Thursday, 17 September 2015

Ternyata Aku Cinta



          “A ....a...a!!!”
Terdengar suara teriakan wanita dari dalam kelas.
          “Ada apa Tari?” seorang guru bertanya.
          “A... ada kecoa bu”
Jawaban itu spontan membuat gaduh seisi kelas.
          “Ha...kecoa, cepet buang!”
          “Saya ... saya takut bu...” Tari merengek.
          “E ... Rega tolong buang kecoa itu!” perintah bu guru.
         
          Dengan berat hati terpaksa aku mematuhi perintah bu guru untuk membuang kecoa yang ada dalam tas Tari yang sebenarnya aku yang sengaja meletakkannya.
          “He .. he .. he” aku tersenyum sambil membuang kecoa di luar kelas.
          “ya sudah .. sekarang kita lanjutkan pelajarannya!” perintah bu guru.

          Seisi kelas seolah bernafas lega, kecuali Tari yang tampak masih ragu-ragu ketika harus kembali ke tempat duduk, mungkin dia masih takut ada kecoa kecoa lain disekitar tempat duduknya, tapi tentu saja itu tidak mungkin karena aku hanya meletakkan satu kecoa saja ditasnya.
          Entah mengapa semenjak aku satu kelas dengan cewek berambut panjang ini aku jadi suka mengganggunya, mungkin karena dia cerewet dan jutek yang pasti setiap kali dia tau aku lelah mengganggunya, cepat atau lambat dia pasti akan membalas semua perbuatanku yang tidak jarang membuat pertengkaran diantara kami, hingga kami saling bermusuhan, saling dendam dan teman-teman kami berdua pasti akan menasehati kami.
          “Jangan terlalu membenci nanti jadi cinta.”
Pepatah lama yang tentu saja tidak akan pernah terjadi, mana mungkin terlalu membenci bisa jadi cinta, yang ada terlalu membenci bisa menjadi semakin benci, hal itu sudah terjadi. Sudah saatu bulan ini Tari tidak pernah membalas jika aku ganggu, padahal biasanya dia yang memulai pertengkaran jika kami saling pasif. Bahkan setiap kali dia berpapasan denganku dia pasti membuang muka.
          “Senin pagi”. Kata itu sudah cukup untuk membuat orang paling tegar di sekolah. Gemetaran, selalu saja ada kejutan istimewa pada hari ini seperti pidato panjang di upacara bendera, kuis matematika mendadak atau mungkin test listening bahasa Inggris.
          “Oh Tuhan ... pasti akan berat sekali hari ini.” Keluhku sambil berjalan dikoridor menuju kelas.
          “Pagi...” sapaku kepada Tari dan Shinta sahabatnya.
          “Pagi juga Rega...” Jawab Shinta manis, tapi Tari malah membuang mukannya jauh-jauh sambil melewaatiku.
          “Dicuekin lagi?” tiba-tiba Ivan ada disampingku, aku hanya bisa menghela nafas.
          “Sudahlah Reg, nggak usah dipikir, toh cuma Tari.”  Ivan menghiburku, walaupun Cuma Tari aku menjadi merasa ada yangj kurang jika Tari seperti ini.
          “Oh iya Reg kamu jadi ikut camping minggu depan?” Ivan mengingatkanku.
          “Jadi donk.” Jawabku santai.
          “Padahal ada Tari lo ...”
          “I don’t care.” Jawabku sambil tersenyum.
         
