Thursday, 17 September 2015

Cinta yg Tertunda



       Begitu bahagia aku yang mengenalnya, begitu beruntung aku yang telah dampingi hidupnya, begitu beruntungnya aku yang telah dampingin hidupnya, begitu beruntung aku yang telah mendapatkan cintanya. Aku selalu berharap aku selalu ada disisinya. Genap sudah satu tahun aku menjadi pacarnya, waktu yang tak singkat untuk mengenal seseorang secara jelas dan gamblang. Mungkin hari ini aku tak pulang ke rumah, aku ingin menghabiskan waktu bersamanya menikmati indahnya hari-hariku bersamanya. Begitu semangat aku berlari menuju gerbang sekolah menanti bus sekolah tiba. Tersenyum aku membopong tas sekolahku. Aku begitu terburu-buru sampai aku lupa berpamitan dengan teman-teman kesayanganku. Dari belakang aku dengar teriakan Nensi dengan kencang, ya aku lupa kalau pulang sekolah aku selalu bersamanya.
          “Kak, tunggu aku! Aku mau bareng sama kamu!”
          “Cerewet, ayo cepet aku udah keburu-buru!”
          “Emang mau kemana sih!!”
          “Ya biasa aku mau ngapel, sekarang kan tanggal jadianku dengan Amel.”
          “Huuuuu.”
Akhirnya kami melanjutkan langkah kami menuju gerbang sekolah. Dan tak lama ada bus yang lewat kamipun pulang. Sesampainya dirumah aku langsung meletakkan tasku, ganti baju serta tak lupa untuk sholat.
          “Mau kemana Ka’?”
          “Aku mau maen bu’!”
          “Sama siapa? Maen melulu seperti ngga’ betah dirumah!”
Aku tak hiraukan kata-kata ibu, aku terus melahap rujak yang dibelikan ibu di warung mbah Jah.
          “Bapak mana bu? Kok belum pulang?”
          “Belum toh, emang ini jam berapa?”
Syukur bapak belum pulang, aku bisa keluar sma Amel. Setelah berpamitan aku langsung pergi ke rumah mas Jaka untuk pinjam sepedah. Di depan pintu mas Jaka meletakkan motor kesayangannya, meski nggak bagus tapi lumayan buat jalan-jalan. Mungkin mas Jaka udah tau motornya mau tak pake jalan-jalan sama Amel, mas Jaka begitu baik sama aku meski dia Cuma kakak ipar tapi dia udah kayak kakak kandungku. Dengan tersenyum mas Jaka menyambutku dan memberikan kunci motornya. Tak banyak waktu, aku langsung berangkat ke rumah Amel yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah mas Jaka. Sesampai di rumah Amel, aku beri tanda dengan menekan klakson motor sambil berhenti di depan pintu rumahnya. Tak lama ibu Amel keluar karena adat istiadat jadi terpaksa aku masuk ke rumahnya.
          “Amel masih di dalam, di suruh bikin teh manis buat bapaknya, mas Kakanya tunggu dulu aja bentar lagi juga selesai.”
          “Iya bu makasih.”
Aduh mati aku kenapa aku begitu grogi, nggak biasanya begini. Aduh, Amel mana sih kok lama banget. Aku udah nggak sabar pengen ketemu dan ngucapin.
          “Mas, kita berangkat sekarang?”
          “Iya, aku pamitan dulu.”
Setelah aku berpamitan dengan ibunya Amel, kami langsung berangkat.
Sambil tersenyum aku berjalan menuju motorku yang aku parkir di depan rumah Amel. Walau tak tau tujuan mungkin hanya sekedar putar-putar hanya sekedar menghabiskan bensin yang penting aku senang bersama Amel. Dan akhirnya kita ke kolam renang, aku harap tempatnya romantis agar aku bisa ngomong sesuatu dengan Amel.
          “Mel, aku mau ngasih kamu sesuatu!”
          “Sesuatu apa? Kan kadonya udah mas titipin kemarin.”
Walau sulit untuk mengungkapkannya yang penting aku berusaha dulu masalah ditolak atau diterima itu urusan belakang.
          “Kamu dengar baik-baik ya!.
          Mata itu berikan aku jawaban
          Mata itu berikan aku kepercayaan
          Karena mata itu aku terpikat
          Karena mata itu aku terpesona
          Tapi ...
          Karena kemurnian cintamu
          Karena ketulusan hatimu.”
Puisi itu aku belajar dari Nensi di sekolah tadi.
          “Mas Kaka ini orangnya nggak romantis tapi pinter ngambil hatinya cewek.”
          “Termasuk kamu kan.”
Amel hanya tersenyum menanggapi semua kata-kataku. Kamipun berbincang-bincang hingga kami tak sadar hari begitu cepat berlalu hingga mulai kelam. Kamipun pulang karena aku tak ingin mengecewakan ibu Amel, tetap jaga kepercayaan maklum calon mertua, amin. Dalam perjalanan pulang aku selalu berharap agar aku tetap bisa bersamanya.
