“Kamu
pacarku bukan sih?”
Pertanyaan
itu membuat Dhana ngakak. Bukan apa-apa soalnya yang bertanya demikian adalah
Aska yang sudah dipacarinnya selama hampir
satu tahun ini. Lucu banget cewek ini. Pertanyaan ini tidak ada ujung
pangkalnya. Mungkin karena perut sudah lapar, jadi apa yang diomongin tidak
sikron dengan otak.
“Bukannya jawab malah ketawa.
Menyebalkan!”
Aska menghempaskan pantatnya
disamping Dhana. Siang terasa semakin terik karena hati Aska jadi ikutan membara
melihat pola pacarnya yang cuek itu. Untunglah semilir angin senantiasa terasa,
kalau tidak sudah ditinggalkannya Dhana sendirian.
Lihat saja wajahnya yang
cengengesan itu benar-benar membuat kesal.
“Dhan, kamu masih mau nggak jadi
pacarku?”
Aduh ... aduh Aska udah miring
kali ya, rengekannya itu lho.
“Memang kenapa? Sudah dapet yang
baru ya?”
Aska gondok. Ia selalu merasa tak
berdaya di depan cowok beralis tebal ini.
“Pertanyaan kamu kok aneh sih.
Jangan-jangan kamu yang udah nggak mau jadi pacarku?”
Jawaban diplomatis Dhana membuat
Aska kelimpungan. Kayaknya cowok ini masih belum mengerti arah pembicaraan
mereka.
“Kenapa sih dari tadi kamu
melotot terus. Kayak ikan koki di rumah aja. Jelek ... banget ...!
Pertanyaan Dhana yang terakhir
membuat Aska tersadar kalau Dhana memang tidak pernah berubah. Begitu santai,
Cuek, dan mandiri.
“To the point aja yah, apa kamu
sudah merencanakan acara khusus untuk Valentine kita?”
“Valentine?”
“Iya, Valentine”
“Apaan lagi tuh?”
“Dhana ...! kamu itu pura-pura
bego atau memang blo’on sih?”
Dhana mengangkat bahu.
“Itu sih kebiasaan bule-bule.
Disini gaungnya Cuma kedengeran di acara televisi atau cafe. Nggak umumlah?”
“Dasar norak! Semua pasangan
jaman sekarang merayakan hari kasih sayang dengan
spesial tau! Masa’ kita doang yang enggk, Dhan!”
Tuh kan kalau keinginan Aska
tidak dipenuhi maka Aska akan merengek manja. Dhana jadi terpengkur. Lama
banget baru ia jawab.
“As, aku nggak pernah punya
rencana untuk bervalentine berdua sama kamu. Ngapain
sih? Bukan malam Minggu lagi. Nggak asiklah”
Tampang Aska semakin mirip tikus
kecemplung got. Apa kata Galuh dan Dian bila tahu, hanya Aska yang tidak punya
rencana di hari kasih sayang.
“jangan paksa aku untuk melakukan
hal yang tidak sesuai dengan nurani aku dong,
As. Masa’ gara-gara Valentine kita jadi berantem?”
Bibir Aska mulai maju beberapa
sentimeter.
“Beri alasan yang masuk akal dong
supaya aku bisa nerima”
‘Duh manjanya gadisku’. Ujar
Dhana dalam hati.
“Pertama aku sayang kamu dan
nggak perlu nunggu Valentine untuk bersayang- sayangan.
Iya kan?”
“Dhana ... kamu tuh...”
“Kedua, aku memang nggak pernah
berencana untuk merayakan Valentine berduaan
sama kamu. Itukan mubadzir”.
“Kamu keterlaluan”. Sela Aska
“Ketiga, kalau dipaksain, emangnya
mau ngapain sih? Makan berdua sudah sering,
ngasih kado baru bulan lalu, nge-date juga udah biasakan. Nonton doang kayaknya nggak ada film bagus.
Jadi ...”
“Dhanaaa kamu jahat, aku sebel
sama kamu...sebelll...”
“Ya sudahlah!”
Aska berlari menjauh. Dasar nggak
romantis, kampungan, egois.
Aska masih
menunggu dengan harapan di detik terakhir Dhana akan memberikan surprice
padanya. Tetapi hasilnya konyol. Dhana santai-santai saja di sekolah padahal hari
ini kan tanggal 14 Februari dan seluruh siswi di kelas Aska memakai korsase
pink untuk memperingati Valentine’s Day.
“As, kamu nanti ada praktikum
nggak?” tanya Dhana ketika lewat di depan kelas Aska. Itu juga kebetulan. Sebenarnya dia mencari
Candra, teman sekelas Aska.
“Ada”
“Mau ditungguin pulangnya?”
“Nggak usah, aku pulang sendiri
aja. Kamu pulang duluan deh!”
“Ya udah, daah!”
Tuch kan gimana nggak ngeselin
tuch cowok, percuma saja menunggu Dhana sampai malam. Cowok itu tetep tidak
datang. Akhirnya Aska menangis sendiri. Ada benci, kesal, marah, malu jadi satu
bercampur aduk di dadanya. Bahkan telphon pun tidak dilakukan Dhana untuk
sekedar menghiburnya.
Diliriknya jam dinding kamar.
Sudah pukul 9 malam. Mungkin sudah ada harapan Dhana akan memberikan kejutan
yang luar biasa yang tidak pernah diduganya. Walaupun hanya muncul setengah jam
saja, rasanya itu sudah cukup.