          Akhirnya tiba juga hari yang aku tunggu-tunggu yaitu hari dimana kami akan menikmati alam bebas, lepas dari tumpukan buku-buku dan rumus-rumus yang membingungkan. Kami sekelas akan berkemah ke bukit perkemahan di kota tetangga. Kami berangkat ketika hari masih sangat pagi, disepanjang perjalanan kami bernyanyi bersama diiringi oleh gitar, terlihat Tari dan teman-temannya duduk dideretan bangku depan.
          Tak terasa kami sampai di tempat tujuan, secara bergantian kami turun dari bus. “Huh ...” aku menghirup udara yang sejuk dan segar.
          “Anak-anak kita sudah sampai di lokasi perkemahan. Daerah ini masuk dalam cagar alam gunung Arjuno Lalijiwo, Malang. Disini adalah jenis hutan konifer yang didominasi pepohonan pinus. Jadi kita akan sulit sekali menemukan pohon yang buahnya bisa dimakan.”
          Untuk memudahkan tugas kami, pak guru membagi kami di dalam kelompok-kelompok dan untuk tugas pertama kami harus membangun tendan dan menyiapkan perapian. Setelah makan malam kami harus segera tidur agar besuk kami tidak terlalu lelah untuk siap menerima tugas lagi.
          “Priiiiiiiittt......!!!” suara pluit menandakan kami harus segera berkumpul.
          “Anak-anak siang ini setiap kelompok harus memasak sendiri untuk satu orang anggota dari setiap kelompok harus mencari air didaerah lembah sekitar satu kilometer dari sini, kalian tidak perlu khawatir karena disepanjang perjalanan sudah dipasang tanda agar kalian tidak tersesat.”
          Dikelompokku akulah yang terpilih mencari air, walau aku tidak tulus menerimanya aku harus melakukannya.
          Kami perkelompok di lepas tanpa pak guru yang ikut dengan kami dalam waktu 15 menit dan ternyata aku menjadi pengambilan air urutan kedua terbelakang sementara dengan Tari yang juga terpilih menjadi pengambilan air, harus puas diposisi paling buncil.
          “Huh...kenapa harus aku yang melakukannya.” Keluhku sambil menggerutu.
          Sekitar dipertengahan perjalanan, aku menemukan percabangan jalan dan tanda yang menyetakan aku harus melewati jalan yang ke kiri.
          “Ups..” tiba-tiba kejahilanku kembali muncul.
          “Bukankah Tari ada dibelakangku...” tanyaku pada diri sendiri.
          “Gimana ... kalau ... begini.” Dengan cepat aku merubah arah penanda jalan sehingga terlihat jalan yang harus kulewati adalah jalan sebelah kanan.
          “Mungkin sebaiknya aku memastikan”. Bisikku.
          Dengan cepat aku bersembunyi diantara semak-semak pohon pinus sambil mengamati percabangan jalan. Beberapa menit kemudian tampak Tari muncul dari ujung jalan. Ketika Tari sampai di persimpangan jalan yang telah aku rubah sebelumnya, tanpa pikir panjang Tari langsung mengikuti arah sesuai petunjuk.
          “Yes...kena...kau...” Ucapku sambil tersenyum.
          Setelah melihat-lihat keadaan, akupun keluar dari persembunyianku dan dengan cepat aku mengembalikan penanda jalan keposisi semula dengan senyum kemenangan dan aku pun melanjutkan perjalanan ku untuk mencari air.
          Malam telah menjelang, langit hutan semakin jauh dari terang, aku dan teman-teman satu kelompok duduk santai didekat perapian diluar tenda sambil menikmati makan malam.
          “Reg... Rega...!”
          “Ada apa Shin? Kok bingung begitu?” tanya Ivan kepada Shinta.
          “Rega tadi kamukan yang ada didepan Tari, waktu ngambil air.” Tanya Shinta dengan nafas tersengal-sengal.
          “Iya..emang kenapa?” tanyaku santai.
          “Sampai sekarang dia belum kembali ke tenda”.
          “Ha...!!”
          “Tadi dijalan tidak ada apa-apa kan?” tanya Shinta gelisah.
