Thursday, 17 September 2015

MAMPUKAH DIA BERTAHAN



          Randy adalah cowok malang yang sedang berjuang melawan penyakit dalam tubuhnya. Setiap hari hanya berdoa yang bisa dia lakukan. Cowok angkuh dan pemarah yang sering di  panggil “macan” oleh teman-temannya ini, sebenarnya dia mempunyai hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Hanya saja ke adaan yang membuat dia cepat naik darah. Dia marah pada dirinya sendiri.
          “Kenapa aku sakit seperti ini Tuhan? Mengapa tak seperti yang lain.” Hanya pertanyaan seperti ini yang selalu ada dibenaknya.
          “Aku tau mungkin ini hukuman dari mu Tuhan! Aku sadar sekarang aku sudah memetik buah yang aku tanam sendiri! Aku menyesal!”
          Cowok pemalu dan pendiam ini sudah mengenal minuman keras dan rokok sejak kelas 1 SMP. Menurut dia, hanya mereka yang bisa menemani apabila dia kesepian, mereka yang membuat dia tenang, dan bisa melupakan semua masalah.  Itu semua diakibatkan karena kurangnya perhatian dari orangtuanya.
          “Bu, Randy sekarang sakit dan mungkin Randy nggak akan sembuh. Bila besuk atau lusa, ibu jangan menangis ya! Kalau ibu nangis, Randy nggak akan bisa tenang perginya.” Dengan tersenyum dia mengatakan pada ibunya.
          “Maafin ibu ya Ran? Ibu janji mulai sekarang ibu akan selalu menemani kamu!” sambil memeluk anak bungsunya itu.
Randy yang sudah benar-benar pasrah dengan keadaannya ini, sebenarnya suka pada seseorang. Tapi karena sakit yang menggerogoti tubuhnya membuat dia minder dan nggak PeDe. Rika si cewek itu. Usianya memang lebih tua dari Randy. Tapi, Randy merasa cocok sama cewek itu, meskipun kenal baru satu bulan. Mereka memang sangat dekat, bahkan terkadang Rika menemaninya seharian.
Pada waktu itu, tiba-tiba Randy jadi sulit banget diajak check up ke dokter. Bahkan minum obatpun dia harus dipaksa dulu, membuat kedua orang tuanya mengkhawatirkan Randy.
          “Rand, tadi ayah ditelphon dokter. Beliau bilang kalau Randy harus rajin check up agar kamu cepat sembuh.” Bujuk ayah.
          “Percuma yah kalau randy check up, Cuma buang-buang uang aja. Lebih baik uangnya dibuat biaya kuliah kakak. Lagian Randy nggak akan sembuh.”
          “Hidup dan mati itu sudah di tentukan sama yang di atas jadi kita nggak boleh mendahului kuasanya, yang penting usaha. Allah membenci umatnya yang putus asa. Allah selalu menolong orang-orang yang mau berusaha.” Hibur sang ayah.
          Karena malam itu penyakit Randy kambuh, terpaksa orang tua Randy membawanya ke Rumah Sakit Soetomo. Setelah dua hari dia dirujuk di rumah sakit tersebut yang terletak di kota Surabaya untuk perawatan intensif. Randy mengidap kanker darah atau Leukimia, penyakit yang diprediksi selalu mematikan.
Randy selalu minta pulang walau baru satu minggu dirawat. Dia merasa sangat kesepian. Nggak ada satupun sahabat yang menemaninya.
          “Yah, ibu. Randy mau pulang. Randy kangen sama temen-temen.”
Karena Randy terus memaksa akhirnya mereka cek out dari rumah sakit. Sesampai di rumah teman-teman Randy berkumpul untuk memberikan semangat. Semenjak itu Randy nggak bisa apa-apa. Dia hanya bisa terbaring di tempat tidur, kondisinya semakin lemah. Pada suatu malam, “Rika, Rika, Rika ...” Randy mengigau memanggil nama Rika dan tak sengaja ibu mendengarnya.
          “Siapa Rika?” tanya ibu dalam hati.
          Keesokan harinya beliau bertanya pada salah satu sahabat Randy, Andi. Setelah itu di ajaknya Rika ke rumah Randy.
          “Ini yang namanya Rika?” tanya ibu Randy.
          “Iya ...” jawab Rika.
          “Saya minta tolong ya, support Randy! Agar dia punya semangat lagi.”
Semenjak ucapan dari ibu, setiap hari Rika menjenguk Randy. Dia selalu menemani Randy dan semua itu membuat Randy semakin berharap.
          “Rika boleh nggak aku ngomong sesuatu?”
          “Ngomong aja!”
          “Kamu mau nggak jadi pacarku?!”
Rika bingung setelah mendengar permintaan Randy, disatu sisi Rika menganggap Randy hanya sebatas adik sendiri. Sedangkan disisi lain, dia sudah punya pacar.
          “Aku butuh waktu Rand.”
Tiga hari tlah berlalu, akhirnya Rika berani mengambil keputusan untuk menerima Randy.          “Dengan kondisi seperti itu. Aku tak bisa menolak. Takut kondisi Randy semakin parah.” Ucap Rika dalam hati yang siap menerima resiko. Karena menurutnya, membuat orang sempurna orang yang kekurangan merupakan perbuatan mulia.
Mulai hari ini Randy mulai mempunyai semangat hidup lagi, meskipun dia hanya terbaring ditempat tidur, setidaknya dia punya keinginan untuk sembuh. Semua itu membuat keluarganya senang dan lebih yakin kalau Randy bisa sembuh, tapi “Mampukah Dia Bertahan?” hanya itu yang bisa dikatakan semua orang.

Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Desember 2007

No comments:

Post a Comment