Tak pernah aku percaya,
dalam setiap sentuhannya,
yang tak bisa aku baca,
aku selalu merasa dia ada,
ada dalam setiap tatapan pelupuk mata,
tapi aku tak pernah sadar,
ia pergi tinggalkan sepi.
Terdengar
nada indah itu jelas diantara mimpiku, ku coba meraba lantunan indah nan merdu
itu. Bermimpikah aku? Tidak kini aku jelas terbangun, mataku tlah terbuka lebar
menatap cahaya pagi.
“Salsa
ayo bangun!cepetan ntar aku tinggal?!”
Suara itu begitu berisik di telingaku, ya
... aku rasa ini yang disebut polusi suara, benar-benar menggangguku.
“Salsa
... jadi nggak sih?”
Aku belum juga hiraukan suara itu.
“Jadi
ikut nggak sih...?”
Kakakku membuka pintu kamarku dengan
kerasnya, seolah tak ada kelembutan di hatinya.
“Oky,
kakak sungguh berisik, tunggu aku di luar 5 menit lagi aku turun you know?!”.
“Baik...
hanya 5 menitttt.”
Beranjak aku dari tempat tidurku meneguk
segelas air putih yang disiapkan bi’ Ijah di kamarku dan sepotong roti selai
sebagai makanan pembuka sebelum aku berangkat olahraga.
“Kak,
kita ke taman kota aja pasti ramai!”. Ajakku spontan pada kakak yang menantiku
setengah jam yang lalu.
“Oky,
tapi kamu harus beliin aku bubur ayam, energiku habis untuk nunggu orang yang
tak penting seperti kamu”.
Kini aku semakin kesal, kenapa dia harus
jadi kakakku padahal aku berharap punya kakak yang lembut dan selalu menyayangi
aku. Aku terus berlari mengikutinya, dengan disk man yang terpasang di
telinganya seolah tak menghiraukan langkahku yang dari tadi mengikutinya.
“Bang
Jon... bubur ayam satu mangkuk nggak pake’ seledri ya, cepet!”
Gayanya yang sok perintah membuat aku
semakin muak melihatnya.
“Aku
juga satu bang!”
“Baik
non”.
Aku duduk di sampingnya tapi tetep saja
tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Tiba-tiba dia berdiri dan mengambilkan
aku meja untuk tempat makan kami. Kalau kakak seperti ini terus betapa
bahagianya aku.
“Kak
... kakak sebenarnya sayang nggak sih sama aku?”,
Hanya belaian tangannya yang membelai
rambutku dengan sedikit senyum manis di hadapanku.
“Makan
buburnya ntar keburu dingin!”
Aku mulai melahap bubur ayam lezat itu,
dan kamu pulang karena mentari semakin berdiri tegak menyinari kami. Sesampai
di rumah, Bi’ Ijah sudah menyiapkan sarapan untuk kami berdua karena hari ini
Ayah dan Bunda pergi ke luar kota untuk mengurus perpindahan kakakku yang akan
menetap di Kalimantan. Kadang aku berharap kakak segera pergi dari rumah agar
tidak ada lagi yang mengganggu ketenanganku, tapi kadang aku merasa bahagia
mempunyai kakak yang begitu menyayangiku.
“Sal...
nanti teman kakak dan adiknya akan kesini ngambil file-file yang kakak taruh di
meja computer, kamu jangan lupa, awas sampai lupa!”
“Ya...ya
file di meja kerja!”
Bergegas kak Rahmat menuju kamarnya
membereskan sisa baju yang sudah aku taruh di travel bagnya. Aku rasa kak
Rahmat perginya akan lama karena dia membawa sebagian baju-bajunya.
“Kak...emangnya
kakak lama ya...?”
“Enggak
cuman 3 hari, kenapa sedih...?” sambil menatapku kak Rahmat menunggu jawabanku.
Tapi aku berusaha mengelak dengan berkata “Tidak”.
Sebenarnya aku merasa sedih, walau dia
bukan kakak kandungku tapi aku bisa merasakan hari-hariku bersamanya.
“Bik...aku
pergi, jaga rumah dan Salsa, jangan boleh dia keluar rumah sebelum ayah dan
bunda datang nanti malam, dan kamu Salsa jangan lupa pesan kakak tadi. Kakak
berangkat dulu jangan nakal.”
“Iya
... iya udah sana pergi!”
Aku mengantarkannya sampai depan pintu
gerbang rumah, setelah aku masuk rumah, bik Ijah memanggilku katanya ada yang
mencari kakak.
