Thursday, 17 September 2015

Cinta ku bersemi di pantai Kute



Hari-hari yang melelahkan akhirnya tergantikan juga oleh liburan musim panas yang sangat mengasikkan, hari ini adalah hari Minggu dimana aku harus bersiap-siap untuk ikut mamaku ke pulau dewata.
            “Mira....mira...???” tiba-tiba mamaku memanggilku dan menyurusku untuk bersiap-siap, karena pesawat dari Bogor ke Denpasar akan berangkat pada pukul 15.30 sore ini. Langsung saja aku berkemas-kemas. Kami pergi ke pulau Dewata semata-mata bukan untuk berlibur melainkan untuk menghadiri pesta perkawinan teman mamaku yang bernama tante Dewi. Tante Dewi adalah teman semasa SMA mamaku yang juga mempunyai anak bernama Ferry, yang kebetulan adalah temanku semasa SMP.
            Sekitar jam 19.00 kami tiba di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Sembari menunggu waktu pernikahan tiba kami akan menginap di hotel Shang-Rila di pusat kota.
Malam ini aku menatap rembulan di pulau dewata, rasanya ingin sekali selamanya aku tinggal di pulai ini.
Keesokan harinya tepatnya hari Kamis tibalah kami harus check out meninggalkan hotel tempat kami menginap, dan melanjutkan perjalanan menuju hotel Paradise tempat resepsi pernikahan berlangsung, dan disinilah suatu tempat yang telah mengubah hidupku untuk selamanya. Di ruang resepsi akhirnya mama bertemu dengan tante Dewi, dan di tempat ini aku bertemu kembali dengan Ferry. Ferry tuch orangnya nyebelin banget tapi kalau diajak ngobrol dia nyambung juga sih. Tante Dewi tiba-tiba menyuruhku untuk ke ruang lobi bersama Ferry untuk menyambut kedatangan teman tante Dewi dari Australia.
            Selama menunggu di lobi, aku ngobrol sama Ferry, pertamanya sih sedikit serius tapi lama kelamaan sifat humornya Ferry muncul seperti dulu.
            “Mir...? kamu sekarang sekolah di SMA mana?” sembari memancingku untuk bicara.
            “SMA Lab School Bogor” jawabku sedikit senyum.
            “Apa ....???? aku akan dipindahkan ke SMA itu loh sama mamaku, ya kalau begitu kita akan seriing bertemu dong??”.
            “Wah, selamat ya...!!!”.
            “Makasih”.
Selang beberapa menit kemudian teman tante Dewi akhirnya datang juga.
            “Hello Ferry how are you?”.
            “I’m fine Mam!!”.
            “Where is your mam, Fer?”.
            “Oh yes, please follow me!”.
Ferry meninggalkanku sendirian di lobi tanpa mengajakku kembali ke ruang resepsi. Aku menunggu dia 30 menit tapi dia tak kunjung kembali.
            “Mir, sorry banget ya aku ninggalin kamu sendirian. Barusan mama menyuruhku menelpon papa, tapi ngomong-ngomong kamu manis juga kalau cemberut!!”.
            “Dih nggak lucu tau”.
Setelah sekian lama dengannya tiba-tiba muncul dibenakku tak taulah apa nama perasaan itu. Tak terasa puncak acara resepsi pernikahan telah usai dan waktunya kami untuk pulang ke Bogor. Malam ini juga kami akan meninggalkan Denpasar. Tapi tante Dewi menawarkan untuk menginap beberapa malam lagi di rumahnya. Karena ada satu hal yang akan dibicarakan dengan mamaku.
            Malam ini aku dan mama bermalam di rumah tante Dewi. Dan pembicaraan ku dengan Ferry yang sempat terputus kami sambung kembali.
            “Mir...nanti kalau aku sekolah di SMA yang sama dengan kamu, kamu seneng nggak?”.
            “Ya senenglah, kamu kan temenku”.
Sebenarnya sejak awal aku sudah mempunyai perasaan kepadanya tapi tak langsung ku ungkapkan karena aku dan Ferry baru bertemu lagi.
            “Mir, besuk malam kamu mau nggak aku ajak jalan-jalan”.
            “Kemana?”
            “Aku mau ajak kamu ke Pantai Kute, pemandangannya bagus loh apalagi indahnya bulan purnama, please mau ya!!!”
