Randy adalah cowok malang yang sedang
berjuang melawan penyakit dalam tubuhnya. Setiap hari hanya berdoa yang bisa
dia lakukan. Cowok angkuh dan pemarah yang sering di panggil “macan” oleh teman-temannya ini,
sebenarnya dia mempunyai hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Hanya saja ke
adaan yang membuat dia cepat naik darah. Dia marah pada dirinya sendiri.
“Kenapa aku sakit seperti ini Tuhan?
Mengapa tak seperti yang lain.” Hanya pertanyaan seperti ini yang selalu ada dibenaknya.
“Aku tau mungkin ini hukuman dari mu
Tuhan! Aku sadar sekarang aku sudah memetik buah yang aku tanam sendiri! Aku
menyesal!”
Cowok pemalu dan pendiam ini sudah
mengenal minuman keras dan rokok sejak kelas 1 SMP. Menurut dia, hanya mereka
yang bisa menemani apabila dia kesepian, mereka yang membuat dia tenang, dan
bisa melupakan semua masalah. Itu semua
diakibatkan karena kurangnya perhatian dari orangtuanya.
“Bu, Randy sekarang sakit dan mungkin
Randy nggak akan sembuh. Bila besuk atau lusa, ibu jangan menangis ya! Kalau
ibu nangis, Randy nggak akan bisa tenang perginya.” Dengan tersenyum dia
mengatakan pada ibunya.
“Maafin ibu ya Ran? Ibu janji mulai
sekarang ibu akan selalu menemani kamu!” sambil memeluk anak bungsunya itu.
Randy
yang sudah benar-benar pasrah dengan keadaannya ini, sebenarnya suka pada
seseorang. Tapi karena sakit yang menggerogoti tubuhnya membuat dia minder dan
nggak PeDe. Rika si cewek itu. Usianya memang lebih tua dari Randy. Tapi, Randy
merasa cocok sama cewek itu, meskipun kenal baru satu bulan. Mereka memang
sangat dekat, bahkan terkadang Rika menemaninya seharian.
Pada
waktu itu, tiba-tiba Randy jadi sulit banget diajak check up ke dokter. Bahkan
minum obatpun dia harus dipaksa dulu, membuat kedua orang tuanya mengkhawatirkan
Randy.
“Rand, tadi ayah ditelphon dokter.
Beliau bilang kalau Randy harus rajin check up agar kamu cepat sembuh.” Bujuk ayah.
“Percuma yah kalau randy check up,
Cuma buang-buang uang aja. Lebih baik uangnya dibuat biaya kuliah kakak. Lagian
Randy nggak akan sembuh.”
“Hidup dan mati itu sudah di tentukan
sama yang di atas jadi kita nggak boleh mendahului kuasanya, yang penting
usaha. Allah membenci umatnya yang putus asa. Allah selalu menolong orang-orang
yang mau berusaha.” Hibur sang ayah.
Karena malam itu penyakit Randy
kambuh, terpaksa orang tua Randy membawanya ke Rumah Sakit Soetomo. Setelah dua
hari dia dirujuk di rumah sakit tersebut yang terletak di kota Surabaya untuk
perawatan intensif. Randy mengidap kanker darah atau Leukimia, penyakit yang
diprediksi selalu mematikan.
Randy
selalu minta pulang walau baru satu minggu dirawat. Dia merasa sangat kesepian.
Nggak ada satupun sahabat yang menemaninya.
“Yah, ibu. Randy mau pulang. Randy
kangen sama temen-temen.”
Karena
Randy terus memaksa akhirnya mereka cek out dari rumah sakit. Sesampai di rumah
teman-teman Randy berkumpul untuk memberikan semangat. Semenjak itu Randy nggak
bisa apa-apa. Dia hanya bisa terbaring di tempat tidur, kondisinya semakin
lemah. Pada suatu malam, “Rika, Rika, Rika ...” Randy mengigau memanggil nama
Rika dan tak sengaja ibu mendengarnya.
“Siapa Rika?” tanya ibu dalam hati.
Keesokan harinya beliau bertanya pada
salah satu sahabat Randy, Andi. Setelah itu di ajaknya Rika ke rumah Randy.
“Ini yang namanya Rika?” tanya ibu
Randy.
“Iya ...” jawab Rika.
“Saya minta tolong ya, support Randy!
Agar dia punya semangat lagi.”
Semenjak
ucapan dari ibu, setiap hari Rika menjenguk Randy. Dia selalu menemani Randy
dan semua itu membuat Randy semakin berharap.
“Rika boleh nggak aku ngomong
sesuatu?”
“Ngomong aja!”
“Kamu mau nggak jadi pacarku?!”
Rika
bingung setelah mendengar permintaan Randy, disatu sisi Rika menganggap Randy
hanya sebatas adik sendiri. Sedangkan disisi lain, dia sudah punya pacar.
“Aku butuh waktu Rand.”
Tiga
hari tlah berlalu, akhirnya Rika berani mengambil keputusan untuk menerima
Randy. “Dengan kondisi seperti
itu. Aku tak bisa menolak. Takut kondisi Randy semakin parah.” Ucap Rika dalam
hati yang siap menerima resiko. Karena menurutnya, membuat orang sempurna orang
yang kekurangan merupakan perbuatan mulia.
Mulai
hari ini Randy mulai mempunyai semangat hidup lagi, meskipun dia hanya
terbaring ditempat tidur, setidaknya dia punya keinginan untuk sembuh. Semua
itu membuat keluarganya senang dan lebih yakin kalau Randy bisa sembuh, tapi
“Mampukah Dia Bertahan?” hanya itu yang bisa dikatakan semua orang.
Sumber : majalah wisanggeni SMAN
Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan
mandiri
Edisi : Desember 2007
No comments:
Post a Comment