“Suruh
tunggu ys bik, aku masih mandi”. Teriak ku dalam kamar mandi.
“Iya
non”.
Aku tenggok dari kamarku, siapa sebenarnya
yang datang, wau dua cowok cakep yang satu kelihatan seusiaku, mungkin itu adik
kak Teguh yang diceritakan kak Rahmat tadi.
“Kak
Teguh...”
Aku mencoba mnyapa teman kakak ku dengan
ramah.
“Hai
Salsa, kamu udah gedhe ya...”. Sapa kak Teguh dengan ramah.
“Mau
ambil file ya ...”
“Iya,
kak Rahmatnya ada?”
“Udah
berangkat.”
“Baru
aja”
“aduh...”
“Tenang
filenya ada di aku kok.”
Aku beranjak untuk mengambil file yang ada
di meja komputer, tapi aku bingung yang mana filenya? Aku ambil saja yang
berwarna merah... mungkin itu file filenya. Dan ku serahkan ke Kak Teguh.
“Makasih
ya Sal, oiya kenalin ini Vian adik ku.
“Hai
Salsa”
Bermula dari pengenalan itu aku mengenal
Vian, selama kak Rahmat pergi, Vianlah yang selalu menemaniku, apalagi jika
ayah dan bunda pergi ke Magetan mengunjungi nenek yang sedang sakit. Aku seperti
dekat dengan kak Rahmat, ya Vian selalu menciptakan hal-hal yang mirip dengan
kak Rahmat. Semakin lama kami semakin dekat dan suatu saat Vian bertanya
kepadaku, apakah aku mencintai Vian? Aku tak mau mengingkari bahwa aku juga
mencintai Vian. Sembari menunggu pengumuman, Setelah satu tahun kak Rahmat di
Kalimantan dia pulang karena studynya telah selesai. Aku mencoba bercerita
kepadanya tentang hubunganku dengan Vian.
“Salsa,
Kamu udah gedhe seharusnya kamu udah bisa memutuskan semuanya sendiri. Kakak mengijinkan
tapi sekolah kamu nggak boleh keteteran. Dan kamu harus tahu mana yang baik dan
mana yang tak baik.” Nasihat kak Rahmat akan selalu aku ingat dalam hatiku.
Setiap
hari Sabtu, aku, kak Rahmat, kak Teguh, dan Vian selalu makan bersama ayah dan bunda
di rumah. Ayah dan bunda sudah lama mengenal kak Teguh dan Vian, ya karena kak
Teguh adalah teman kak Rahmat sejak SD. Aku dan Vian memang pacaran tapi kami
tidak seperti orang pacaran, lebih tepat kami seperti sepasang sahabat. Tak
jarang Vian mengajak teman ceweknya ke rumah jika mereka habis jalan-jalan naik
motor berdua dan aku selalu bilang ke Vian jika aku kagum ataupun jalan bareng
sama cowok yang suka sama aku dan nggak
jarang aku ketemu Vian pas lagi jalan bareng. Tapi kami nggak pernah saling
marahan, karena kami saling percaya dan kami saling terbuka. Kak Rahmat selalu
mengajari aku untuk memulai suatu hubungan dengan keterbukaan. Aku dan Vian
selalu mengingat akan hal itu walau usia kami masih belia, aku yang sekarang
masih melalui proses untuk ke SMU, dan Vian yang menghadapi SPMB di Solo karena
dia ingin masuk fakultas kedokteran di sana. Selasa 14 Februari 2001, aku dan
Vian berencana merayakan hari kasih sayang bersama kak Rahmat dan kak Teguh di sebuah
rumah makan sederhana tempat biasa aku dan Vian makan setelah pulang les.
Sebenarnya aku ingin memberi kak Rahmat dan Vian sebuah kado yang sama karena
menurutku mereka berdua adalah orang yang paling aku sayangi. Aku mencoba menghubungi
Andri teman sekaligus sohib aku. Aku ingin meminta dia untuk membantu
memilihkan kado untuk mereka berdua. Mungkin sebuah kaos, atau jaket jins yang
sama.
“Sal...
kamu nggak ijin dulu ma Vian kalau kamu akan pergi ma aku?” tanya Andri
spontan.
“Nggak
usah toh biasanya juga seperti ini kan, pergi berdua tanpa seijin Vian. Lagian
dia nggak akan marah kok, dia kan percaya ma aku.” Jawab ku bercanda.