Setelah mengantar Amel sekarang giliran aku untuk pulang. Sembari ku kemudikan motorku, mengingat kenangan bersama Amel tadi membuatku tersenyum sendiri. Menuju rumah mas Jaka. Aku lihat mbak dan mas sedang duduk di depan rumah bersama anak mereka, sungguh indah kebahagiaan mereka. Membuatku berkhayal tentang masa depan kelak saat aku sudah berumah tangga.
Hari itu adalah hari yang paling membuat aku bahagia, 9 September. Ternyata ibu dan bapak sudah menungguku dirumah, sepertinya ada hal penting yang ingin mereka katakan padaku membuatku sedikit was-was dan takut ketahuan kalau aku berpacaran dengan Amel.
          “Kaka, habis sholat bapak sama ibu mau bicara.”
          “Iya pak.”
Tak seperti biasanya bapak dan ibu begini. Aku bingung dan sholat ku nggak khusuk. Keluar nggak ya...? kalau aku keluar takut dimarahi. Dengan terpaksa akupun keluar kamar.
          “Apa pak?”
          “Dari mana kamu.”
          “Maen, pak.”
          “Ka, bapak pingin kamu seperti anak pak dhe mu, yang bisa sukses! Kamu tau kenapa? Karena dia di sekolahnya rajin, niat dan nggak pacaran dulu.”
          “Iya pak”
          “Ya wis tidur sana. Biar besuk ndak capek!”
Aku merasa bapak dan ibu tau tentang aku dan Amel. Dalam kamar aku terus berfikir, apa yang harus aku perbuat jika orang tuaku tidak menyetujui hubunganku dengan Amel, aku mencintai Amel karena itu aku ingin bersamanya. Tak lama ibu masuk ke kamarku dan menanyakan tentang hubunganku dengan Amel, aku terkejut ketika ibu bercerita tentang silsilah keluarga Amel dan yang paling membuat aku terkejut saat itu bilang menyetujui hubunganku dengan Amel.
          “Lain kali sering-seringlah ajak Amel ke rumah asalkan tidak ketahuan bapak.”
Persetujuan ibu membuatku lega. Sejak saat itu aku sering cerita tentang Amel. Saran dari ibuku boleh pacaran asalkan jangan lupa kan kewajiban terutama jangan sampai menganggu pelajaran sekolah.
Satu hari tlah berlalu setelah hari indah itu bersama Amel. Tak biasanya Amel memintaku untuk ke rumahnya, aku bersama Aan teman sekolahku.
          “Motor siapa itu yang parkir di depan rumah Amel, sepertinya motor seorang cewek.”
Tak lama setelah aku berhenti di depan rumah Amel, ia keluar bersama temannya dan dia adalah pemilik motor itu. Hari itu aku sedang bad mood dan aku menolak ajakan Amel untuk jalan-jalan, hari sudah sore rumah Aan pun jauh. Dua hari setelah kejadian itu aku dan Amel bertengkar hebat. Di sekolah aku tidak bisa berkonsentrasi karena memikirkan hubunganku dengan Amel yang mengambang tanpa kejelasan,
          “Sebaiknya kamu putus saja dengan Amel.” Saran Aan.
Aku berpikir juga mungkin itu ada benarnya karena selama ini aku selalu sedih. Sore harinya tanpa ku pikir panjang aku menemuinya dan memutuskan hubungan ku dengannya. Amel terkejut dengan kata-kataku dan ia bersikeras untuk mempertahankan hubungan kami ini, meski pertengkaran hebat selalu menerpa. Sehabis Adzan maghrib aku membawanya ke rumah mas Jaka dengan bermaksud menjelaskan semuanya. Aku ajak dia masuk ke dalam dan mengajaknya sholat dengan harapan agar emosinya cepat reda. Setelah kami sholat aku menunggunya selesai berdoa. Aku terkejut setelah aku lihat bapak ada di ruang tamu.
          “Sepedah siapa ini Ka?”
          “Punya Amel pak.”
          “Dimana dia sekarang.”
          “Masih sholat.”
Aku begitu ketakutan saat melihat wajah bapak sudah ingin marah. Tak lama Amel keluar dari kamar selesai sholat.
          “Amel, duduk sini aku mau bicara!”
Sambil tersenyum menyembunyikan wajahnya yang merah karena habis nangis.”
          “Mel,, bukan bapak tidak suka dengan kamu, tapi saya mohon jangan ganggu Kaka karena bapak pingin Kaka berhasil, fokus dulu dengan sekolahnya. Kamu sendiri tau kan bagaimana kondisi bapak sekarang, susah, jadi bapak ingin kamu jauhi Kaka!”
Suasana menjadi sunyi seketika dengan kata-kata bapak tadi. Sepertinya Amel ingin menangis lagi.
          “Pak, aku dan Amel sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi bapak nggak usah khawatir lagi.”
Setelah kejadian itu Amel nggak pernah ganggu aku dan justru aku sekarang yang sering gangguin Amel.

Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Oktober 2006

No comments:

Post a Comment