Tetapi...
Kembali Aska menangis. Sampai
pukul 11 malam, tidak ada sedikitpun kemunculan Dhana dirumahnya. Aska merasa
menjadi cewek termalang di dunia. Dia punya pacar tapi tidak diperhatikan.
Akhirnya Aska tidur dengan membawa kejengkelan yang mendalam. Rasanya ia tak
mau bangun lagi untuk bertemu dengan tampang jelek itu besuk pagi.
Tok... tok ... tok ...
Masih berat sekali mata ini
rasanya. Sudah pukul 6 pagi. Aska menggeliat di tempat tidurnya.
“Aska mau sekolah tidak?”
Suara mama di luar
mengingatkannya kalau hari ini masih hari Rabu. Masih hari biasan yang padat
dengan belajar dan belajar. Apalagi kalau tidak salah masih ada Pe-er yang
harus diselesaikan. Gara-gara nungguin Dhana semaleman.
“Iya, ma. Sebentar lagi”
Aska buru-buru membereskan tas
sekolahnya. Untung pekerjaan rumah yang diberikan bu Rena tidak terlalu susah.
Ia hanya butuh waktu lima belas menit untuk menyelesaikannya. Sambil menyeruput
susu, Aska segera mencangklong tas sekolah.
“Lho sarapannya kok tidak
dimakan?” tanya Mama heran.
“Telat nih Ma, entar aja
disekolah
“Nggak mungkin telat kok, kan
udah ada yang jemput!” sahut Papa.
“Maksud Papa?”
“Dhana...”
Nama itu membuat Aska tersedak.
Ngapain lagi Dhana pagi-pagi sudah muncul di rumahnya. Hhh, pasti dia mau
berbaikan denganku.
“Mau minta maaf? No way! Tidak
akan. Tidak akan” gerutu Aska.
Setelah
berpamitan dengan kedua orang tuanya, Aska keluar menghampiri cowok itu. Tetapi
...
“Mana motor kamu Dhan?”
“Nanti aku ceritain. Tapi kamu
lagi ingin naik mobil ini kan?” Tanya Dhana sambil mempersilahkan gadisnya,
masuk Honda Jazz miliknya.
Azka tersenyum malu.
Lima menit pertama Aska masih
gengsi, untuk memulai percakapan. Tetapi ketika diliriknya Dhana yang tetap
konsentrasi melihat kedepan, ia tidak tahan juga. Dhana memang selalu bikin
penasaran.
“Mana motor kamu Dhan?” ujar Aska
mengulang pertanyaan nya.
“Sudah dijemput pakai mobil kok
masih nanyain motor”
“Habis kamu...”
“Sebelumnya aku tanya dulu, masih
marah nggak sama aku?”
“Oooohh”
“Ya masih, aku masih kesel banget
sama kamu!”
“Ooohh”
Tiba-tiba saja Dhana ngerem
mobilnya, membuat Aska spontan menjerit karena kaget.
“Apa-apaan sih?”
“Motor ku agak rusak. Diserempet orang
kemarin malam”
“Ya ampun! Kenapa?”
“Mau ke rumah kamu, nggak taunya
malah kecelakaan”
“Aduh kasihan banget. Tapi kamu
nggak kenapa-napa kan?”
Aska merasa kasihan sekaligus
girang setengah mati. Ternyata Dhana nggak secuek yang dikira.
“Sakit juga sih. Untung aku nggak
ngebut, jadi Cuma ngilu doang di mata kaki dan dengkul.
Lumayan juga sakitnya”
“sekarang udah baikan kan?” tanya
Aska prihatin.
Dhana hanya mengangguk sedikit.
“Ini untuk kamu”
Seikat bunga mawar putih diambil
Dhana dari jok belakang. Aska merasa terkejut ternyata Dhana bisa romantis juga
kok. Gara-gara tidak mau mengecewakannya di hari Valentine sampai-sampai
tabrakan segala.
“Makasih ya, Dhan!”
Dhana tersenyum dan mengangguk
seraya menjalankan kembali mobilnya.
“Wah, kita pasti telat nich
sampai di sekolah”
“Biarin!”
“Kamu siap dihukum sama guru
piket?”
“Nggak pa pa”
“Nanti diledekin sama temen-temen
lho, terlambatnya kok berdua sama pacar”
“Biarin!”
Mendengar jawaban ringan dari
Aska, Dhana mengacak rambut Aska dengan sayang. Hati Aska berbunga-bunga.
Ternyata Dhana itu baik dan cinta padanya. Saking senangnya ia jadi ingin
mendengar sendiri dari mulut Dhana mengenai kedatangannya tadi malam.
“Memangnya semalem kamu mau
kerumah mau ngapain?”
“Pinjem buku”
“Pinjem buku???”
“Iya, soalnya aku butuh banyak
literature untuk pelajaran Bu Maya hari ini!”
“Ya enggaklah. Kan aku udah
bilang kalau Valentine itu nggak berarti apa-apa!”
Aska melongo. Haruskah ia
menangis? Sialan. Dhana memang sialan.
Sumber : majalah wisanggeni SMAN
Tempeh-Lumajang
Penampung aspirasi yang inovatif,
kreatif dan mandiri
Edisi : Maret 2006
No comments:
Post a Comment