“A ....a...a!!!”
Terdengar
suara teriakan wanita dari dalam kelas.
“Ada apa Tari?” seorang guru bertanya.
“A... ada kecoa bu”
Jawaban
itu spontan membuat gaduh seisi kelas.
“Ha...kecoa, cepet buang!”
“Saya ... saya takut bu...” Tari
merengek.
“E ... Rega tolong buang kecoa itu!”
perintah bu guru.
Dengan berat hati terpaksa aku
mematuhi perintah bu guru untuk membuang kecoa yang ada dalam tas Tari yang
sebenarnya aku yang sengaja meletakkannya.
“He .. he .. he” aku tersenyum sambil
membuang kecoa di luar kelas.
“ya sudah .. sekarang kita lanjutkan
pelajarannya!” perintah bu guru.
Seisi kelas seolah bernafas lega,
kecuali Tari yang tampak masih ragu-ragu ketika harus kembali ke tempat duduk,
mungkin dia masih takut ada kecoa kecoa lain disekitar tempat duduknya, tapi
tentu saja itu tidak mungkin karena aku hanya meletakkan satu kecoa saja
ditasnya.
Entah mengapa semenjak aku satu kelas
dengan cewek berambut panjang ini aku jadi suka mengganggunya, mungkin karena
dia cerewet dan jutek yang pasti setiap kali dia tau aku lelah mengganggunya,
cepat atau lambat dia pasti akan membalas semua perbuatanku yang tidak jarang
membuat pertengkaran diantara kami, hingga kami saling bermusuhan, saling
dendam dan teman-teman kami berdua pasti akan menasehati kami.
“Jangan terlalu membenci nanti jadi
cinta.”
Pepatah
lama yang tentu saja tidak akan pernah terjadi, mana mungkin terlalu membenci
bisa jadi cinta, yang ada terlalu membenci bisa menjadi semakin benci, hal itu
sudah terjadi. Sudah saatu bulan ini Tari tidak pernah membalas jika aku
ganggu, padahal biasanya dia yang memulai pertengkaran jika kami saling pasif.
Bahkan setiap kali dia berpapasan denganku dia pasti membuang muka.
“Senin pagi”. Kata itu sudah cukup untuk
membuat orang paling tegar di sekolah. Gemetaran, selalu saja ada kejutan
istimewa pada hari ini seperti pidato panjang di upacara bendera, kuis
matematika mendadak atau mungkin test listening bahasa Inggris.
“Oh Tuhan ... pasti akan berat sekali
hari ini.” Keluhku sambil berjalan dikoridor menuju kelas.
“Pagi...” sapaku kepada Tari dan
Shinta sahabatnya.
“Pagi juga Rega...” Jawab Shinta
manis, tapi Tari malah membuang mukannya jauh-jauh sambil melewaatiku.
“Dicuekin lagi?” tiba-tiba Ivan ada
disampingku, aku hanya bisa menghela nafas.
“Sudahlah Reg, nggak usah dipikir, toh
cuma Tari.” Ivan menghiburku, walaupun
Cuma Tari aku menjadi merasa ada yangj kurang jika Tari seperti ini.
“Oh iya Reg kamu jadi ikut camping
minggu depan?” Ivan mengingatkanku.
“Jadi donk.” Jawabku santai.
“Padahal ada Tari lo ...”
“I don’t care.” Jawabku sambil
tersenyum.
Akhirnya tiba juga hari yang aku
tunggu-tunggu yaitu hari dimana kami akan menikmati alam bebas, lepas dari
tumpukan buku-buku dan rumus-rumus yang membingungkan. Kami sekelas akan
berkemah ke bukit perkemahan di kota tetangga. Kami berangkat ketika hari masih
sangat pagi, disepanjang perjalanan kami bernyanyi bersama diiringi oleh gitar,
terlihat Tari dan teman-temannya duduk dideretan bangku depan.
Tak terasa kami sampai di tempat
tujuan, secara bergantian kami turun dari bus. “Huh ...” aku menghirup udara
yang sejuk dan segar.