“Kalian
enak ya. Nggak seperti aku. Kalau aja cewek ku tau ini aku jalan sama cewek
lain, uhhhh pasti dia marah banget.” Jawab Andri lesu.
“Mangkanya
cinta itu harus saling percaya, itulah yang dinamakan true love.” Kataku sambil
menasehati Andri. Sesampainya di toko baju atau bisa dibilang toko khusus for
cowok. Aku dan Andri memilih-milih kaos. Dan akhirnya Andri menemukan sepasang
jaket warna kelabu yang aku fikir cocok untuk kak Rahmat dan Vian. Malamnya
kami berempat jalan berempat, makan bersama dan merayakan hari kasih sayang.
Hari itu adalah hari yang indah bagiku, aku bisa merasakan hangatnya cinta
kasih mereka ke aku, dan aku berdoa semoga cinta kami abadi dalam hati. Esok
lusa kak Rahmat dan kak Teguh akan mengantar Vian ke Solo untuk beberapa hari.
Sesaat aku terasa berat untuk melepas kepergian mereka, entah apa yang terjadi
dalam hatiku. Setelah berunding akhirnya kak Rahmat memilih menemaniku di
rumah.
“Salsa
... kamu kenapa?” Vian tiba-tiba bertanya kepadaku.
“Aku
takut kehilangan kamu?” jawabku singkat karena aku tak tahu harus berkata
apalagi.
“Heeiii
Salsa kamu nggak boleh bicara kayak gitu, Vian nggak akan ninggalin kamu
selamannya. Dia pergi hanya 3 hari untuk ikut tes.” Jawab kak Teguh menenangkan
aku.
“Iya
... Teguhkah temani Vian selama di Solo jadi kamu tenang aja.” Kak Rahmat juga
menenangkan aku.
“Salsa...
kamu percaya ma aku kan?” kata-kata Vian sebelum naik ke atas motornya, ...
dengan sebuah kalung putih yang bertuliskan namaku yang terukir di salah satu
cela dari kalung indah itu. Selamat jalan Vian, kata itu spontan terlontar
dalam hatiku walau aku tak tahu apa artinya itu.
***
“Kriiiing...kriiiing...”
telephone rumah berdering sangat keras sampai membangunkan seisi rumahku,
“Hallo selamat malam?” aku dengar kak Rahmat yang mengangkat telepon itu.
“Teguh,
ada apa?”
Sepintas kak Rahmat menyebut nama kak
Teguh, beranjaklah aku dari tempat tidurku. Tak lama kak Rahmat bergegas pergi
tanpa memberi tau apa yang terjadi, aku terus bertanya, tapi sifat egoisnya
kumat. Hanya diam dan pergi, itu yang aku tau setelah kak Rahmat menutup
teleponnya. Hampir semalaman aku tak tidur menunggu kabar dari kak Rahmat
bersama bik Ijah yang setia di sampingku. Setelah kira-kira pukul sepuluh,
telepon yang kami tunggu-tunggu berdering, aku bergegas mengangkat telepon itu.
“Hallo,
kak Rahmat ada apa?”.
“Aku
akan pulang nanti malam, kamu jaga rumah baik-baik.”
Kak Rahmat segera menutup teleponnya tanpa
memberi penjelasan kepadaku. Aku semakin bingung tak tau apa yang terjadi. Bik
Ijah mencoba beberapa kali menenangkan aku, tapi aku tak memperdulikannya. Aku
sahut gagang telepon dan mencoba menhubungi hp kak Rahmat, tapi tak ada
jawaban. Hp Vian dan kak Teguh juga tak aktif. Aku mulai curiga, perasaanku
semakin tak enak. Berdebar ketakutan walau aku tak tahu kenapa aku takut.
“Non
Salsa makan ya ... bibik udah siapin.” Bik Ijah mulai mengkhawatirkan aku.
“Nggak
bik aku masih kenyang.” Jawabku singkat kepada bik Ijah.
Aku rasa bik Ijah mengerti dan langsung
meninggalkan aku yang sendiri duduk di sofa sebelah telepon. Sudah beberapa jam
aku berdiri disini, tak lama, telepon berdering lagi,
“Kak
Rahmat apa yang terjadi beri tau aku kak?!” sapa ku cepat kepada kak Rahmat
tanpa memberi dia kesempatan bicara.
“Salsa
kamu tau kenapa kakak menjemput Teguh dan Vian tadi malam?” tanya kakak semakin
membuat aku penasaran dan takut.