            “Ok, tapi aku ijin dulu sama mama?”.
Malam itu kontan aku tak bisa tidur soalnya aku merasa Ferry ingin mengatakan sesuatu kepadaku, ya memang sih Ferry itu cowok yang menurutku sempurna karena dia cakep, lucu, pinter...semuanya deh, apa coba yang kurang?. Hal itu yang sebenarnya membuat aku selalu ingat kepadanya. Malam tak terasa cepat berlalu, dan pagi telah menyambut. Memang sih mama telah berkata kepadaku akan menginap di rumah tante Dewi selama satu Minggu. Tentunya waktu ini tak akan ku sia-siakan.
            Malam ini langsung saja si Ferry mengajakku ke pantai Kute melihat indahnya bulan purnama.
            “Mir... nanti kalau aku sekolah di Bogor aku berharap sekelas dengan kamu yang juga jurusan IPA”.
            “Ya, aku harap begitu sih, beneran kamu akan sekolah di sana?”.
            “Beneran, aku nggak bohong”.
            “Ya deh aku percaya”.
            “kenapa kamu nggak percaya sama aku, jangan-jangan kamu suka ya sama aku?”.
            “Ih... ngaco deh kamu”.
Malam semakin larut, tiba-tiba kami terdiam.
            “Mir... ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum?”.
            “Kalau seandainya aku punya kenapa?”.
            “Ya nggak pa pa sih, aku Cuma nanya kok”.
            “Belum Fer, aku belum punya pacar kok.”
            “Emm... gimana ya, aku jadi rada susah ngomongnya, sejujurnya dari pertama aku melihat kamu sepertinya di hatiku timbul sesuatu perasaan gitu pokoknya bisa dibilang cinta gitu... ehm ehm Mir, kamu mau nggak jadi pacarku?”.
            “Apa perlu jawab sekarang?”.
            “Ya Mir aku perlu jawaban mu sekarang, please!!!”.
            “Kalau kamu benar-benar mau, kita jadi pacaran ehm.....okelah”.
            “Yessssss!!!, aku diterimaaaaaaaaaaaaa....”.
Malam itu tidak pernah aku lupakan ekspresi wajahnya saat pertama kali bertemu dengannya. Dan tanpa ku duga si Ferry membuat surprice untuk ku. Duarrr, duarrr... letusan kembang api bersahutan menambah indahnya malam di pantai Kute. Hari ini seperti mimpi bagiku, karena tak bisa ku bayangkan aku mendapatkan sesuatu yang baru dalam hidupku yang tak lain adalah Ferry. Seperti ini mungkin yang disebut sebagai “Cinta Bersemi di Pantai Kute”. Wah seru sekali cinta yang ku tunggu-tunggu akhirnya kutemukan di pulau dewata ini.
Waktu yang akhirnya harus memisahkan kami, hari sabtu tepatnya hari ini saatnya aku berpisah dengan Ferry, karena aku harus pulang ke Bogor bersama dengan mamaku. Sebenarnya aku masih belum rela berpisah dengan Ferry walaupun nanti kami akan bertemu lagi saat kami satu sekolah, karena senyumannya membuatku tergiang-ngiang dibenakku. Sepertinya aku tak ingin selalu bersama dengannya.
            “Fer, aku pergi ya, tapi kita pasti bertemu lagi kan?”.
            “Ya pasti tunggu aku ya!!!”.
Dengan berat hati akhirnya aku harus berpisah dengan Ferry, mungkin tepatnya pulang dengan membawa kesedihan. Setibanya di Bogor, aku seolah tak bisa melupakannya. Senyuman yang selama ini aku lihat sepertinya hilang di benakku, tapi aku yakin dia akan datang menghampiriku kembali. Aku akan terus menunggunya karena dia lah hidupku menjadi berubah. Dan ternyata kebahagiaan itu muncul kembali, tepatnya hari Kamis di Sekolah si Ferry mengagetkan aku dengan mengenakan seragam SMA Lab School, betapa senangnya hatiku cintaku menghampiriku kembali. Aku tak dapat menahan rasa rinduku dan akhirnya si Ferry memelukku dengan mesra. Inilah hari-hari bahagia selalu bersama ku, aku dan Ferry.

Sumber : majalah wisanggeni SMAN Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif, kreatif dan mandiri
Edisi : Juni 2006

No comments:

Post a Comment