          “Jangan-jangan !!”
          “Jangan-jangan apa Reg?”
          “Gimana mungkin dia tersesat padahal kamu bisa pulang dengan selamat.”
          Aku bingung dan panik, mengapa ini bisa terjadi padahal aku tidak berniat mencelakainya.
          “Gimana ini Reg?!!” tanya Shinta panik
          “Aku udah nyelakainya...” jawabku dengan pikiran kosong.
          “A..apa maksudmu?”
          “Aku telah merubah penanda dijalan.”
          “Gimana kamu sih Reg, kamu pingin dia mati. Ini di hutan kalau mau ngerjain jangan kelewatan donk.”
          “Bukan ... bukan itu maksud ..”
          “Ah..kamu memang jahat Reg, gimana kalau ada binatang buas???”
          “Aku .. aku ..”
          “Padahal dia sangat mencintaimu Reg, dia sengaja nggak nyapa kamu karena dia pingin ngelupain kamu.”
          Aku tersentak mendengarnya, aku semakin panik dan bingung, kepalaku seolah mau pecah, dengan sisa harapan yang ada aku menyambar senter dari gantungan ditenda, aku berlari ke arah hutan yang terlihat gelap dan menakutkan.
          “Tar.. Tari jawab aku tar.” Teriak ku.
          Semakin jauh aku memasuki hutan suasananya menjadi semakin sunyi dan menakutkan tetapi aku segera aku segera menepis perasaan itu demi orang yang telah aku celakai yang mungkin sedang menangis ketakutan, kedinginan dan putus asa didalam hutan sana.
          “Tar...Tari..” aku semakin panik karena tak ada tanda-tanda suara kehidupan.
          Kakiku semakin jauh memasuki hutan, suasana semakin sepi, suara jangkrik dan burung-burung malam tak mampu memberiku semangat.
          “Tar...” aku melunglai dan putus asa, aku duduk disebatang akar pinus yang besar, pikirku kosong dan mataku berkaca-kaca.
          “Reg...apa itu kau?” terdengar suara yang tak asing bagiku.
          “Tari...dimana kamu?”
          “Disebelah sini Reg.” Suara melemah.
Seolah tenagaku kembali pulih, aku arahkan senter keseluruh penjuru hutan.
          “Tar..” aku bernafas lega ketika melihatnya bersandar disebatang pohon.
          “Apa kamu sendiri Reg?”
          “Ya...oh tidak, sebentar lagi teman-teman pasti akan menyusul.”
          “Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini.” Pintaku segera.
          “Tapi aku nggak bisa jalan.”
          Ya Tuhan apa yang telah aku perbuat padanya, hingga dia jadi seperti ini, ini semua salahku...
          “Aku akan menggendongmu dipunggungku.”
          “Ha...kurasa tidak, aku akan bertahan disini sampai teman-teman datang.”
          “Tapi kondisimu sudah sangat lemah.”
          “Aku masih bisa bertahan.” Tari bersikeras.
          “Ah ayolah.”
Meskipun menolak aku tetap menggendong Tari dipunggungku, aku membawanya sambil mengira-ngira jalan yang aku lalui, tapi aku rasa kami hanya berputar-putar dihutan ini saja, bahkan aku sudah melewati hutan ini 3 kali.
          “Kita hanya berputar-putar saja kan Reg?” Tanya Tari dengan lemah dan aku tidak mampu menjawabnya karena itu benar.
          “Aku juga sudah mengalaminya tadi siang.” Tari tampak tak banyak bicara tidak seperti biasanya.
          “Mungkin sebaiknya kita tunggu sampai besok pagi dan kita akan mencari jalan keluarnya besok.”
          Matahari mulai tampak bersinar cerah, burung-burung berkicau semarak diantara dahan dan ranting pinus, seolah mereka berlomba membangunkan kami, tapi setelah beristirahat semalaman, bukan kebugaran yang aku rasakan melainkan tubuhku merasa lebih letih dan lunglai bahkan akupun harus bersusah payah membangkitkan tubuhku, keringat dingin keluar dari tubuhku.
          “Tar, apa kamu baik-baik saja?” suaraku lemah.
