Begitu
bahagia aku yang mengenalnya, begitu beruntung aku yang telah dampingi
hidupnya, begitu beruntungnya aku yang telah dampingin hidupnya, begitu
beruntung aku yang telah mendapatkan cintanya. Aku selalu berharap aku selalu
ada disisinya. Genap sudah satu tahun aku menjadi pacarnya, waktu yang tak
singkat untuk mengenal seseorang secara jelas dan gamblang. Mungkin hari ini
aku tak pulang ke rumah, aku ingin menghabiskan waktu bersamanya menikmati
indahnya hari-hariku bersamanya. Begitu semangat aku berlari menuju gerbang
sekolah menanti bus sekolah tiba. Tersenyum aku membopong tas sekolahku. Aku
begitu terburu-buru sampai aku lupa berpamitan dengan teman-teman kesayanganku.
Dari belakang aku dengar teriakan Nensi dengan kencang, ya aku lupa kalau
pulang sekolah aku selalu bersamanya.
“Kak, tunggu aku! Aku mau bareng sama
kamu!”
“Cerewet, ayo cepet aku udah
keburu-buru!”
“Emang mau kemana sih!!”
“Ya biasa aku mau ngapel, sekarang kan
tanggal jadianku dengan Amel.”
“Huuuuu.”
Akhirnya
kami melanjutkan langkah kami menuju gerbang sekolah. Dan tak lama ada bus yang
lewat kamipun pulang. Sesampainya dirumah aku langsung meletakkan tasku, ganti
baju serta tak lupa untuk sholat.
“Mau kemana Ka’?”
“Aku mau maen bu’!”
“Sama siapa? Maen melulu seperti ngga’
betah dirumah!”
Aku
tak hiraukan kata-kata ibu, aku terus melahap rujak yang dibelikan ibu di warung
mbah Jah.
“Bapak mana bu? Kok belum pulang?”
“Belum toh, emang ini jam berapa?”
Syukur
bapak belum pulang, aku bisa keluar sma Amel. Setelah berpamitan aku langsung
pergi ke rumah mas Jaka untuk pinjam sepedah. Di depan pintu mas Jaka
meletakkan motor kesayangannya, meski nggak bagus tapi lumayan buat
jalan-jalan. Mungkin mas Jaka udah tau motornya mau tak pake jalan-jalan sama
Amel, mas Jaka begitu baik sama aku meski dia Cuma kakak ipar tapi dia udah
kayak kakak kandungku. Dengan tersenyum mas Jaka menyambutku dan memberikan
kunci motornya. Tak banyak waktu, aku langsung berangkat ke rumah Amel yang
jaraknya sekitar 300 meter dari rumah mas Jaka. Sesampai di rumah Amel, aku
beri tanda dengan menekan klakson motor sambil berhenti di depan pintu rumahnya.
Tak lama ibu Amel keluar karena adat istiadat jadi terpaksa aku masuk ke
rumahnya.
“Amel masih di dalam, di suruh bikin
teh manis buat bapaknya, mas Kakanya tunggu dulu aja bentar lagi juga selesai.”
“Iya bu makasih.”
Aduh
mati aku kenapa aku begitu grogi, nggak biasanya begini. Aduh, Amel mana sih
kok lama banget. Aku udah nggak sabar pengen ketemu dan ngucapin.
“Mas, kita berangkat sekarang?”
“Iya, aku pamitan dulu.”
Setelah
aku berpamitan dengan ibunya Amel, kami langsung berangkat.
Sambil
tersenyum aku berjalan menuju motorku yang aku parkir di depan rumah Amel.
Walau tak tau tujuan mungkin hanya sekedar putar-putar hanya sekedar
menghabiskan bensin yang penting aku senang bersama Amel. Dan akhirnya kita ke
kolam renang, aku harap tempatnya romantis agar aku bisa ngomong sesuatu dengan
Amel.
“Mel, aku mau ngasih kamu sesuatu!”
“Sesuatu apa? Kan kadonya udah mas
titipin kemarin.”
Walau
sulit untuk mengungkapkannya yang penting aku berusaha dulu masalah ditolak
atau diterima itu urusan belakang.
“Kamu dengar baik-baik ya!.
Mata itu berikan aku jawaban
Mata itu berikan aku kepercayaan
Karena mata itu aku terpikat
Karena mata itu aku terpesona
Tapi ...
Karena kemurnian cintamu
Karena ketulusan hatimu.”
Puisi
itu aku belajar dari Nensi di sekolah tadi.
“Mas Kaka ini orangnya nggak romantis
tapi pinter ngambil hatinya cewek.”
“Termasuk kamu kan.”
Amel
hanya tersenyum menanggapi semua kata-kataku. Kamipun berbincang-bincang hingga
kami tak sadar hari begitu cepat berlalu hingga mulai kelam. Kamipun pulang
karena aku tak ingin mengecewakan ibu Amel, tetap jaga kepercayaan maklum calon
mertua, amin. Dalam perjalanan pulang aku selalu berharap agar aku tetap bisa
bersamanya.
