Hari-hari yang melelahkan akhirnya
tergantikan juga oleh liburan musim panas yang sangat mengasikkan, hari ini
adalah hari Minggu dimana aku harus bersiap-siap untuk ikut mamaku ke pulau
dewata.
“Mira....mira...???”
tiba-tiba mamaku memanggilku dan menyurusku untuk bersiap-siap, karena pesawat
dari Bogor ke Denpasar akan berangkat pada pukul 15.30 sore ini. Langsung saja
aku berkemas-kemas. Kami pergi ke pulau Dewata semata-mata bukan untuk berlibur
melainkan untuk menghadiri pesta perkawinan teman mamaku yang bernama tante
Dewi. Tante Dewi adalah teman semasa SMA mamaku yang juga mempunyai anak
bernama Ferry, yang kebetulan adalah temanku semasa SMP.
Sekitar
jam 19.00 kami tiba di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Sembari menunggu waktu pernikahan
tiba kami akan menginap di hotel Shang-Rila di pusat kota.
Malam ini aku menatap rembulan di pulau
dewata, rasanya ingin sekali selamanya aku tinggal di pulai ini.
Keesokan harinya tepatnya hari Kamis tibalah
kami harus check out meninggalkan hotel tempat kami menginap, dan melanjutkan
perjalanan menuju hotel Paradise tempat resepsi pernikahan berlangsung, dan
disinilah suatu tempat yang telah mengubah hidupku untuk selamanya. Di ruang
resepsi akhirnya mama bertemu dengan tante Dewi, dan di tempat ini aku bertemu
kembali dengan Ferry. Ferry tuch orangnya nyebelin banget tapi kalau diajak
ngobrol dia nyambung juga sih. Tante Dewi tiba-tiba menyuruhku untuk ke ruang
lobi bersama Ferry untuk menyambut kedatangan teman tante Dewi dari Australia.
Selama
menunggu di lobi, aku ngobrol sama Ferry, pertamanya sih sedikit serius tapi
lama kelamaan sifat humornya Ferry muncul seperti dulu.
“Mir...?
kamu sekarang sekolah di SMA mana?” sembari memancingku untuk bicara.
“SMA
Lab School Bogor” jawabku sedikit senyum.
“Apa
....???? aku akan dipindahkan ke SMA itu loh sama mamaku, ya kalau begitu kita
akan seriing bertemu dong??”.
“Wah,
selamat ya...!!!”.
“Makasih”.
Selang beberapa menit kemudian teman tante
Dewi akhirnya datang juga.
“Hello
Ferry how are you?”.
“I’m
fine Mam!!”.
“Where
is your mam, Fer?”.
“Oh
yes, please follow me!”.
Ferry meninggalkanku sendirian di lobi
tanpa mengajakku kembali ke ruang resepsi. Aku menunggu dia 30 menit tapi dia
tak kunjung kembali.
“Mir,
sorry banget ya aku ninggalin kamu sendirian. Barusan mama menyuruhku menelpon
papa, tapi ngomong-ngomong kamu manis juga kalau cemberut!!”.
“Dih
nggak lucu tau”.
Setelah sekian lama dengannya tiba-tiba
muncul dibenakku tak taulah apa nama perasaan itu. Tak terasa puncak acara
resepsi pernikahan telah usai dan waktunya kami untuk pulang ke Bogor. Malam
ini juga kami akan meninggalkan Denpasar. Tapi tante Dewi menawarkan untuk
menginap beberapa malam lagi di rumahnya. Karena ada satu hal yang akan
dibicarakan dengan mamaku.
Malam
ini aku dan mama bermalam di rumah tante Dewi. Dan pembicaraan ku dengan Ferry
yang sempat terputus kami sambung kembali.
“Mir...nanti
kalau aku sekolah di SMA yang sama dengan kamu, kamu seneng nggak?”.
“Ya
senenglah, kamu kan temenku”.
Sebenarnya sejak awal aku sudah mempunyai
perasaan kepadanya tapi tak langsung ku ungkapkan karena aku dan Ferry baru
bertemu lagi.
“Mir,
besuk malam kamu mau nggak aku ajak jalan-jalan”.
“Kemana?”
“Aku
mau ajak kamu ke Pantai Kute, pemandangannya bagus loh apalagi indahnya bulan
purnama, please mau ya!!!”
“Ok,
tapi aku ijin dulu sama mama?”.