          “Iya Reg, aku nggak apa-apa kok.” Suaranya berbisik hampir tak terdengar, wajahnya pucat dan matanya sayu.
          Aku sandarkan tubuhku disampingnya, dia tersenyum padaku senyuman yang sepertinya sudah lama sekali tidak aku lihat.
          “Kita akan mati Reg.”
          “Kita akan hidup.”
          “Kamu tahu kan Reg ini adalah hutan gunung Arjuno Lalijiwo?, nggak ada seorangpun yang akan selamat jika tersesat dihutan ini.”
          “Kitalah yang akan selamat dari hutan yang menyesatkan.” Penggalku memberi harapan dan Tari hanya tersenyum mendengarnya.
          “Ayo kita harus segera bangkit!”
Tapi tubuhku semakin sulit digerakkan bahkan mengangkat kepala saja aku hampir tidak mampu dan semakin kuat aku mencoba, semakin hilang tenaga dari tubuhku.    “Itulah yang terjadi jika kita tidur dibawah pohon. Kita kehilangan banyak oksigen dari tubuh kita.” Ucap Tari sambil tersenyum.
          “Setidaknya aku mencari buah-buahan hutan untuk kita makan kerena kita masuk terlampau jauh ke hutan, jauh dari perkemahan”. Tari berusaha bangkit.
          “Setidaknya kita ingat bahwa ini adalah konifer yang tidak ditumbuhi pohon yang buahnya dapat di makan.” Jawabku dengan nafas tersengal-sengal.
          “Kau benar, dan pak guru akan menemukan kita ketika tubuh kita berubah menjadi jasad.” Tari kembali tersenyum, matanya berbinar dan tubuhnya kembali bersandar, seolah kematian bukanlah sesuatu yang terlalu buruk baginya.
          “Kenapa kamu bisa setenang itu?” tanyaku tak percaya.
          “Karena kita hanya menunggu mati.”
          “Aku nggak ingin mati dengan cara seperti ini.” Jawabku tegas.
          “Tapi itulah yang akan terjadi.”
          “Aku harus menebus kesalahanku padamu, akulah yang membuatmu tersesat dengan merubah arah penunjuk jalan.” Jawabku dengan hati hancur.
          “Ya aku sudah tahu.” Jawabnya sambil tersenyum dan itu membuat aku semakin ketakutan dan senyuman itu jelas bukan senyuman yang baik ditengah keputus asaan.
          Matahari menyinari tepat diatas tubuh kami berdua hingga memberi kehangatan di atas sayapnya hutan.
          “Kenapa kamu nggak pernah menyapaku lagi?” ucapku ketika kemi mulai terlarut dalam kesunyian.
          “Itu karena aku takut..” ucapan lirih
          “Takut...??? aku mengulang perkataanya.
          “Aku takut apa yang mereka katakan  benar...aku...aku mencintaimu.”
          “Kenapa kau takut ketika aku tidak takut mencintaimu.” Dan itu membuatnya tercengang seolah tidak percaya dengan yang aku katakan.
          “Ternyata aku cinta dan ku takut kehilangan dirimu yang ku kasihi.” Ucapku jujur karena kupikir tak ada gunanya berbohong disaat terasa seperti ajal hampir menjemput. Aku menggenggam tangannya erat karena aku ingin mati dalam genggaman tangan orang yang menjatuhkan hatiku, tapi aku seperti mendengar suara memanggil manggil, apa ini halusinasiku atau malaikat pencabut nyawaku.
          “Suara itu semakin jelas terdengar dan oh tim SAR menemukan kami. Rupanya pak guru menghubungi tim SAR untuk mencari kami, hampir saja aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat, tapi itu memang benar mereka mendatangi kami.
          “Senin pagi.” Ternyata kata itu tak membuat aku gemetar lagi, aku berjalan di kantor menuju kelas, tapi ada yang berbeda, aku tak lagi berjalan sendiri, kini ada Tari selalu di sampingku disaat senang maupun sedih. Kini tak akan ada lagi teriakan ditengah jam pelajaran, tak ada kecoa, tak ada keisengan-keisengan lainnya, dan tak ada lagi palingan muka.

Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Juni 2006

No comments:

Post a Comment