“Anak-anak kita sudah sampai di lokasi
perkemahan. Daerah ini masuk dalam cagar alam gunung Arjuno Lalijiwo, Malang.
Disini adalah jenis hutan konifer yang didominasi pepohonan pinus. Jadi kita
akan sulit sekali menemukan pohon yang buahnya bisa dimakan.”
Untuk memudahkan tugas kami, pak guru
membagi kami di dalam kelompok-kelompok dan untuk tugas pertama kami harus
membangun tendan dan menyiapkan perapian. Setelah makan malam kami harus segera
tidur agar besuk kami tidak terlalu lelah untuk siap menerima tugas lagi.
“Priiiiiiiittt......!!!” suara pluit
menandakan kami harus segera berkumpul.
“Anak-anak siang ini setiap kelompok
harus memasak sendiri untuk satu orang anggota dari setiap kelompok harus
mencari air didaerah lembah sekitar satu kilometer dari sini, kalian tidak
perlu khawatir karena disepanjang perjalanan sudah dipasang tanda agar kalian
tidak tersesat.”
Dikelompokku akulah yang terpilih
mencari air, walau aku tidak tulus menerimanya aku harus melakukannya.
Kami perkelompok di lepas tanpa pak
guru yang ikut dengan kami dalam waktu 15 menit dan ternyata aku menjadi
pengambilan air urutan kedua terbelakang sementara dengan Tari yang juga
terpilih menjadi pengambilan air, harus puas diposisi paling buncil.
“Huh...kenapa harus aku yang
melakukannya.” Keluhku sambil menggerutu.
Sekitar dipertengahan perjalanan, aku
menemukan percabangan jalan dan tanda yang menyetakan aku harus melewati jalan
yang ke kiri.
“Ups..” tiba-tiba kejahilanku kembali
muncul.
“Bukankah Tari ada dibelakangku...”
tanyaku pada diri sendiri.
“Gimana ... kalau ... begini.” Dengan
cepat aku merubah arah penanda jalan sehingga terlihat jalan yang harus
kulewati adalah jalan sebelah kanan.
“Mungkin sebaiknya aku memastikan”.
Bisikku.
Dengan cepat aku bersembunyi diantara
semak-semak pohon pinus sambil mengamati percabangan jalan. Beberapa menit
kemudian tampak Tari muncul dari ujung jalan. Ketika Tari sampai di
persimpangan jalan yang telah aku rubah sebelumnya, tanpa pikir panjang Tari
langsung mengikuti arah sesuai petunjuk.
“Yes...kena...kau...” Ucapku sambil
tersenyum.
Setelah melihat-lihat keadaan, akupun
keluar dari persembunyianku dan dengan cepat aku mengembalikan penanda jalan
keposisi semula dengan senyum kemenangan dan aku pun melanjutkan perjalanan ku
untuk mencari air.
Malam telah menjelang, langit hutan
semakin jauh dari terang, aku dan teman-teman satu kelompok duduk santai
didekat perapian diluar tenda sambil menikmati makan malam.
“Reg... Rega...!”
“Ada apa Shin? Kok bingung begitu?”
tanya Ivan kepada Shinta.
“Rega tadi kamukan yang ada didepan
Tari, waktu ngambil air.” Tanya Shinta dengan nafas tersengal-sengal.
“Iya..emang kenapa?” tanyaku santai.
“Sampai sekarang dia belum kembali ke
tenda”.
“Ha...!!”
“Tadi dijalan tidak ada apa-apa kan?”
tanya Shinta gelisah.
“Jangan-jangan !!”
“Jangan-jangan apa Reg?”
“Gimana mungkin dia tersesat padahal
kamu bisa pulang dengan selamat.”
Aku bingung dan panik, mengapa ini
bisa terjadi padahal aku tidak berniat mencelakainya.
“Gimana ini Reg?!!” tanya Shinta panik
“Aku udah nyelakainya...” jawabku
dengan pikiran kosong.
“A..apa maksudmu?”
“Aku telah merubah penanda dijalan.”