Setelah
mengantar Amel sekarang giliran aku untuk pulang. Sembari ku kemudikan motorku,
mengingat kenangan bersama Amel tadi membuatku tersenyum sendiri. Menuju rumah
mas Jaka. Aku lihat mbak dan mas sedang duduk di depan rumah bersama anak
mereka, sungguh indah kebahagiaan mereka. Membuatku berkhayal tentang masa depan
kelak saat aku sudah berumah tangga.
Hari
itu adalah hari yang paling membuat aku bahagia, 9 September. Ternyata ibu dan
bapak sudah menungguku dirumah, sepertinya ada hal penting yang ingin mereka
katakan padaku membuatku sedikit was-was dan takut ketahuan kalau aku
berpacaran dengan Amel.
“Kaka, habis sholat bapak sama ibu mau
bicara.”
“Iya pak.”
Tak
seperti biasanya bapak dan ibu begini. Aku bingung dan sholat ku nggak khusuk.
Keluar nggak ya...? kalau aku keluar takut dimarahi. Dengan terpaksa akupun
keluar kamar.
“Apa pak?”
“Dari mana kamu.”
“Maen, pak.”
“Ka, bapak pingin kamu seperti anak
pak dhe mu, yang bisa sukses! Kamu tau kenapa? Karena dia di sekolahnya rajin,
niat dan nggak pacaran dulu.”
“Iya pak”
“Ya wis tidur sana. Biar besuk ndak capek!”
Aku
merasa bapak dan ibu tau tentang aku dan Amel. Dalam kamar aku terus berfikir,
apa yang harus aku perbuat jika orang tuaku tidak menyetujui hubunganku dengan
Amel, aku mencintai Amel karena itu aku ingin bersamanya. Tak lama ibu masuk ke
kamarku dan menanyakan tentang hubunganku dengan Amel, aku terkejut ketika ibu
bercerita tentang silsilah keluarga Amel dan yang paling membuat aku terkejut
saat itu bilang menyetujui hubunganku dengan Amel.
“Lain kali sering-seringlah ajak Amel
ke rumah asalkan tidak ketahuan bapak.”
Persetujuan
ibu membuatku lega. Sejak saat itu aku sering cerita tentang Amel. Saran dari
ibuku boleh pacaran asalkan jangan lupa kan kewajiban terutama jangan sampai
menganggu pelajaran sekolah.
Satu
hari tlah berlalu setelah hari indah itu bersama Amel. Tak biasanya Amel
memintaku untuk ke rumahnya, aku bersama Aan teman sekolahku.
“Motor siapa itu yang parkir di depan
rumah Amel, sepertinya motor seorang cewek.”
Tak
lama setelah aku berhenti di depan rumah Amel, ia keluar bersama temannya dan
dia adalah pemilik motor itu. Hari itu aku sedang bad mood dan aku menolak
ajakan Amel untuk jalan-jalan, hari sudah sore rumah Aan pun jauh. Dua hari
setelah kejadian itu aku dan Amel bertengkar hebat. Di sekolah aku tidak bisa
berkonsentrasi karena memikirkan hubunganku dengan Amel yang mengambang tanpa
kejelasan,
“Sebaiknya kamu putus saja dengan
Amel.” Saran Aan.
Aku
berpikir juga mungkin itu ada benarnya karena selama ini aku selalu sedih. Sore
harinya tanpa ku pikir panjang aku menemuinya dan memutuskan hubungan ku
dengannya. Amel terkejut dengan kata-kataku dan ia bersikeras untuk
mempertahankan hubungan kami ini, meski pertengkaran hebat selalu menerpa.
Sehabis Adzan maghrib aku membawanya ke rumah mas Jaka dengan bermaksud
menjelaskan semuanya. Aku ajak dia masuk ke dalam dan mengajaknya sholat dengan
harapan agar emosinya cepat reda. Setelah kami sholat aku menunggunya selesai
berdoa. Aku terkejut setelah aku lihat bapak ada di ruang tamu.
“Sepedah siapa ini Ka?”
“Punya Amel pak.”
“Dimana dia sekarang.”
“Masih sholat.”
Aku
begitu ketakutan saat melihat wajah bapak sudah ingin marah. Tak lama Amel
keluar dari kamar selesai sholat.
“Amel, duduk sini aku mau bicara!”
Sambil
tersenyum menyembunyikan wajahnya yang merah karena habis nangis.”
“Mel,, bukan bapak tidak suka dengan
kamu, tapi saya mohon jangan ganggu Kaka karena bapak pingin Kaka berhasil,
fokus dulu dengan sekolahnya. Kamu sendiri tau kan bagaimana kondisi bapak
sekarang, susah, jadi bapak ingin kamu jauhi Kaka!”
Suasana
menjadi sunyi seketika dengan kata-kata bapak tadi. Sepertinya Amel ingin
menangis lagi.
“Pak, aku dan Amel sudah tidak ada hubungan
apa-apa lagi. Jadi bapak nggak usah khawatir lagi.”
Setelah
kejadian itu Amel nggak pernah ganggu aku dan justru aku sekarang yang sering
gangguin Amel.
Sumber : majalah wisanggeni SMAN
Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif,
kreatif dan mandiri
Edisi : Oktober 2006
No comments:
Post a Comment