Malam itu kontan aku tak bisa tidur soalnya
aku merasa Ferry ingin mengatakan sesuatu kepadaku, ya memang sih Ferry itu
cowok yang menurutku sempurna karena dia cakep, lucu, pinter...semuanya deh,
apa coba yang kurang?. Hal itu yang sebenarnya membuat aku selalu ingat
kepadanya. Malam tak terasa cepat berlalu, dan pagi telah menyambut. Memang sih
mama telah berkata kepadaku akan menginap di rumah tante Dewi selama satu
Minggu. Tentunya waktu ini tak akan ku sia-siakan.
Malam
ini langsung saja si Ferry mengajakku ke pantai Kute melihat indahnya bulan
purnama.
“Mir...
nanti kalau aku sekolah di Bogor aku berharap sekelas dengan kamu yang juga
jurusan IPA”.
“Ya,
aku harap begitu sih, beneran kamu akan sekolah di sana?”.
“Beneran,
aku nggak bohong”.
“Ya
deh aku percaya”.
“kenapa
kamu nggak percaya sama aku, jangan-jangan kamu suka ya sama aku?”.
“Ih...
ngaco deh kamu”.
Malam semakin larut, tiba-tiba kami
terdiam.
“Mir...
ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum?”.
“Kalau
seandainya aku punya kenapa?”.
“Ya
nggak pa pa sih, aku Cuma nanya kok”.
“Belum
Fer, aku belum punya pacar kok.”
“Emm...
gimana ya, aku jadi rada susah ngomongnya, sejujurnya dari pertama aku melihat
kamu sepertinya di hatiku timbul sesuatu perasaan gitu pokoknya bisa dibilang
cinta gitu... ehm ehm Mir, kamu mau nggak jadi pacarku?”.
“Apa
perlu jawab sekarang?”.
“Ya
Mir aku perlu jawaban mu sekarang, please!!!”.
“Kalau
kamu benar-benar mau, kita jadi pacaran ehm.....okelah”.
“Yessssss!!!,
aku diterimaaaaaaaaaaaaa....”.
Malam itu tidak pernah aku lupakan ekspresi
wajahnya saat pertama kali bertemu dengannya. Dan tanpa ku duga si Ferry
membuat surprice untuk ku. Duarrr, duarrr... letusan kembang api bersahutan
menambah indahnya malam di pantai Kute. Hari ini seperti mimpi bagiku, karena
tak bisa ku bayangkan aku mendapatkan sesuatu yang baru dalam hidupku yang tak
lain adalah Ferry. Seperti ini mungkin yang disebut sebagai “Cinta Bersemi di
Pantai Kute”. Wah seru sekali cinta yang ku tunggu-tunggu akhirnya kutemukan di
pulau dewata ini.
Waktu yang akhirnya harus memisahkan kami,
hari sabtu tepatnya hari ini saatnya aku berpisah dengan Ferry, karena aku
harus pulang ke Bogor bersama dengan mamaku. Sebenarnya aku masih belum rela
berpisah dengan Ferry walaupun nanti kami akan bertemu lagi saat kami satu
sekolah, karena senyumannya membuatku tergiang-ngiang dibenakku. Sepertinya aku
tak ingin selalu bersama dengannya.
“Fer,
aku pergi ya, tapi kita pasti bertemu lagi kan?”.
“Ya
pasti tunggu aku ya!!!”.
Dengan berat hati akhirnya aku harus
berpisah dengan Ferry, mungkin tepatnya pulang dengan membawa kesedihan.
Setibanya di Bogor, aku seolah tak bisa melupakannya. Senyuman yang selama ini
aku lihat sepertinya hilang di benakku, tapi aku yakin dia akan datang
menghampiriku kembali. Aku akan terus menunggunya karena dia lah hidupku
menjadi berubah. Dan ternyata kebahagiaan itu muncul kembali, tepatnya hari
Kamis di Sekolah si Ferry mengagetkan aku dengan mengenakan seragam SMA Lab
School, betapa senangnya hatiku cintaku menghampiriku kembali. Aku tak dapat
menahan rasa rinduku dan akhirnya si Ferry memelukku dengan mesra. Inilah
hari-hari bahagia selalu bersama ku, aku dan Ferry.
Sumber : majalah wisanggeni SMAN
Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif,
kreatif dan mandiri
Edisi : Juni 2006
No comments:
Post a Comment