“Gimana kamu sih Reg, kamu pingin dia
mati. Ini di hutan kalau mau ngerjain jangan kelewatan donk.”
“Bukan ... bukan itu maksud ..”
“Ah..kamu memang jahat Reg, gimana
kalau ada binatang buas???”
“Aku .. aku ..”
“Padahal dia sangat mencintaimu Reg,
dia sengaja nggak nyapa kamu karena dia pingin ngelupain kamu.”
Aku tersentak mendengarnya, aku
semakin panik dan bingung, kepalaku seolah mau pecah, dengan sisa harapan yang
ada aku menyambar senter dari gantungan ditenda, aku berlari ke arah hutan yang
terlihat gelap dan menakutkan.
“Tar.. Tari jawab aku tar.” Teriak ku.
Semakin jauh aku memasuki hutan
suasananya menjadi semakin sunyi dan menakutkan tetapi aku segera aku segera
menepis perasaan itu demi orang yang telah aku celakai yang mungkin sedang
menangis ketakutan, kedinginan dan putus asa didalam hutan sana.
“Tar...Tari..” aku semakin panik
karena tak ada tanda-tanda suara kehidupan.
Kakiku semakin jauh memasuki hutan,
suasana semakin sepi, suara jangkrik dan burung-burung malam tak mampu
memberiku semangat.
“Tar...” aku melunglai dan putus asa,
aku duduk disebatang akar pinus yang besar, pikirku kosong dan mataku
berkaca-kaca.
“Reg...apa itu kau?” terdengar suara
yang tak asing bagiku.
“Tari...dimana kamu?”
“Disebelah sini Reg.” Suara melemah.
Seolah
tenagaku kembali pulih, aku arahkan senter keseluruh penjuru hutan.
“Tar..” aku bernafas lega ketika
melihatnya bersandar disebatang pohon.
“Apa kamu sendiri Reg?”
“Ya...oh tidak, sebentar lagi
teman-teman pasti akan menyusul.”
“Sebaiknya kita segera pergi dari
tempat ini.” Pintaku segera.
“Tapi aku nggak bisa jalan.”
Ya Tuhan apa yang telah aku perbuat
padanya, hingga dia jadi seperti ini, ini semua salahku...
“Aku akan menggendongmu dipunggungku.”
“Ha...kurasa tidak, aku akan bertahan
disini sampai teman-teman datang.”
“Tapi kondisimu sudah sangat lemah.”
“Aku masih bisa bertahan.” Tari
bersikeras.
“Ah ayolah.”
Meskipun
menolak aku tetap menggendong Tari dipunggungku, aku membawanya sambil
mengira-ngira jalan yang aku lalui, tapi aku rasa kami hanya berputar-putar
dihutan ini saja, bahkan aku sudah melewati hutan ini 3 kali.
“Kita hanya berputar-putar saja kan
Reg?” Tanya Tari dengan lemah dan aku tidak mampu menjawabnya karena itu benar.
“Aku juga sudah mengalaminya tadi
siang.” Tari tampak tak banyak bicara tidak seperti biasanya.
“Mungkin sebaiknya kita tunggu sampai
besok pagi dan kita akan mencari jalan keluarnya besok.”
Matahari mulai tampak bersinar cerah,
burung-burung berkicau semarak diantara dahan dan ranting pinus, seolah mereka
berlomba membangunkan kami, tapi setelah beristirahat semalaman, bukan
kebugaran yang aku rasakan melainkan tubuhku merasa lebih letih dan lunglai
bahkan akupun harus bersusah payah membangkitkan tubuhku, keringat dingin keluar
dari tubuhku.
“Tar, apa kamu baik-baik saja?”
suaraku lemah.
“Iya Reg, aku nggak apa-apa kok.”
Suaranya berbisik hampir tak terdengar, wajahnya pucat dan matanya sayu.
Aku sandarkan tubuhku disampingnya,
dia tersenyum padaku senyuman yang sepertinya sudah lama sekali tidak aku
lihat.
