kan?” kata-kata Vian sebelum naik ke atas motornya, ... dengan sebuah kalung putih yang bertuliskan namaku yang terukir di salah satu cela dari kalung indah itu. Selamat jalan Vian, kata itu spontan terlontar dalam hatiku walau aku tak tahu apa artinya itu.
          ***
          “Kriiiing...kriiiing...” telephone rumah berdering sangat keras sampai membangunkan seisi rumahku, “Hallo selamat malam?” aku dengar kak Rahmat yang mengangkat telepon itu.
          “Teguh, ada apa?”
Sepintas kak Rahmat menyebut nama kak Teguh, beranjaklah aku dari tempat tidurku. Tak lama kak Rahmat bergegas pergi tanpa memberi tau apa yang terjadi, aku terus bertanya, tapi sifat egoisnya kumat. Hanya diam dan pergi, itu yang aku tau setelah kak Rahmat menutup teleponnya. Hampir semalaman aku tak tidur menunggu kabar dari kak Rahmat bersama bik Ijah yang setia di sampingku. Setelah kira-kira pukul sepuluh, telepon yang kami tunggu-tunggu berdering, aku bergegas mengangkat telepon itu.
          “Hallo, kak Rahmat ada apa?”.
          “Aku akan pulang nanti malam, kamu jaga rumah baik-baik.”
Kak Rahmat segera menutup teleponnya tanpa memberi penjelasan kepadaku. Aku semakin bingung tak tau apa yang terjadi. Bik Ijah mencoba beberapa kali menenangkan aku, tapi aku tak memperdulikannya. Aku sahut gagang telepon dan mencoba menhubungi hp kak Rahmat, tapi tak ada jawaban. Hp Vian dan kak Teguh juga tak aktif. Aku mulai curiga, perasaanku semakin tak enak. Berdebar ketakutan walau aku tak tahu kenapa aku takut.
          “Non Salsa makan ya ... bibik udah siapin.” Bik Ijah mulai mengkhawatirkan aku.
          “Nggak bik aku masih kenyang.” Jawabku singkat kepada bik Ijah.
Aku rasa bik Ijah mengerti dan langsung meninggalkan aku yang sendiri duduk di sofa sebelah telepon. Sudah beberapa jam aku berdiri disini, tak lama, telepon berdering lagi,
          “Kak Rahmat apa yang terjadi beri tau aku kak?!” sapa ku cepat kepada kak Rahmat tanpa memberi dia kesempatan bicara.
          “Salsa kamu tau kenapa kakak menjemput Teguh dan Vian tadi malam?” tanya kakak semakin membuat aku penasaran dan takut.
          “Salsa, aku dan Teguh akan mengantar jenazah Vian pulang, maafkan kami Salsa...! jawab kak Rahmat yang membuat aku terpaku tak percaya ini.
          “Apa maksudnya kak???”
          “Semalem Teguh dan Vian mengalami kecelakaan di dekat rel kereta api di Tuban. Sebenarnya kecelakaan itu tidak parah hanya terpeleset saja, tapi Allah tlah memanggil Vian, kamu harus ikhlas ya ...”
Tanpa ku sadari air mataku menetes seketika dan tubuhku serasa sangat lemas, aku melepas gagang telepon begitu saja walau kak Rahmat meronta-ronta meminta jawabanku. Ku peluk bik Ija terus bertanya apa yang terjadi tapi mulutku serasa terkunci tak bisa berkata apapun. 20:30 jam dindingku, aku mendengar suara motor kak Rahmat dari depan pintu gerbang. Tanpa berfikir panjang aku berlari menghampiri kak Rahmat yang sedang memarkir motornya di garasi samping rumah.
          “Kak...”
          “Salsa...”
          “Vian mana...?”
          Dekapan kak Rahmat memeluk tubuhku yang tak bertenaga ini.
          “Salsa pemakaman akan di lakukan pukul 06:00 besok”
          “Kakak bohongkan?”
          Kak Rahmat menuntunku membawaku menuju ke dalam rumah. Ternyata  bi Ija sudah menunggu jawaban dari kak Rahmat.
          “Den ... ada apa?”
          “Salsa udah makan bik?”
          “Dari tadi pagi non Salsa belum makan sama sekali.”
          “Apa????, kenapa kamu tidak makan, Salsa? Ntar kamu sakit dan pantas badan kamu lemas dan panas”
          Kak Rahmat menuntunku menuju kamar. Sebenarnya aku ingin menjerit tapi mulutku rapat terkunci. Kak Rahmat menemaniku semalaman tidur di sofa yang ada dikamarku hingga jam beker ku menunjukkan pukul 04:00 dini hari, kak rahmat sudah siap untuk menghadiri pemakaman Vian, sebenarnya aku masih sanksi tapi aku paksakan tubuhku untuk percaya. Aku, bik Ija dan kak Rahmat berangkat ke rumah Vian dengan mobil kak Rahmat pada pukul 05:00. Aku lihat di kejauhan rumah Vian tampak ramai dengan banyak orang yang berpakaian hitam. Tangan kak Rahmat erat memegang tanganku. Di depan pintu rumah Vian, tubuhku terasa lemas tak kuasa untuk turun dari mobil. Aku lihat kak Teguh sudah berdiri menyambut kamu.
          “Salsa ... ayo turun”
          Aku pandang wajah kak Teguh yang kusut. Aku mulai meneteskan air mata walau aku masih belum percaya dengan semua ini. Akhirnya kami turun dari mobil dan menuju beranda rumah kak Teguh yang sudah dipenuhi orang. Sesekali aku mendengar suara Vian di telingaku. Di pintu, langkahku berhenti tak ingin aku melihat. Dan beberapa orang membopong keranda lewat depanku. Tangan kak Rahmat menggandengku ikut dalam rombongan itu. Aku liahat batu nisan itu bertuliskan VIAN WAHYU DWI SAPUTRA. Nama itu tampak jelas menjawab semua keraguanku dan aku benar-benar baru sadar dia telah tiada untuk selamanya.

Kini, kau telah pergi
Menuju peraduan abadi
Meninggalkan hati ini sendiri
Meninggalkan tawamu di hati
Kepercayaan itu
Masih jelas terukir jauh dalam hatiku
Kini
Ku tak bisa melihat jasadmu
Kita
Ku tak bisa mendengar suaramu lagi
Ku tak bisa merasakan belaianmu lagi
Tapi aku merasa kau tetap disisiku
Menemani sepi hatiku
Karena kau adalah citaku
Cinta abadiku
Yang tak kan musnah terbawa waktu.

          “Mungkin kata-kata emas ini yang akan mengantar kepergianmu dan juga sebagai selaput pemisah antara kita. Tapi aku percaya kau tetap ada menemani hati yang sepi ini.” Dalam hati ku sembari ku pandang makan Vian.

Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Juni 2006

No comments:

Post a Comment