“Salsa,
aku dan Teguh akan mengantar jenazah Vian pulang, maafkan kami Salsa...! jawab
kak Rahmat yang membuat aku terpaku tak percaya ini.
“Apa
maksudnya kak???”
“Semalem
Teguh dan Vian mengalami kecelakaan di dekat rel kereta api di Tuban.
Sebenarnya kecelakaan itu tidak parah hanya terpeleset saja, tapi Allah tlah
memanggil Vian, kamu harus ikhlas ya ...”
Tanpa ku sadari air mataku menetes
seketika dan tubuhku serasa sangat lemas, aku melepas gagang telepon begitu
saja walau kak Rahmat meronta-ronta meminta jawabanku. Ku peluk bik Ija terus
bertanya apa yang terjadi tapi mulutku serasa terkunci tak bisa berkata apapun.
20:30 jam dindingku, aku mendengar suara motor kak Rahmat dari depan pintu
gerbang. Tanpa berfikir panjang aku berlari menghampiri kak Rahmat yang sedang
memarkir motornya di garasi samping rumah.
“Kak...”
“Salsa...”
“Vian
mana...?”
Dekapan
kak Rahmat memeluk tubuhku yang tak bertenaga ini.
“Salsa
pemakaman akan di lakukan pukul 06:00 besok”
“Kakak
bohongkan?”
Kak
Rahmat menuntunku membawaku menuju ke dalam rumah. Ternyata bi Ija sudah menunggu jawaban dari kak
Rahmat.
“Den
... ada apa?”
“Salsa
udah makan bik?”
“Dari
tadi pagi non Salsa belum makan sama sekali.”
“Apa????,
kenapa kamu tidak makan, Salsa? Ntar kamu sakit dan pantas badan kamu lemas dan
panas”
Kak
Rahmat menuntunku menuju kamar. Sebenarnya aku ingin menjerit tapi mulutku rapat
terkunci. Kak Rahmat menemaniku semalaman tidur di sofa yang ada dikamarku
hingga jam beker ku menunjukkan pukul 04:00 dini hari, kak rahmat sudah siap
untuk menghadiri pemakaman Vian, sebenarnya aku masih sanksi tapi aku paksakan
tubuhku untuk percaya. Aku, bik Ija dan kak Rahmat berangkat ke rumah Vian
dengan mobil kak Rahmat pada pukul 05:00. Aku lihat di kejauhan rumah Vian
tampak ramai dengan banyak orang yang berpakaian hitam. Tangan kak Rahmat erat
memegang tanganku. Di depan pintu rumah Vian, tubuhku terasa lemas tak kuasa
untuk turun dari mobil. Aku lihat kak Teguh sudah berdiri menyambut kamu.
“Salsa
... ayo turun”
Aku
pandang wajah kak Teguh yang kusut. Aku mulai meneteskan air mata walau aku
masih belum percaya dengan semua ini. Akhirnya kami turun dari mobil dan menuju
beranda rumah kak Teguh yang sudah dipenuhi orang. Sesekali aku mendengar suara
Vian di telingaku. Di pintu, langkahku berhenti tak ingin aku melihat. Dan
beberapa orang membopong keranda lewat depanku. Tangan kak Rahmat menggandengku
ikut dalam rombongan itu. Aku liahat batu nisan itu bertuliskan VIAN WAHYU DWI
SAPUTRA. Nama itu tampak jelas menjawab semua keraguanku dan aku benar-benar
baru sadar dia telah tiada untuk selamanya.
Kini, kau telah pergi
Menuju peraduan abadi
Meninggalkan hati ini sendiri
Meninggalkan tawamu di hati
Kepercayaan itu
Masih jelas terukir jauh dalam hatiku
Kini
Ku tak bisa melihat jasadmu
Kita
Ku tak bisa mendengar suaramu lagi
Ku tak bisa merasakan belaianmu lagi
Tapi aku merasa kau tetap disisiku
Menemani sepi hatiku
Karena kau adalah citaku
Cinta abadiku
Yang tak kan musnah terbawa waktu.
“Mungkin
kata-kata emas ini yang akan mengantar kepergianmu dan juga sebagai selaput
pemisah antara kita. Tapi aku percaya kau tetap ada menemani hati yang sepi
ini.” Dalam hati ku sembari ku pandang makan Vian.
Sumber : majalah wisanggeni SMAN
Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif,
kreatif dan mandiri
Edisi : Juni 2006
No comments:
Post a Comment