“Kita akan mati Reg.”
“Kita akan hidup.”
“Kamu tahu kan Reg ini adalah hutan
gunung Arjuno Lalijiwo?, nggak ada seorangpun yang akan selamat jika tersesat
dihutan ini.”
“Kitalah yang akan selamat dari hutan
yang menyesatkan.” Penggalku memberi harapan dan Tari hanya tersenyum
mendengarnya.
“Ayo kita harus segera bangkit!”
Tapi
tubuhku semakin sulit digerakkan bahkan mengangkat kepala saja aku hampir tidak
mampu dan semakin kuat aku mencoba, semakin hilang tenaga dari tubuhku. “Itulah yang terjadi jika kita tidur dibawah
pohon. Kita kehilangan banyak oksigen dari tubuh kita.” Ucap Tari sambil
tersenyum.
“Setidaknya aku mencari buah-buahan
hutan untuk kita makan kerena kita masuk terlampau jauh ke hutan, jauh dari
perkemahan”. Tari berusaha bangkit.
“Setidaknya kita ingat bahwa ini
adalah konifer yang tidak ditumbuhi pohon yang buahnya dapat di makan.” Jawabku
dengan nafas tersengal-sengal.
“Kau benar, dan pak guru akan
menemukan kita ketika tubuh kita berubah menjadi jasad.” Tari kembali
tersenyum, matanya berbinar dan tubuhnya kembali bersandar, seolah kematian
bukanlah sesuatu yang terlalu buruk baginya.
“Kenapa kamu bisa setenang itu?”
tanyaku tak percaya.
“Karena kita hanya menunggu mati.”
“Aku nggak ingin mati dengan cara
seperti ini.” Jawabku tegas.
“Tapi itulah yang akan terjadi.”
“Aku harus menebus kesalahanku padamu,
akulah yang membuatmu tersesat dengan merubah arah penunjuk jalan.” Jawabku
dengan hati hancur.
“Ya aku sudah tahu.” Jawabnya sambil
tersenyum dan itu membuat aku semakin ketakutan dan senyuman itu jelas bukan
senyuman yang baik ditengah keputus asaan.
Matahari menyinari tepat diatas tubuh
kami berdua hingga memberi kehangatan di atas sayapnya hutan.
“Kenapa kamu nggak pernah menyapaku
lagi?” ucapku ketika kemi mulai terlarut dalam kesunyian.
“Itu karena aku takut..” ucapan lirih
“Takut...??? aku mengulang
perkataanya.
“Aku takut apa yang mereka
katakan benar...aku...aku mencintaimu.”
“Kenapa kau takut ketika aku tidak
takut mencintaimu.” Dan itu membuatnya tercengang seolah tidak percaya dengan
yang aku katakan.
“Ternyata aku cinta dan ku takut
kehilangan dirimu yang ku kasihi.” Ucapku jujur karena kupikir tak ada gunanya
berbohong disaat terasa seperti ajal hampir menjemput. Aku menggenggam
tangannya erat karena aku ingin mati dalam genggaman tangan orang yang
menjatuhkan hatiku, tapi aku seperti mendengar suara memanggil manggil, apa ini
halusinasiku atau malaikat pencabut nyawaku.
“Suara itu semakin jelas terdengar dan
oh tim SAR menemukan kami. Rupanya pak guru menghubungi tim SAR untuk mencari kami,
hampir saja aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat, tapi itu memang benar
mereka mendatangi kami.
“Senin pagi.” Ternyata kata itu tak membuat
aku gemetar lagi, aku berjalan di kantor menuju kelas, tapi ada yang berbeda,
aku tak lagi berjalan sendiri, kini ada Tari selalu di sampingku disaat senang
maupun sedih. Kini tak akan ada lagi teriakan ditengah jam pelajaran, tak ada
kecoa, tak ada keisengan-keisengan lainnya, dan tak ada lagi palingan muka.
Sumber : majalah wisanggeni SMAN
Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif,
kreatif dan mandiri
Edisi : Juni 2006
No comments:
Post a Comment