“Ao
... ci ... ci ... cuit ...!”
“Iih
... namaku itu Cika ... C.I.K.A, Cika.”
“He
... he .. he ... Ci ... ci ... cuit marah!”
Sahabatku
ini memang sering membuat aku jengkel
karena dia selalu memanggil aku ‘ci ... ci ... cuit.”
Waktu
itu aku begitu heran dengannya, dia kelihatan begitu bahagia dan begitu ceria.
“Kamu
baru dapat arisan ya?”
“Bukan
dapat arisan Cika, tapi aku udah dapet nomor HP nya.” Kata dia sambil
berjingkrak-jingkrak.
“Dia
siapa sich?” tanyaku.
“Cewek
itu loh cik, yang kemarin itu.” Katanya menjelaskan.
“Oh
Risti maksudnya?”
“Yups
... You’re right!”
Cowok
keren yang mempunyai nama Agung ini benar-benar tak seperti biasanya. Semenjak
dia mengenal cewek bernama Risti, dia menjadi anak yang banyak bicara dan
selalu ceria. Semenjak itupun dia tak pernah absen SMS dan telephon. Selama ini
perhatian orangtuanya sangat kurang sehingga membuat dia terpuruk dan tertutup.
Kepadaku saja, dia nggak mau cerita, dia Cuma bilang kalau setiap hari dia
selalu kesepian.
Masih
teringat dibenakku, waktu itu saat Agung hendak mau pergi dia terkejut dan
senang saat ayahnya menanyakan kemana dia mau pergi. Karena baru kali ini
ayahnya peduli dengannya.
“Mau
ke rumamh temen, yah, memangnya ada apa?”
“Awas...
sepedahnya, sekarang banyak rampok.” Jawab ayah.
Jawaban
ayahnya membuat raut muka Agung berubah menjadi kusut karena kecewa, kalau
ternyata sepedah yang lebih penting dari pada anak kandungnya sendiri.
“Ya
sudah yah, Agung berangkat dulu. Assalamualaikum!” dengan begitu hormat dia
berpamitan.
Aku
memang beruntung mempunyai sahabat sesabar itu, setulus dan sebaik dia.
Hari
demi hari telah berlalu, class meetingpun tiba. Waktu itu tepatnya hari Sabtu.
Agung mengajak kabur teman-temannya pagi-pagi. Karena pagi itu juga dia mau ke sekolah
Risti dan mau nembak Risti. Agung yakin kalau ini kejutan buat teman-temannya,
karena selama ini mereka selalu menyuruhnya mencari pacar. Setelah lima jam dia
menunggu, akhirnya pagar sekolah Risti dibuka. Dengan senyum manis dia
menyambut kedatangan Risti. Setelah itu mereka ngobrol, tapi belum sempet dia
melakukan penembakan, salah satu sahabat Agung malah minta kenalan dan dia
bilang kalau dia suka Risti. Agung begitu terkejut setelah mendengar pernyataan
Didik. Seketika membuat Agung terdiam membisu, dia menjadi bingung siapa yang
harus dipilih ‘sahabat atau cewek?’. Dan semenjak itu Agung berubah seperti
dulu lagi yang pendiam dan suka murung. Pagi itu, dia bermaksud akan mengatakan
yang sejujurnya kalau Risti adalah cewek yang selama ini dia suka. Tapi baru
saja sampai di kelas “Gung, kemarin aku telpon Risti. Dia anaknya baik ya?”
kata Didik senang sekali. disaat itupun Agung tambah bingung, tapi bagaimana
dia berani untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Dik,
kamu tau nggak, siapa yang selama ini aku suka? Siapa yang selama ini aku
banggain, dia itu Risti. Aku suka dia mulai dari dulu!” dengan hati-hati Agung
mengatakan.
“APA
....???” kata Didik dengan nada tinggi.
“Dus
....” tiba-tiba tangan Didik mendarat di muka Agung.
Agung
jatuh tersungkur di lantai sambil bertanya “Apa salahku?”
“Kamu
itu sahabat apa Gung, aku kan sahabatmu. Kenapa sih kamu tega mau ngrebut Risti
dari aku. Kamu itu egois Gung.” Didik terus mencaci maki Agung tanpa henti.
Keributan
pun terjadi, tidak ada satupun yang bisa menghentikan emosi Didik, Agung terus
dipukuli, tapi dia tak pernah membalas pukulan Didik. Kejadian tersebut
diketahui oleh salah satu guru dan membuat mereka diskors selama satu minggu.
Setelah mendengar keputusan itu, Agung begitu takut untuk pulang karena dia
yakin ayahnya pasti marah besar. Tapi, hari semakin sore Agung bingung kemana
tujuannya, karena semua sahabatnya benci padanya, membuat dia terpaksa harus
pulang kerumah.
Dengan
perasaan takut dia memberanikan diri. Baru saja sampai di depan rumahnya, dia
melihat banyak orang.
“Ada
apa ini dirumah kok ada bendera kematian?” tanya dia dalam hati
Semua
itu membuat Agung tak mengerti apa yang terjadi dalam hidupnya. Berjalan
pelan-pelan dia masuk rumah, didalam rumah dilihatnya seseorang berbaring
diatas sebuah dipan yang seluruh tubuhnya ditutup kain putih.
“Siapakah
dia?” dengan penasaran dia bertanya dalam hatinya.
Semakin
dia mendekat dan dengan perlahan dia membuka kain putih itu untuk mengusir rasa
penasarannya.
“Ibuuuuuu.”
Dengan suara sangat keras dibarengi dengan air mata yang mengalir sambil
memeluk orang dibalik kain putih itu. Ternyata itu adalah ibu Agung yang selama
ini menderita kanker Rahim yang tak pernah diceritakan pada putranya itu.
“Ibu
... ibu ... ibu ... kenapa ibu harus ninggalin Agung secepat ini. Disaat Agung
masih belum bisa buat ibu bangga. Agung tau kalau ibu memang jarang perhatiin
Agung tapi Agung tau kalau ibu sayang sama Agung, begitu juga Agung bu.” Dengan
terus menangis dia terus memeluk ibunya erat-erat seakan tak ingin melepaskan
pelukannya.
“Kenapa
orang yang aku sayang ninggalin aku?”
Dia
merasa hidupnya nggak adil dan dia juga merasa kalau hidupnya tak berarti lagi.
“Aku
ingin bahagia, walaupun itu hanya satu sekejab
Sumber : majalah wisanggeni SMAN
Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif,
kreatif dan mandiri
Edisi : Desember 2007